Tips Romansa Untuk Anak Rumahan

Tips Romansa Untuk Anak Rumahan

 

            Banyak alasan kenapa individu lebih senang berdiam di rumah ketimbang kelayapan. Ada yang memang hobinya main PS atau PC seharian; malas pergi jika tidak penting; puas main dengan teman sekomplek atau karena memang di rumahnyalah kawan-kawan biasa berkumpul—jadi tidak perlu ke luar jauh-jauh. Masyarakat luas memandang anak rumahan kurang gaul, manja, pemalu, penyendiri, serta kurang bahagia padahal tidak sepenuhnya itu benar. Individu lebih betah di rumah, selain sebab beberapa hal di atas, bisa pula lantaran kecenderungan kepribadiannya. Terlepas dari segala fakta dan anggapan barusan, watak anak rumahan kadang membawa masalah saat menjalin asmara. Ini bisa datang dari overfokus mereka terhadap sesuatu, cepatnya galau karena sering sendirian, atau musabab lainnya.

 

Pengantar

            Anak rumahan sesekali merasa aneh pada dirinya. Kenapa ia tidak bisa gembira dengan cara orang yang siang-malam kumpul dengan teman walau ‘tak ada kerjaan? Anak rumahan tidak butuh kenalan berlimpah. Mereka cukup dengan lingkaran sosial yang berisi tiga sampai sepuluh sahabat yang benar-benar dekat. Anak rumahan mencintai kekasihnya dengan penuh perenungan. Tapi karena kebutuhan mereka akan waktu menyepi (me time) yang besar, pacar anak rumahan acap merasa diabaikan. Anak rumahan menyadari kenikmatan terbesar romansa terletak pada interaksi di media sosial. Sebab di sanalah tempat mereka meningkatkan kebahagiaan menuturkan pikiran. Selain masalah alokasi waktu untuk pacar, sebagian anak rumahan juga cenderung lebih gugup selama kencan ketimbang mereka yang suka keluyuran. Mungkin itu lantaran kurangnya contoh romansa dari teman. Artikel berikut berisi saran-saran sederhana supaya anak rumahan mulus membina asmara.

 

“Kita semua terlahir untuk Cinta. Sebab, itulah prinsip eksistensi dan satu-satunya akhir.”

Benjamin Disraeli

 

Karakter

            Anak rumahan umumnya memiliki kepribadian introvert atau ambivert. Introvert senang akan ketenangan, imajinasi, observasi, dan menulis. Ambivert adalah kepribadian antara ekstrovert dan introvert. Ambivert memiliki kecenderungan introvert-ekstrovert dalam rentang 40:60 hingga 60:40. Mereka bergaul seperti ekstrovert seraya tetap memelihara jarak emosional (proxemic) dan kehati-hatian percis introvert. Anak rumahan, karena mereka introvert atau ambivert, lebih memilih bekerja sendirian—berkolaborasi dalam grup hanya bakal menguras energi psikis mereka. Anak rumahan berkepribadian ambivert pemikir yang memiliki keahlian sosial baik kadang tidak menyukai orang-orang terlalu terpukau pada spesialisasinya. Karena mereka malas diandalkan individu lain di luar lingkup keprofesiannya. Dalam suatu kelompok, ambivert pemikir cenderung ingin berperan layaknya bidan yang membantu sekitarnya mengeluarkan potensi mereka. Ambivert pemikir adalah mereka yang mementingkan penampilan dan punya prinsip yang tegas-jelas-rasional. Ini beda dengan ambivert pemurung (moody) yang suasana hati atau keputusannya mudah berubah karena kepribadian mereka yang merupakan pertemuan ekstrovert-introvert bercampur sifat perasa. Anak rumahan dengan karakter ambivert pemurung adalah mereka yang paling rentan galau.

            Anak rumahan yang introvert punya kesulitan dalam bergaul karena mereka sejatinya adalah pendengar/pengamat bukan pembicara yang aktif. Mereka tidak bisa bersosial secara heboh dan ekspresif seperti para ekstrovert. Ciri anak rumahan introvert dan ambivert dapat dilihat dari arah kecondongan tulisan tangan mereka. Introvert memiliki tulisan yang miring ke kiri; ambivert tegak lurus (vertikal).

Kemiringan tulisan

Busur kemiringan tulisan

 

Contoh tulisan tegak lurus (1)

Contoh tulisan tegak lurus (1)

 

Contoh tulisan tegak lurus (2)

Contoh tulisan tegak lurus (2)

 

Contoh tulisan miring ke kiri (1)

Contoh tulisan miring ke kiri (1)

 

Contoh tulisan miring ke kiri (2)

Contoh tulisan miring ke kiri (2)

 

Anak rumahan umumnya memiliki waktu keluarga (family time) yang berlimpah. Pada banyak kasus, anak rumahan teridentifikasi memiliki ikatan batin yang jauh lebih kuat dengan figur Ibu ketimbang Ayah. Anak rumahan yang introvert bagus dalam percakapan satu-satu. Tapi, mereka lazimnya hanya bakal menanggapi anda jika obrolan tersebut adalah bidang favoritnya. Jika tidak maka, mereka cuma akan menyimaknya saja. Ini sebab anak rumahan yang introvert dan ambivert sama-sama suka bertapa guna menekuni hobinya. Jadi, wajar gembira bila ada orang yang mengerti suatu yang mereka dalami.

            Anak rumahan yang introvert menjalani harinya dengan serius, menyukai keteraturan, dan menjunjung nilai etika yang tinggi. Anak rumahan yang ambivert cenderung pragmatis. Mereka melakukan sesuatu berdasarkan fungsi dan prioritasnya saja. Baik anak rumahan yang introvert dan ambivert sama-sama senantiasa merencanakan segala kegiatan mereka. Anak rumahan yang ambivert terkesan sangat ceria ketika bergaul padahal itu merupakan kompensasi mereka terhadap kesendirian yang panjang. Anak rumahan yang ambivert sangat senang bersosialisasi namun biasanya hanya dalam cakupan kampus, sekolah, atau tempat kerjanya. Selebihnya mereka harus langsung pulang ke rumah untuk mengisi ulang energi psikis yang terpakai ketika berperan sebagai ekstrovert.

 

*Untuk mengetahui apakah introvert atau ekstrovert anda dapat mengikuti tes MBTI atau introvert-extrovert-ambivert personality quiz yang ada di sini.

 

Usulan

            Ada beberapa hal simpel yang dapat anak rumahan coba untuk memperbaiki nasib romansa mereka. Sebagian sifatnya sosial sedangkan sisanya urusan intrapersonal. Penjelasan di bawah tidak bakal terlalu praktis melainkan sedikit abstrak. Berikut, uraiannya:

 

  1. Belajar mengobservasi segala hal

Apa yang kalian perhatikan saat ada di tempat asing atau baru? Bingung karena anda biasanya hanya jalan saja? Mulai sekarang cobalah untuk mengingat lebih banyak detail di sekitar anda! Ini berguna untuk melatih kepekaan terhadap berbagai hal di dunia. Cobalah ingat di jalan mana tempat yang anda kunjungi terletak! Bangunan apa yang ada di hadapan dan kanan-kirinya? Apakah bentuk trotoar di sana berbeda dengan yang ada di dekat rumah anda? Mulailah untuk lebih ingin tahu! Itu barusan adalah anjuran ketika anak rumahan melancong atau bepergian. Kemampuan menyimak harus pula diasah ketika mendengarkan orang lain!

Banyaknya substansi yang memenuhi alam sadar mesti diimbangi pengetahuan ilmiah! Itu supaya kita dapat mudah menemukan korelasi, interpretasi, atau asumsi perihal suatu fenomena, misalnya mengenai postur badan. Cewek yang berlalu-lalang adalah bank data berjalan. Amati mereka! Tebaklah dari wajah dan lekuk tubuhnya apakah perempuan di dekat anda sudah punya anak, masih gadis, wajah tua padahal ABG, atau lain sebagainya! Kebiasaan memerhatikan detail akan membuat anak rumahan seolah punya pengalaman hidup yang panjang. Ini bisa jadi referensi anda dalam menilai cewek. Contohnya saat cewek menyebutkan kalau ia besar di pinggiran kota yang berpenduduk mayoritas pegawai. Anda dapat menerka masa remajanya mungkin tidak akan dipenuhi hal liar dibanding jika cewek ini tumbuh di pemukiman miskin yang kumuh. Bakal ada lebih banyak lagi korelasi yang bisa dijalin saat kemampuan observasi anda sudah mumpuni.

 

  1. Memanfaatkan kesempatan bersosialisasi semaksimal mungkin

Anak rumahan secara mental menjatah diri untuk berinteraksi dengan dunia luar. Ini mengakibatkan skil sosial anak rumahan tidak cukup baik setidaknya dalam pergaulan sebaya. Tapi itu masih bisa diakali. Anak rumahan dapat mensugesti lawan bicaranya supaya lebih terbuka dan santai lewat senyuman. Namun biar begitu jika teman mengobrol anda bukan orang yang secara intelektual setara, percakapan tidak bakal berkembang atau bertahan lama. Itu lantaran anak rumahan, seperti paparan di atas, umumnya adalah para introvert dan ambivert yang serius. Walaupun memasang wajah ramah tapi omongan tetap berat. Pilihan tema perbincangan begini tidak akan menggerakkan mereka yang terbiasa berbicara kosong.

Naluri komunikasi anak rumahan mungkin baiknya disalurkan pada orang-orang yang lebih tua. Mereka adalah teman bicara yang asyik untuk individu dengan pengetahuan sepadat anak rumahan. Anak rumahan juga biasanya berteman dengan gerombolan “Gamer”. Ini karena mereka mengerti lelucon spesifik anak rumahan seputar hal-hal yang ada di internet atau permainan dalam jaringan (online). Anak rumahan tidak mesti sesempit ini dalam bermasyarakat. Mereka dapat memanfaatkan kebiasaan mengobservasi untuk menaksir potensi pertemanan baru. Anak rumahan juga tidak perlu meniru gaya bersosialiasi para ekstrovert atau mereka yang hobi keluyuran! Sebab bukan tidak mungkin kawan seabrek yang dipunya individu ekstrovert itu artifisial. Dianjurkan pula bagi anak rumahan untuk sering-sering mengajak berbincang individu ‘tak dikenal kalau sedang bepergian! Karena bila sudah leluasa melakukan ini di manapun tidak bakal ada lagi rasa ragu bergaul. Akhirnya, diproyeksikan dengan bertambahnya esensi pengalaman bersosialisasi, anak rumahan tidak bakal lagi menemui kesulitan yang berarti dalam menyeimbangkan interaksi romansa.

 

  1. Mengetahui potensi daya tarik diri

Anak rumahan adalah tipe manusia yang cepat bijak di usia muda. Bisa jadi itu disebabkan bawaan kontemplatif para introvert dan ambivert yang notabenenya anak rumahan. Karakter ini secara alami mendorong mereka berpikir panjang sebelum bertindak. Akibatnya ketika nanti dewasa anak rumahan akan merasa seperti kekurangan pengalaman pribadi dibanding mereka yang impulsif atau tukang kelayapan. Anak rumahan di masa dewasanya juga kelak beranggapan hidup mereka terlalu lurus. Saking pemikirnya anak rumahan, acap kali mereka malah takut atau menghalangi diri dari hal-hal baru yang positif. Namun ternyata inilah keunggulan utama anak rumahan. Mereka bisa digolongkan sebagai individu konsisten serta tahu cara menghargai hidup atau kesempatan. Hanya sayangnya, kerap kali sikap-sikap ini bercampur sifat keras kepala dan picik.

Anak rumahan yang pernah punya pacar berperangai tertentu kadang pula terlampau mengeksploitasi pengalaman tersebut sehingga membiaskan konstruk romansanya sendiri. Ujungnya, beberapa dari mereka ada yang terjangkit trauma asmara, mudah merasa akan dikecewakan, atau gampang galau. Anak rumahan harus disadarkan bahwa pesona seseorang dipengaruhi oleh kejelasan penyusunan konstruk diri. Mereka juga patut paham bahwa penampilan adalah bagian dari sikap! Kedua hal tadi tidak dinilai orang sekitar anda sebagai unsur terpisah. Sikap individu dimulai dari keyakinannya terhadap dunia. Jika anak rumahan berpikir bahwa tiap orang memiliki potensi untuk mengaguminya maka mereka bakal berusaha bergaul atau, minimalnya, ingin tahu mengenai insan tersebut. Sikap mau memikirkan orang lain serta kecenderungan untuk bijak di umur muda ialah modal penting anak rumahan untuk menggali daya tarik diri. Mereka sebaiknya sadar dan memaksimalkan itu!

 

  1. Belajar mengomunikasikan isi pikiran

Komunikasi sesungguhnya bukan tentang berbicara atau menyampaikan sesuatu. Tapi komunikasi adalah soal bagaimana membuat orang lain mau menerima dan mencerna pesan kita. Itulah sebabnya sebelum individu berkampanye ia harus membangun terlebih dulu citra diri. Tujuannya agar calon pemilih menganggap baik orang itu lalu diharapkan mau mendengar visi-misinya. Anak rumahan mesti menyentuh minat atau menyamakan frekuensi pikiran dengan orang lain sebelum mulai mengutarakan ide mereka! Hal ini berlaku ke semua orang—termasuk cewek. Keajekan mengemukakan pesan tidak terlepas pula dari keahlian bergaul. Anak rumahan seyogianya jadi diri sendiri dengan tidak mengharap orang memberi ekspresi tertentu pada cara komunikasi mereka.

Anak rumahan dalam berinteraksi wajib dapat membedakan antara “Mengobrol” dan “Wawancara”. Mengobrol adalah komunikasi di mana dua orang atau lebih saling bertukar keterangan. Sedangkan dalam wawancara arus informasinya hanya searah—dengan kata lain, walaupun terjadi percakapan namun lawan bicara tidak mau balik bertanya ke anda. Pemahaman tadi bakal membantu anda menyeleksi mana cewek yang asyik diajak mengobrol dan tidak. Anak rumahan pula bisa mulai mengasah kemampuan mengungkapkan pikiran mereka lewat membaca yang dilanjutkan dengan menulis. Namun itu tidak bakal berdampak nyata jika belum dibarengi optimasi pengalaman bersosialisasi. Karena inilah sebenarnya jeda antara mulut dan otak.

 

*Artikel ini mengutip rujukan artikel Introvert or Extrovert? Most of Us Are Ambiverts, Pentingnya Mengenal Diri Sendiri, 3 Jenis Kepribadian Manusia (Introvert, Ambievert, Extrovert) dan Ciri-cirinya, Kepribadian Introvert? Ciri-cirinya Kayak Gimana, ya??, Plus & Minus Si Anak Rumahan, serta banyak artikel lainnya.

 

Daftar Pustaka:

Amend, K. K. dan Mary S. R. (2010). Handwriting Analysis. Jakarta: BIP.

Buckley, Susan (2008): Buku Pintar Bahasa Tubuh. Jakarta: Cerdas Pustaka.

Lowndes, Leil (2011). The Magic of Connection. Jakarta: Ufuk Publishing

 

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: