Cinta dan Kebudayaan

Cinta dan Kebudayaan

 

            Saat terlahir manusia otomatis menjadi bagian suatu masyarakat. Ketika tumbuh besar pun mereka akan menggunakan produk budaya masyarakat tersebut, seperti: bahasa, peralatan hidup, dan adat-istiadat. Budaya memengaruhi banyak aspek perilaku individu tidak terkecuali romansa. Budaya menentukan tuntutan sosial macam apa yang mesti dipenuhi seseorang dalam percintaannya. Budaya bahkan ikut memengaruhi bagaimana gaya komunikasi yang pantas dalam asmara. Ada budaya yang menginginkan anggota masyarakatnya mematuhi semua perintah serta anjuran agama dalam romansa namun beberapa justru membebaskan lantaran menganggap asmara sepenuhnya urusan pribadi.

 

Pengantar

            Menurut Prof. Koentjaraningrat kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “Buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti akal. Maka kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Budaya adalah daya akal berupa cipta, rasa, karsa sedangkan kebudayaan merupakan hasilnya. Dalam proses mempelajari atau menerima suatu budaya, individu bakal menggunakan beragam simbol terpadu. Simbol ialah sesuatu yang mewakili makna. Simbol bisa berupa kata, motif pakaian, gerakan tubuh tertentu (i. e cium tangan), atau gambar. Dalam romansa pun penggunaan simbol yang mengacu pada suatu kebudayaan adalah hal esensial. Interaksi asmara dibatasi oleh nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Budaya merupakan pedoman bagi tujuan akhir romansa sejoli. Artikel ini bakal membahas singkat apa saja korelasi antara budaya dan perkembangannya terhadap perilaku percintaan anak muda.

 

“Cinta tidak terletak pada pilihan kita melainkan dalam takdir.”

John Dryden

 

Romansa Dalam Ruang Sosial

            Nilai percintaan berbeda untuk tiap kalangan masyarakat. Kita yang tinggal di kota besar mungkin mengenal lebih dari satu status romansa pranikah, contohnya pacaran dan hubungan terbuka. Namun, ada lingkungan yang bahkan menolak adanya pacaran—yang mana otomatis meniadakan predikat jomblo. Lingkungan ini melarang cowok manapun lama-lama berpacaran dengan gadis dari kalangan mereka. Cowok yang berani mendatangi atau menjemput cewek dianggap sudah siap menikah. Gadis di kalangan ini biasanya berpendidikan rendah dan banyak yang kawin muda. Masyarakat seperti barusan umumnya tinggal di desa. Tapi, salah kalau anda berasumsi mereka kolot dan gaya romansa remaja kotalah yang maju serta paling membahagiakan. Kenyataannya justru mayoritas anak muda kampung di luar mereka pergaulannya lebih bebas dan eksploratif. Penampilan perempuan desa mungkin tidak semenarik cewek kota tapi rata-rata mereka bisa diajak bersetubuh.

Fakta di atas tidak sepenuhnya membuktikan bahwa “Westernisasi” terjadi hingga pelosok desa. Karena dalam prinsip romansa Barat sejoli dinyatakan pacaran jika mereka sudah berhubungan badan. Proses ini terbalik dengan yang ada di Indonesia. Kita harus jadian dulu lalu pacaran sebelum leluasa mengajak pasangan bersanggama. Walau begitu, pacaran tidak mesti diikuti percumbuan hal sebaliknya pun terjadi di Barat. Pergaulan antarlawan jenis bebas karena masyarakat yang permisif. Orang desa membiarkan anaknya berbuat apapun mungkin lantaran berpikir masa depan tidak bakal banyak berubah sekalipun ini-itu dilakukan. Sedangkan orang tua kota meski sebenarnya relatif membatasi tapi, panjangnya rentang waktu anak di sekolah atau luar rumah membuat kontrol terhadap pergaulan mereka sulit diterapkan. Ini diperparah oleh kondisi sosial perkotaan yang individunya masa bodoh satu sama lain.

Preferensi romansa suatu generasi terus berubah dan kian cepat seiring perkembangan media informasi. Jika tadinya adat asmara meniru atau diturunkan dari generasi pendahulu sekarang tidak lagi. Model romansa remaja kini menyalin apa yang ditonton namun masih dibatasi kepercayaan, norma, dan nilai yang umum dianut lingkungan mereka. Jadi ini lebih seperti sekadar asimilasi simbol-simbol asmara pokok (i. e pegangan tangan, bertukar benda kesayangan, dsbg) dari golongan lain. Saking kebut dan spesifiknya perkembangan zaman, kadang generasi remaja yang hanya terpaut usia tiga tahun saja gaya romansanya bisa agak beda. Ini dikarenakan kecenderungan anak muda yang senantiasa penasaran dan enggan bergantung pada saran/contoh pengalaman orang lain sehingga mereka menolak nilai dan tolok ukur lama. Remaja kemudian menyikapi ini dengan membentuk kebudayaan sendiri (youth culture).

 

Evolusi Sikap Asmara

Ucihasantoso sudah cukup banyak membahas kaitan antara kepribadian dan romansa namun belum luas menghubungkannya dengan budaya. Barat memandang perilaku individu murni berasal dari karakter sedangkan di Timur tidak. Kebudayaan bukan sifat namun terejawantah dalam perbuatan individu. Orang Timur tindakannya terikat oleh identitas sosial serta adat-istiadat. Masyarakat kita selalu mengasosiasikan kelakuan seseorang dengan suku-bangsanya. Karena memang tradisi Timur suka menghukum siapapun yang tumbuh berbeda dari kalangannya, misalnya orang Jawa tapi suaranya keras dan malas berbuat ramah. Nilai Timur menetapkan batas jelas untuk mengekspresikan kepribadian seseorang. Contohnya ada adat di Indonesia yang mendidik walau sekaya apapun manusia namun harus tetap sederhana namun, beberapa justru sebaliknya. Contoh lainnya ialah terdapatnya sejumlah tradisi yang melarang individu menunjukkan kemarahannya kecuali dengan sikap diam. Meski leluhur sulit memverbalisir maksud perintah itu tapi, setelah ditilik lebih dalam ternyata terkandung kearifan yang tinggi pada sikap marah-diam. Menahan mulut saat marah akan menghindarkan kita dari menyinggung orang terdekat.

Cinta pada zaman dahulu dibingkai oleh kerangka budaya yang tegas. Perempuan tidak harus berpendidikan karena nantinya pekerjaan mereka hanya mengurus rumah dan anak. Perempuan diajarkan cara menyeleksi laki-laki berdasarkan “Bibit, bebet, dan bobot” supaya nantinya dedikasi penuh mereka sepadan. Perempuan dulu dididik untuk pandai mengelola uang suami salah satunya lewat pembiasaan memasak. Namun, sekarang semua itu dianggap kuno. Cewek masa kini menganggap wanita karier lebih keren daripada ibu rumah tangga. Padahal di Barat, seperti yang dijelaskan di Sejarah Romantisme, untuk memantapkan profesi ibu rumah tangga perlu adanya evolusi ekonomi yang panjang. Ibu rumah tangga ialah respons terhadap tingginya pendapatan suami sehingga istri tidak usah lagi ikut kerja dan bisa tenang mengurus buah hati mereka. Secara kasar bisa dibilang sekarang ini banyak pernikahan sesama gender tapi beda jenis kelamin.

Namun, fenomena di atas tidak bisa dibilang buruk juga lantaran, memang keluarga menengah membutuhkan kapital yang besar agar rumah tangga mereka makmur dan anak-anak bisa berpendidikan layak. Asal jangan pengasuhan anak dititip ke “Baby sitter” atau bahkan pembantu! Karena kalau anda tidak percaya menitip tas mahal penuh uang ke pembantu kenapa anak bisa? Kira-kira bakal jadi apa anak anda kelak bila yang mendidiknya lulusan SD ketimbang Ibunya yang S1? Cewek generasi kini dan selanjutnya mesti kembali membiasakan mengasah keterampilan kewanitaan dibanding bersolek dan mengunggah foto ke media sosial! Setidaknya itu harapan saya. Cewek harus pula memiliki setumpuk keunggulan dari mulai intelektualitas, spiritual, manajemen emosi, sampai bakat keibuan! Cewek mesti memberi nilai tambah pada hubungan apapun yang disentuhnya! Kenapa cewek yang dikedepankan? Karena ceweklah penentu keseluruhan model romansa generasinya sedangkan cowok hanya pelaksana saja. Cowok baru mampu memimpin asmara jika cewek mengikutinya.

 

 Media Sosial dan Romansa

            Pada zaman dulu banyak orang yang menulis buku harian. Hal sama pun sebenarnya makin tren kini hanya saja dengan format beda, media sosial. Sekarang kita bisa saling mengomentari catatan pribadi dan bukannya merasa risih remaja justru kecanduan. Lebih aneh lagi saat anak muda mengekspos perasaan terdalam mereka (i. e galau) dan berharap ditanggapi teman-temannya. Mungkin ini akibat kondisi relatif anonim di mana seseorang tidak bisa dikenali atau deindividuasi. Anonim pada konteks di atas merupakan keadaan saat individu tidak nampak langsung zahirnya melainkan hanya diwakili identitas dunia maya. Deindividuasi menurut Zimbardo memperlemah kepedulian manusia terhadap evaluasi dan kontrol diri yang normalnya didasari oleh malu, rasa bersalah, atau ketakutan. Media sosial juga telah radikal mengubah pola interaksi asmara. Kalau dulu saking gugupnya sejoli, gigi mereka dapat bergemerutuk menahan grogi berdekatan satu sama lain. Sekarang itu mungkin hanya tinggal setengahnya lantaran segala hasrat untuk bertutur-cerita dapat terpuaskan lewat media sosial. Keuntungan lainnya teknologi ini adalah anda bisa sekalian pamer ke kawan-kawan yang jomblo.

Namun dampak buruk membuminya media sosial ialah lunturnya unggah-ungguh dalam percakapan. Media sosial tidak mengajarkan kita adat basa-basi, cepat memilih kata yang hendak diucapkan, atau mengutarakan ide secara langsung. Media sosial malah membuat orang yang cemas bermasyarakat makin kaku karena senantiasa perhatiannya tertuju pada HP. Media sosial merupakan hiperealita romansa: jomblo bisa nampak lebih kesepian dari sebenarnya sedangkan, yang berpasangan pun dapat terkesan amat mesra dan akrab padahal kenyataannya tidak. Budaya leluhur memang mengenal menulis jurnal dan komunikasi tidak langsung lewat surat tapi, mereka ‘tak pernah terpikir itu kini jadi satu. Tentunya ini bakal melahirkan anomi pada interaksi remaja. Mereka sekarang harus memutuskan sendiri prosedur untuk menyeimbangkan antara pergaulan maya dan nyata. Media sosial, adat dan nilai lokal, bersama sifat khas anak muda pada gilirannya bakal membentuk budaya pop suatu bangsa.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Handout Psikologi Sosial 2” dan artikel Hubungan Adat Dengan Kebudayaan dan Agama, Unsur-Unsur Universal Budaya, Pengertian Simbol: Apa Itu Simbol?, serta banyak artikel lainnya.

 

Daftar Pustaka:

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers. Cervone, D. & L. Pervin (2012). Kepribadian: Teori dan Penelitian. Jakarta: Salemba Humanika.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: