Tips Menuliskan Kisah Cinta Pribadi

Tips Menuliskan Kisah Cinta Pribadi

 

            Tiap orang tentu punya suatu untuk diceritakan seputar romansanya. Namun, umumnya individu baru tergerak berbicara/menulis pengalaman asmaranya lantaran kebelet curhat. Padahal jika mereka membiasakan itu, ‘tak sedikit hal penting yang bakal terjadi. Ini mirip mengerjakan evaluasi belajar sebab, ada banyak pertanyaan yang harus kita jawab spesifik, seperti: “Bagaimana sifat aslinya?”; “Kenapa ia senantiasa bereaksi begitu pada saya?”; “Apa hubungan ini pantas dibawa serius?”; “Kenapa dia suka warna … ?“; “Apa saya terlalu baik untuk dia atau sebaliknya?”; “Kenapa walaupun sudah sering pacaran penampilan saya tidak makin menarik?”. Kadang selama berusaha menjawab mereka, terpicu suatu perubahan kognitif, emosi, maupun perilaku. Dinamika psikis inilah modal utama guna mencapai perbaikan diri.

 

Pengantar

            Sebagian anak zaman sekarang kadung keliru menggunakan media sosial. Mereka menganggap teknologi ini sebagai pengganti buku harian dan konseling. Status-status galau dan rapuh yang sesekali mencemari lini masa (time line) orang dianggap hal wajar. Mereka tidak sadar bahwa cara ini nonsolutif. Terbukti dari terulangnya kejadian yang mirip/serupa karena kekurangmengertian para remaja tentang posisi dan peran diri dalam suatu masalah. Akhirnya menulis status berfungsi ‘tak lebih dari pelampiasan ketimbang jalan untuk mengidentifikasi emosi apa yang sesungguhnya dirasakan. Remaja mesti belajar untuk menggubah cerita secara utuh sebelum mampu meninjau duduk perkara. Artikel ini akan berusaha menguak beberapa cara menceritakan kehidupan asmara beserta sedikit dasar logisnya.

 

“Melihat ke belakang, terselip sesal ketika dulu mecinta (seseorang), aku terlalu sering tidak mengungkapkannya.”

Ray Stannard Barker

 

Strategi Awal

Masing-masing individu pasti punya favorit genre bacaannya masing-masing. Saya penyuka tulisan berbau sejarah, sains, pengetahuan umum, dan filosofi. Saya yakin ada di antara kalian yang hobi beragam jenis novel, rubrik politik, buku-buku religi, atau tutorial komputer. Apa yang biasa anda baca bakal memengaruhi gaya menulis. Seringnya ketika pertama menulis, kita kesulitan menemukan ide. Ini bisa diatasi dengan menggambar/membuat terlebih dahulu kerangka karangan. Niscaya itu bakal memudahkan anda mengembangkan paragraf serta alurnya—karena tiap pokok dapat dirinci ke dalam keterangan yang lebih luas. Namun walau begitu, anda mesti tetap menentukan batas bahasan cerita!

Berikut sedikit contoh cara menggubah sebuah kisah, yang kali ini merupakan pengalaman pribadi temannya teman saya, dimulai dari kerangka karangan:

Aku – Teman dekat

Pacar – Hubungan jarak jauh

Ulang tahun – selingkuh

Batas: kejadian hari itu saja

Semua poin barusan sebisa mungkin harus anda kembangkan! Metode yang terpopuler adalah 5W+1H. Kerangka karangan tidak harus seperti yang saya tulis di atas. Anda dapat membuatnya sesuai selera sendiri. Sekarang mari tengok apa jadinya cerita barusan!

 

Aku adalah seorang cowok usia dua puluh tahunan yang tengah menempuh kuliah di Universitas Trisakti, Jakarta. Aku punya banyak teman di sana, H adalah salah satu yang paling akrab. Dia orang yang menyenangkan, kami bahkan satu indekos. Sebagai kawan, H juga kenal baik dengan C pacarku. Aku dan C sudah menjalin kasih untuk beberapa waktu belakangan. Pacarku kuliah di President University, Bekasi, Jawa Barat. Kami terpisah cukup jauh—sekitar dua jam perjalanan. Namun, itu bukan masalah karena kami pandai menjaga komunikasi. Bagiku, C adalah cewek yang baik dan saleh—ia ‘tak pernah ketinggalan salat.

Lazimnya sejoli, aku pun selalu merayakan dan memberi kejutan di hari ulang tahunnya. Supaya tidak suntuk berkeliling sendirian mencari hadiah dan kue tart, aku mengajak H turut serta. Tapi H berhalangan karena satu dan lain hal, apa boleh buat rencana mesti tetap berlanjut. Setelah agak lama berputar mencari, aku akhirnya temukan tart dan kado yang diinginkan. Karenaku pikir jarak ke tempat dia lumayan jauh, diputuskan untuk balik ke indekos sebentar. Setiba di sana, aku kaget bercampur bingung kenapa ada mobil C di depan kamar H. Aku lalu melangkah ke muka kamar H. Begitu pintu dibuka, aku melihat dia sedang tiduran dengan tubuh yang hanya diselubungi selimut. Perasaan kecewa serta marahku berkecamuk dan nyaris meletup. Inginku cecar habis-habisan C namun, belum lagi terlaksana H muncul dari belakang dengan hanya mengenakan celana pendek (boxer).

Kontrol dan akal sehatku nyaris runtuh. Namun aku tetap berusaha tenang, meski nada bicara kian meninggi. Aku bertanya lantang pada H, “Kenapa tidak bilang kalau kau sir dengan dia?”, pembicaraan ini kian memuakkan karena si perempuan terus menangis. Lewat interogasi tadi terungkap alasan hubungan mereka terjalin sebab H biasa menemani pacarku ke diskotek, sedangkan aku jarang. Usai lama mengorek segala fakta, ‘tak lupa aku melemparkan kue tart tepat ke wajah si dia—sebagai ucapan selamat ulang tahun. Kejadian memilukan ini aku syukuri sekaligus sesali. Bersyukur karena Tuhan berbaik hati menunjukkan siapa C sebelum semua terlambat; menyesal sebab harus kehilangan teman lewat cara memalukan.

Tiga paragraf tadi mungkin bisa lebih bagus dan dramatis jika penghobi cerpen atau novel yang menulisnya. Kisah di atas dibuat dengan banyak bubuhan keterangan supaya pembaca dapat kian terhubung secara personal. Jika anda juga hendak menuangkan kisah pribadi, dianjurkan untuk menceritakan lebih banyak detail perihal kondisi batin kala itu. Berhubung saya yang membuat, jadi gayanya banyak dipengaruhi kalimat efektif laras ilmiah. Makanya terkesan sedikit kaku dan dingin. Omong-omong, tips ini ada bukan karena saya sudah pakar mengarang melainkan sekedar berbagi pengalaman.

 

Penyembuhan

            Menulis cerita dapat mengasah kepekaan sekaligus memberi efek terapeutik. Menulis dengan tujuan pengobatan jiwa juga cenderung mendorong eksternalisasi sehingga berpotensi memperbaiki kontrol diri. Contoh cara untuk mengekternalisir permasalahan/perasaan adalah lewat penggunaan kiasan dan metafora. Penggunaan metafora dalam menulis kisah pribadi membawa sejumlah manfaat seperti berikut:

  • Metafora dapat digunakan untuk menstimulasi pemahaman serta menghadirkan konstruk bagi perilaku yang adaptif. Lewat eksplorasi sebuah metafora, remaja bisa lebih dalam menghayati situasi kehidupan, persoalan, kepercayaan, dan perasaan mereka terkait hal tertentu yang sebelumnya tidak pernah menyembul ke alam sadar. Kadang ini terjadi saat anak muda tercengang mendapati kesamaan ‘tak terduga antara metafora dengan situasi ril mereka. Dengan demikian, penggunaan metafora dapat menguatkan pemahaman dan merangsang remaja untuk menemukan bagian-bagian diri mereka serta berbagai problema yang selama ini terpendam di alam bawah sadar.

 

  • Metafora manjur dalam menyediakan solusi berbagai masalah. Acap kali anak muda sulit mengidentifikasi masalah sendiri sebab, mereka terkuasai oleh persoalan tersebut. Metafora dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kerangka diferensial supaya individu bisa dipisahkan dari problema mereka, sehingga penerapan kuasa atasnya termungkinkan. Aplikasi kerangka diferensial menjadikan remaja sanggup membuat jarak antara diri mereka dengan rasa tersakiti atau kerapuhan yang kerap dikaitkan dengan kenyataan. Sesekali pula pemecahan secara metaforis memicu pemikiran tentang solusi di kehidupan nyata.

 

  • Metafora dapat digunakan untuk mengubah hidup secara signifikan—yang tidak hanya melibatkan perilaku, tapi juga peran. Perhatikan contoh kasus seorang anak muda yang mendeskripsikan dirinya mendayung sekaligus mengemudi perahu yang memuat teman-temannya mengarungi sungai! Anak ini menemukan pilihan lain, seperti bertukar jadi penumpang atau melompat ke sungai guna menyelamatkan diri. Akibatnya, dia akan melihat dirinya dalam suatu peran baru sebagai individu yang bertanggung jawab pada pribadi sendiri ketimbang atas urusan orang lain.
  • Sesekali ketika bermetafora, kita akan membaik secara terapeutik tanpa perlu beralih membahas situasi sebenarnya. Mengingat kembali metafora sebelumnya dapat membantu anda menyikapi suatu masalah. Seperti bertanya pada diri sendiri, “Apa yang membuat saya tidak juga melompat dari perahu ini?” (nomor 3).

 

  • Metafora bisa digunakan untuk menolong pengeksplorasian konflik, perasaan, serta meningkatkan empati; juga memberi ruang untuk pengekspresian pemikiran, emosi, dan perilaku.

 

  • Metafora dapat digunakan untuk menciptakan peluang bagi percakapan dan pengungkapan diri yang aman serta tidak terasa mengancam. Karena itulah metafora sangat cocok dipakai remaja. Metafora menyamarkan situasi dan persoalan yang memberatkan mereka. Melalui metafora, kita dapat berbicara bebas sebab kalau dibutuhkan anda dapat menyangkal kesamaan rangkaian kata tersebut dengan keadaan sesungguhnya. Ini bakal membuat anak muda nyaman mengutarakan berbagai hal yang sukar dibicarakan dengan orang lain.

 

  • Metafora dapat berfungsi untuk mengantisipasi timbulnya resistensi. Ini karena menceritakan suatu secara metaforis tidak terlalu menakutkan ketimbang mengatakannya langsung.

 

  • Metafora dapat menfasilitasi relevansi berbagai elemen dalam sebuah problema seseorang. Sesekali metafora membuat anak muda mampu mengenali banyak aspek lain dari situasi mereka yang awalnya ‘tak nampak penting atau koheren.

Memoles cerita dengan kiasan umum seperti “Mahkota wanita”, “Tulang punggung”, atau “Ringan tangan” biasanya klise dan kurang membekas di hati pembaca. kadang anda malah harus mengkreasi kiasan baru. Kiasan yang bermakna kuat lazimnya didukung rangkaian diksi yang padu. Inilah contoh penggunaan sejumlah kiasan yang mempertegas pesan suatu cerita:

 

Dulu memang ia punya segalanya. Ia mewarisi tahta kerajaan bisnis, relasi, dan harta berlimpah almarhum sang Ayah. Ia masih kelas tiga SMA kala Ayahnya meninggal. Pergaulan mendadaknya bersama orang dewasa membuat ia merasa ‘tak lagi selevel dengan kami. Hampir semua teman sekelas membencinya karena gaya dia yang sok hebat. Saat bertemu lagi beberapa tahun kemudian saya kaget, kenapa kekayaannya bukan terkumpul namun malah ludes. Selidik punya selidik ternyata kebiasaan foya-foya, narkoba, dan candu perempuan membuat semua uangnya menguap ‘tak berbekas. Hidupnya bagai terjun bebas, dari serba mudah jadi melarat. Tanah, motor, mobil, bahkan perabot elektronik rumahnya sudah terjual entah untuk apa. Beruntung Ibunya yang tua masih sanggup bekerja menafkahi dia dan adiknya. Walau sudah rubuh beginipun jangan sangka gengsi dan pembawaannya bakal merendah. Sikap dan ambisinya ini seolah hendak menunjukkan, pada dunia, bahwa ia masih memegang pistol meski tidak lagi ada pelurunya. Setidaknya cara tadi ampuh membuat awam segan.

Kata dan kalimat yang bergaris bawah adalah kiasan, sedangkan yang merah tebal adalah metafora. Maaf jika sampelnya bukan murni kisah Cinta. Saya mengambil cerita ini karena padat makna tersirat, dua misalnya adalah ia pernah bersinggungan dengan banyak cewek dan terbentuknya anggapan picik perihal hegemoni terhadap sebayanya soal kedewasaan serta pengalaman hidup. Keyakinan-keyakinan ini menghalangi ia dari keinginan merintis ulang. Apa yang nanti dan saat ini mau dilakukannya cuma kerja enak hasil banyak layaknya dulu ketika ia masih bos. Soal romansa jelas ia bagai orang yang nyaris mati kehausan, karena satu-satunya alat pendekatan hanya telepon genggam. Tidak mungkin ia terus meminjam tunggangan kawan, karena harga dirinya bisa tergadai.

 

Penutup

            Segala paparan barusan semoga bisa menyemangati anda untuk memperbaiki diri lewat dunia penulisan. Kalau mujur kisah anda bisa jadi dibaca, menginspirasi, dan disukai khalayak. Asal paham faedah di balik karangan anda, menulis bakal terasa seperti olah jiwa.

 

*Artikel ini mengutip rujukan e-book “Menulis Cerpen: Bukan Sekadar Menyampaikan Imformasi” dan “Kapan Saat yang Tepat Untuk Mulai Menulis?”.

 

Daftar Pustaka:

Geldard, Kathryn & Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: