Beberapa Aliran Dalam Romansa

Beberapa Aliran Dalam Romansa

 

Apa tujuan romansa anda? Sekedar punya pasangan? Ingin menyempurnakan iman? Semata mencari kenikmatan atau lebih rumit dari itu semua? Cinta adalah alam liar di mana kegairahan bercampur taktik, intrik, dan prinsip-prinsip yang khas. Apakah Cinta mengendalikan manusia atau sebaliknya? Pertanyaan barusan merupakan awal bercabangnya mazhab romansa. Perkembangan suatu paham Cinta sejalan dengan tingkat peradaban suatu bangsa. Masyarakat yang maju sudah bisa menciptakan romansa yang kreatif dan sesuai kebutuhan tiap individu. Sedangkan kaum yang dalam masa transisi masih terikat budaya leluhur serta haus legitimasi romansa dari media. Arah tumbuh tren percintaan suatu generasi di sebuah tempat kadang pula tidak dapat hanya digolongkan maju atau transisi. Sesekali kita mesti pula memahami apakah Cinta bagi mereka didasari akal manusia atau aturan Tuhan. Inilah yang kelak membedakan norma percintaan di tiap masyarakat.

 

Pengantar

Sebuah aliran romansa terbentuk sebab adanya para pribadi yang bertingkah asmara serupa, yang mana pola sifatnya itu kontinu atau telah dianggap layaknya adat-istiadat. Tingkah inilah yang mencirikan kehidupan masing-masing penganut mazhab romansa secara umum. Seseorang mulai memilih prinsip romansanya ketika remaja. Penetapan pilihan senantiasa dilatari keyakinan/dogma, tekanan sosial, atau murni telaahan akal. Paham Cinta apa yang dianut individu rupanya pula dipengaruhi tingkat perkembangan kognitif. Kian tinggi level kedewasaanya makin abstraklah hal yang mampu dimengerti seseorang dari Cinta. Manusia menganut gaya romansa tertentu tidak terlepas juga dari kebutuhan terhadap solusi asmara. Artikel ini khusus untuk menggambarkan sekilas sejumlah golongan romansa di kalangan anak muda.

 

“Kegilaan temporer dapat disembuhkan dengan pernikahan.”

Ambrose Bierce

 

Interaksi Ide

Tiap mazhab punya dasar pemikiran yang berbeda, kuatnya argumen dan kemudahan dalam mempraktikkan ajaran merupakan ukuran seberapa lama mereka bertahan. Misalnya dalam romansa, minta “Channel” dari kawan terbilang lebih mudah ketimbang harus berkenalan langsung di tempat umum. Walaupun berkenalan langsung dinilai lebih bergengsi tapi, ini jarang cowok lakukan lantaran ketidakberanian. Argumen yang menyertai metode PDKT langsung lebih bagus dibanding yang hanya cari “Channel” namun tetap sedikit diikuti sebab sulitnya dipraktikkan.

Suatu argumen aliran juga bakal ditolak jika jauh dari pandangan pribadi, lebih lagi bila ada keterlibatan ego dalam sangkalan tersebut. Contohnya seperti individu yang bebas dan hedonis akan cenderung menolak pemahaman religius terhadap kehidupan. Si hedon berpendapat bahwa hidup hanya sekali maka yang dicari mestilah kesenangan sedangkan, si alim mengimani kefanaan dunia serta menganggapnya semata persinggahan dalam mengumpulkan bekal akhirat. Si alim menginginkan ketenangan batin sementara si hedon rela mengorbankannya demi kebahagiaan sesaat. Pengalaman seorang hedon mengenai beberapa insan alim yang masih ‘tak lepas dari skandal kadang pula menggerakan egonya untuk makin menjauhi religiositas. Efek sama juga dapat berlaku pada si alim yang pernah menyaksikan kisah tobat para hedon.

Mazhab senantiasa menyediakan penjelasan bagi banyak hal yang ada di luar ajarannya. Seperti Aliran PUA yang memandang bahwa tembak-menembak adalah suatu bentuk kelemahan pria. Kaum Adam sepatutnya memimpin dan tidak menyerahkan keputusan pada wanita. Metode ini dianggap bukan ciri pria idaman. Paham PUA yang lahir di barat merupakan kumpulan pengetahuan dan pengalaman menggaet perempuan di lokasi hiburan malam. Namun, gaya mereka belakangan telah meluas hingga cara PDKT langsung di siang hari (day game). Aliran ini sampai ke Indonesia dan mengalami sedikit adaptasi. Karena PUA berasal dari barat maka, kultur logika dan individualisme lebih kental dibandingkan budaya pacaran yang utamanya meniru pernikahan. Aliran PUA tumbuh melalui kreativitas serta perenungan eksitensialisme sementara ide pacaran cuma mencontoh tayangan sinetron. Baik tidak keduanya, bagi anda, tergantung apa konteks mereka.

 

Kumpulan Tipe
            Semua aliran memiliki tujuan, ajaran, ritual, dan cirinya masing-masing. Populasi mereka dipengaruhi oleh keadaan sosial lingkungan yang khas. Seperti di pedesaan aliran A mungkin lebih dominan tapi di kota bisa jadi B yang banyak penganutnya. Berikut, uraian mengenai ciri mereka:

 

Aliran islamiah

Islam tegas melarang adanya interaksi asmara di luar pernikahan. Dalam Al-Isra ayat 32, Tuhan mengharamkan umatnya untuk mendekati apalagi melakukan zina. Ayat itu berbunyi “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” penilaian baik-buruk itu sendiri haknya Tuhan. Hubungan intim suka rela dalam hukum barat dianggap tidak melanggar karena pihak yang dirugikan nihil, beda dengan Islam yang mengategorikannya sebagai zina. Ini sebab hukum barat utamanya bersandar pada logika humanis (anthropo-sentris) bukan firman ilahi. Sanksi bagi pezina dalam Islam berbeda-beda: Bagi yang lajang dicambuk; yang sudah menikah bisa dirajam hingga tewas. Tapi hukuman itu sendiri ‘tak akan diterapkan selama kondisi lingkungan belum mendukung: Misal seperti karena masih maraknya peredaran pornografi atau banyaknya rumah bordil. Sanksi cambuk atau rajam tidak untuk menganiaya melainkan memberi pendidikan pada masyarakat.

Islam memahami bahwa mendekati atau melakukan zina tidak bakal mengantarkan manusia pada kebaikan sesungguhnya. Buktinya, baru mendekati saja (pacaran) sudah berdampak mental gampang galau dan ketergantungan motivasi luar. Nabi bersabda, ”Wahai sekalian pemuda, siapapun di antara kalian yang telah mampu menikah maka menikahlah karena menikah itu bisa menjaga pandangan dan menjaga kemaluan. Jika kalian belum mampu maka banyak-banyaklah berpuasa! Karena puasa itu perisai (terhadap syahwat).”. Nabi terang menyeru agar bagi pemuda yang merasa telah sanggup lahir-batin untuk menikah. Tidak pernah nabi menganjurkan latihan dulu (pacaran) supaya siap serta bahagia saat menikah kelak. Islam mengajarkan setumpuk etika pergaulan antar lawan jenis yang tujuannya demi mengangkat harkat manusia. Unggah-ungguh tersebut amat detail hingga mengatur cara menatap, berpakaian, dan menggerakkan anggota tubuh (pada wanita). Maksudnya ‘tak lain mencegah kian tersulutnya gairah anak muda yang sedang penasaran pada lawan jenisnya. Romansa di luar nikah juga diharamkan Islam lantaran membuat manusia lebih senang mengingat nama kekasihnya ketimbang Tuhan. Padahal Tuhanlah yang memberi mereka makan, kesehatan, perlindungan, dan segalanya. Mereka bahkan jadi lebih takut mengecewakan pasangan dibanding Penciptanya.

 

Aliran moderat

Paham ini berada di tengah antara aliran Islami dan pacaran. Keyakinan mereka tetap seperti yang diajarkan agama tapi tidak semuanya diamalkan. Sesekali mereka PDKT atau pacaran namun itu tidak lebih dari jalan-jalan, nonton, dan teleponan. Penganutnya cuma ingin merasakan indahnya Cinta monyet. Beda mereka dengan pengikut mazhab pacaran adalah lingkaran sosialnya. Para moderat lebih banyak bersahabat dengan teman-teman yang agamis. Mereka berprinsip bahwa hidup merupakan transisi perlahan: Tidak bisa langsung alim, melainkan dicicil-cicil dulu dari mulai berkumpul dengan orang saleh dan menjauhi dosa berat yang kemudian diharapkan meningkat jadi benar-benar beriman.

 

Aliran pacaran

Golongan ini timbul akibat meluasnya penundaan usia perkawinan, kecemasan, pemodelan media, dan lemahnya skil sosial remaja. Pacaran ialah cara ABG menunjukkan bahwa mereka disukai lawan jenis, normal, berani, dan sanggup membina rumah tangga di masa depan. Pacaran juga merupakan lahan bagi anak muda untuk mengeksplorasi tubuh pasangannya. Pacaran secara keras membedakan status romansa remaja jadi dua: Jadian dan jomblo. Jadian ditandai dengan adanya penerimaan oleh cewek ketika ditembak calon kekasihnya. Pacaran seakan memberi sejoli peran baru. Si cowok boleh mengawasi kegiatan pasangannya dan si cewek pun dituntut untuk berbakti pada pacarnya. Posisi ini yang kadang menekan perempuan supaya menuruti segala tuntutan pasangan.

Pacaran juga kerap dilakukan untuk mengatasi kekurangpercayadirian dan melampiaskan hasrat mendominasi pada remaja. Buktinya, saat bertemu teman yang jomblo atau bahkan belum pernah pacaran, pasti naluri anak muda akan terdorong untuk menceramahi serta mengolok. Mereka mengandalkan status jadian atau pengalaman asmaranya untuk mendongkrak PD. Ini mirip metafora “Batu pijakan”, mereka mesti menginjak yang dianggap lebih rendah supaya tampak tinggi. Remaja jarang ada yang mau susah payah berprestasi atau mahir melakukan sesuatu supaya PD. Mereka lebih senang cara instan seperti membawa tunggangan keren atau cari pacar. Paradigma ini bakal diyakini sampai tua. Contohnya seperti pria-pria yang mengandalkan kalung, jimat, atau batu cincin supaya berani menghadapi orang. Tidak jarang pula orang yang kecanduan pacaran ialah mereka yang takut sendirian, kurang kegiatan, dan bingung mau berbuat apa.

 

Aliran PUA

Tidak sembarang orang bisa disebut sebagai Pickup Artist (PUA). Mereka haruslah terlebih dahulu dilatih untuk menemukan, menarik, serta menggoda perempuan. Kata “Pickup” sendiri merujuk pada kegiatan melakukan perkenalan kasual dengan orang asing dalam rangka mejajaki hubungan seksual. Frase ini dipopulerkan pada 1970 oleh Eric Weber dalam bukunya How to Pick Up Girls”. Pickup artist juga biasa diasosiasikan dengan komunitas penggoda perempuan yang merupakan kumpulan cowok heteroseksual yang tengah berupaya memperbaiki keahlian romansa. Mereka memiliki rutinitas dan gambit yang disebut “Pemantik daya pikat” yang juga kerap dikombinasi dengan teknik turunan neuro-linguistic programming (NLP). Pickup artist berusaha meningkatkan daya tarik mereka lewat serangkaian perubahan gaya hidup. Paham PUA juga layaknya industri jasa di mana anggota komunitas bisa menyewa konsultan kencan atau mengikuti pelatihan lapangan.

Dunia PUA mengenal beberapa gaya seperti “Innergame”, “Outergame”, “direct game”, dan “Indirect game”. Innergame lebih pada strategi, kualitas mental, serta sikap kita saat bergaul. Sedangkan outergame adalah cara kita memikat, merayu, berpenampilan, dan mencandai perempuan. Kedua hal ini saling terkait: Makin baik innergame seseorang kian sedikitlah outergame yang dibutuhkan untuk sukses beromansa. Direct game pada praktiknya lebih seperti kenalan langsung dan mengungkapkan ketertarikan demi mendapatkan nomor telepon dalam waktu singkat. Kebalikannya, indirect game adalah cara fleksibel PUA melancarkan rayuan tanpa kentara (under the radar) dan menahan pengutaraan ketertarikan sebelum si cewek menunjukan rasa terpikat. Metode ini rendah risiko sebab, jika target tampak kurang tertarik PUA bisa hanya menjadikannya teman. Namun gaya ini relatif berhadiah lebih sedikit dibanding direct game. Metode PUA acap diklaim berbasis ilmiah yang mana mereka juga mengaku mampu menyediakan bukti observasi empiris soal disposisi seksual manusia, dan bimbingan bagi para murid dalam menggunakan pengetahuan tersebut agar asmaranya sukses. Walau begitu, klaim di atas tidak pernah dimuat ke jurnal sains manapun. Ini juga mungkin karena figur penting PUA seperti Neil Strauss tidak pernah mendapat pelatihan psikologi atau ilmu sosial secara formal. Aliran PUA di tempat asalnya menuai respons beragam hingga negatif. Teori dan praktik mereka bagi sebagian pihak dianggap bejat dan seksis.

 

Aliran hedonis

Paham ini cukup sederhana untuk dijelaskan. Intinya mereka semata ingin memuaskan libido dan fantasi saja tidak penting lewat cara apa. Para hedon bisa berpacaran atau menerapkan teknik PUA yang tujuannya ‘tak lain senang-senang. Penganut hedonisme punya ciri boros dan sulit mengendalikan diri. Namun tidak semua hedon sepenuhnya begini, ada juga yang hanya agak atau terkadang saja. Bisa jadi pula seseorang jadi hedon lantaran terdorong faktor sosialnya. Seperti keadaan di mana sekolah di kampung lebih cepat pulang ketimbang di kota, minim kegiatan, dan hiburan pun jarang. Akhirnya remaja memanfaatkan apapun yang tersedia di sekitar untuk mengusir kebosanan misalnya mabuk-mabukan, main kartu, begadang, balapan liar, atau melakoni seks bebas dan kebetulan semua pemuda di sana kelakuannya begitu. 

Penutup

Rangkain penjelasan di atas dimaksudkan agar anak muda bisa mengidentifikasi keyakinan mereka dalam romansa. Berdasar perbandingan semua aliran juga kita diajak bijaksana memahami ragam kebutuhan asmara manusia. Sehingga diharapkan remaja tidak lagi mudah mendikotomi status dan kepentingan romansa orang lain jika cuma didasari mazhab yang ia anut.

 

*Artikel ini mengutip rujukan artikel PUA Forums: Outer Game Is but A Reflection of Inner Game, Urban Dictionary: Outer Game, Indirect Game, Pickup Artist, Jauhilah Zina Wahai Dua Anak Manusia, serta banyak artikel lainnya.

 

Daftar Pustaka:

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Morissan (2013). Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta: Kencana.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: