Kajian Sosial Cinta

Kajian Sosial Cinta

 

Sekian banyak artikel Ucihasantoso belum ada yang secara khusus membahas aspek sosial romansa. Tulisan ini dirasa penting mengingat anggapan remeh umum perihal Cinta. Padahal efek Cinta di masyarakat, terutama kaum muda, amatlah kuat. Generasi muda merupakan penggerak peradaban. Dengan kata lain, bila pemuda melek komprehensi Cinta bukan tidak mungkin masa depan akan berubah. Anak muda pulalah yang nantinya membuktikan fungsi Cinta sebagai penyuci interaksi antarlawan-jenis atau kebalikannya.

 

Pengantar

            Tiap orang bebas membuat tinjauan mengenai Cinta. Mereka biasa mengartikulasi kegiatan tersebut ke dalam prosa atau puisi. Titik beratnya biasanya ialah emosi dari pengalaman tertentu. Mempelajari Cinta secara ilmiah adalah cara yang baru dan radikal sebab anda mesti mengkuantifikasi hal kualitatif. Studi Cinta bertujuan menemukan kesimpulan (induksi) musabab beragam peristiwa romansa. Gagasan-gagasan ini kemudian disistemisasi sehingga terciptalah hukum dan teori. Perilaku serta dampak sosial asmara patut juga dicermati sebagai pembentuk konstruk generasi muda. Lantaran itulah, mengkaji gatra sosial Cinta berpotensi memperbaiki pemahaman remaja tentang komunikasi dan psikologi romansa. Artikel ini ditujukan supaya kita lebih peka pada dinamika sekitar dan mampu mengambil prinsip asmara yang logis.

 

“Lakukan segalanya dengan begitu banyak Cinta di hatimu seakan kau tidak akan melakukannya dengan cara lain.”

Yogi Desai

 

Permulaan

            Sejak lahir manusia sudah akrab dengan kasih sayang orang tua. Perlindungan dan perhatian yang mereka berikan bertujuan mensintas serta mensejahterakan keturunannya. Ini dilakukan tanpa pamrih—mungkin itulah yang disebut orang Yunani kuno “Storge” atau Cinta yang kekeluargaan. Bagi orang tua, kesuksesan anak ialah imbalan segala pengorbanan mereka. Cinta orang tua dilatarbelakangi komitmen yang konsisten dan nyata. Hanya saja kebaikan tadi sering sulit diutarakan secara rasional dan sesuai, sehingga ‘tak jarang terjadi salah paham.

Penalaran Cinta pada anak berkembang menurut pola asuh. Anak yang diajari menjauhi tabu bakal cenderung konservatif; mereka yang banyak didogma akan moralis—sehingga miskin pengalaman asmara; yang permisif boleh jadi paling nakal dan eksploratif; yang moderat kelak membentuk profil umum romansa generasinya. Tapi lazimnya seiring pertumbuhan dan perkembangan, anak dari semua tipe pengasuhan akan menilai negatif Cinta dan perhatian orang tua. Mereka lebih mendahulukan sahabat, sebab hubungan tersebut didasari penerimaan tulus. Tidak seperti orang tua yang senantiasa menuntut (mengatur) untuk bersikap tertentu. Anak berkomunikasi ke orang tua biasanya hanya ketika minta uang saja. Anak jarang menceritakan relasi mereka dengan teman sebaya atau pacar pada orang tua, lantaran malas diceramahi.

Anak tidak mungkin menerapkan gaya cinta orang tua padanya ke teman atau calon pacar. Siapa yang bakal tahan dengan individu pendikte, doyan menghakimi, sok berkuasa, dan merasa paling benar/tahu cuma karena alasan peduli? Akibatnya mereka terpaksa mencari model baru yang ternyata berasal dari pergaulan dan tontonan. (i) Individu yang peragu, gemar menyalahkan diri (self blaming), memercayai pertemanan sebagai sumber informasi, dan haus afiliasi cenderung mengadopsi gaya romansa sahabatnya. (ii) Sedangkan mereka yang mandiri, efektif secara intelektual, bermental pemimpin, rigid (dingin; tidak gampang terangsang atau bereaksi), punya hubungan sosial baik, dan penuh percaya diri biasanya memilih cara baru lain mencintai teman dan pasangan. Ini terlihat dari perilaku kelompok pertama yang mengandalkan keterangan kawan dalam menyikapi cewek dan romansa; yang kedua lebih suka cara saintifik/logis. Masuk ke golongan mana anak saat memilih metode Cinta baru tergantung pengasuhan.

 

Romansa Dalam Keseharian

            Suatu yang kecil adalah bagian dari hal yang lebih besar. Begitu pula dengan romansa yang merupakan komponen dari fungsi aktualisasi diri. Asmara membuat kita ingin lebih baik walaupun, acap kali sifatnya temporer. Ia menggiring anda pada tindakan mulia seperti bersabar, suka membantu, dermawan, bertutur lembut, dan bisa diandalkan. Romansa memberi corak berbeda dalam hidup meski tidak setiap saat dipikirkan. Cinta pada lawan jenis juga membuat anda memiliki peran baru sebagai insan yang dituntut pantas diidamkan. Definisi idaman itu sendiri secara sifat diukur lewat kewajaran sikap (folkways), moral, dan ketaatan hukum. Ini lantaran baik-buruk individu ditentukan perbandingan terhadap kondisi umum masyarakat.

Asmara di luar nikah jarang memperbaiki kekurangan seseorang. Ini dipercaya karena elemen-elemen dasar percintaan, salah satunya komunikasi, tidak terhubung langsung pada tatanan sosial. Apa yang kita perbuat ke pacar ‘tak akan berdampak luas lantaran, praktisnya ini cuma hubungan dua individu. Contohnya konflik anda dengan tetangga tidak bakal berimbas pada proses romansa. Bertelepon, SMS-an, dan apel mingguan bisa dijamin masih lancar meski tengah dimusuhi tetangga. Misal lainnya adalah saat putus, posisi sosial anda tidak akan terpengaruh. Ini beda jika anda cerai—di mana harus urus surat sana sini sebab perubahan status kependudukan.

Romansa juga dalam interaksinya ialah kegiatan menyampaikan dan menyamakan makna pesan antara sejoli. Itu terbilang sulit karena, yang mesti anda pahami ialah kepribadian seseorang. Pesan dienkode ke dalam tanda seperti barisan huruf yang kemudian membentuk kata dan kalimat, ucapan, atau gerakan-gerakan tubuh. Umpan balik yang salah maupun kurang tepat akan memancing gesekan. Sekali lagi kemampuan menerangkan suatu secara logis, detail, jelas, dan sederhana adalah kunci meminimkan salah pengertian. Meskipun muncul efek negatif dari kepandaian tersebut yaitu keengganan pasangan mendebat karena merasa kalah baik menjelaskan sesuatu—termasuk emosinya—namun, ini tetap dapat diatasi lewat berlatih teknik menyimak ala konselor.

 

Perangkat Bertautan

            Kenapa Cinta tidak terlalu penting selain bagi ababil? Itu lantaran Cinta masih dipandang sebatas pengalaman yang subjektif. Karenanya, tidak ada nasihat yang dapat diterima dari orang lain kecuali anda yakin mereka mengalami hal serupa. Cinta masih sebatas mencari kedekatan, bukan pengetahuan. Padahal, kedekatan sifatnya fluktuatif sedangkan pengetahuan tetap bahkan meningkat. Informasi yang kita dapat dari suatu kedekatan tentu bakal menggerakan empati. Misalnya ketika anda bertamu ke rumah si dia, kopi yang biasanya manis kini pahit. Informasi terselubungnya yakni keluarganya tengah kehabisan gula. Lebih jauh dapat diperkirakan bahwa keluarga mereka tersendat atau kurang baik pengaturan uang belanjanya. Saat kembali ke sana anda mungkin dapat membantu sedikit sembako. Biarpun nilai pemberian tadi kecil tapi itu merupakan simbol koneksi batin anda dengan keluarganya.

Cara kita membaca tiap pertanda halus dalam romansa pula bakal memperkaya kesan dan informasi. Seperti saat anda menerima sesuatu (i. e oleh-oleh) dari kenalan cewek. Kala menyerahkan itu ia mengenakan piyama namun, sekilas anda memerhatikan bahwa wajahnya dipoles bedak tipis. Perilaku di atas mengindikasi adanya antisipasi grogi. Piyama yang dikenakan merupakan caranya memasukkan nuansa kasual ke pertemuan singkat ini. Ikhtisarnya adalah, walaupun ia punya perasaan terhadap anda tapi masih ada tembok gengsi yang mesti dipertahankan. Cewek tipe ini paling cocok untuk dimanipulasi.

Kumpulan pengalaman asmara seseorang pada akhirnya akan membuahkan intuisi. Asosiai sadar ataupun tidak terhadap pengalaman tersebut kelak memengaruhi cara komunikasi romansa individu. Tapi, intuisi bukan satu-satunya hal yang berperan dalam interaksi percintaan anda. Masih ada faktor sosial, situasi, dan biologis yang senantiasa ikut bekerja. Hal yang banyak ini berkorelasi dan koheren satu sama lain layaknya jaringan sistem kompleks yang saling umpan balik (feedback loop). Tiap bagian dari sistem dibatasi ketergantungannya pada komponen lain (i. e organ A bakal terganggu kinerjanya jika kekurangan pasokan B). Pola keterhubungan inilah yang mengatur sistem tersebut. Selain saling tergantung, sistem juga memiliki kemampuan untuk mengawasi diri sendiri (auto supervisi).

Hubungan antar komponen atau subsistem dapat secara sederhana digambarkan oleh diagram sibernetika berikut:

Pada garis hubung beberapa variabel dalam diagram tersebut ada tanda positif (+) dan negatif (-). Dalam hubungan yang positif sejumlah variabel meningkat dan menurun secara bersamaan sedangkan, yang negatif menandakan korelasi berlawanan. Berdasar skema di atas maka: (a) makin longgar izin orang tua kian banyaklah waktu anak untuk romansa atau sebaliknya; (b) bertambah lamanya romansa akan kian mengurangi pergaulan dengan teman; (c) Keefektifan metode PDKT berkorelasi paralel terhadap tingkat penguasaan psikologi, pengetahuan sosial, dan komunikasi; (d) Meningkatnya kegiatan romansa bakal menggerus prestasi akademik begitupun kebalikannya. Selanjutnya dapat dinalar sendiri. Ide penting dari teori sistem di atas ialah sifatnya yang utuh atau koheren dan konsisten. Pikiran dan kehidupan sosial manusia juga bisa mudah dipahami lewat teori barusan.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Handout Psikologi Sosial” dan artikel Storge.
   

Daftar Pustaka:

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Geldard, Kathryn., Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Morissan (2013). Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta: Kencana.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: