Patologi Jomblo

Patologi Jomblo

 

            Sebagian orang merasa tertekan dengan status lajangnya. Kalaupun mereka ditanya, “Apa yang nantinya dilakukan setelah punya pacar?” jawabnya pasti seputar bersenang-senang. Maka, bisa disimpulkan bahwa penderitaan kaum jomblo berasal dari ketidakmampuan memanfaatkan waktu senggang. Kadang problema jomblo juga bercampur dengan beberapa masalah kepribadian lain. Sehingga interpretasi mereka terhadap realitas jadi bias dan maladaptif. Jomblo bagi beberapa individu juga merupakan bukti kuat bahwa kenyataan selalu tidak memuaskan.

 

Pengantar

            Patologi berasal dari kata phatos (penyakit) dan logos (ilmu). Seseorang dikatakan terjangkit penyakit jomblo bila memenuhi kecenderungan berikut: (1) Kejarangan statistik, (2) distress (tekanan/siksaan) pribadi, serta (3) ketidakterharapan (i. e kepanikan atau kegalauan). Penyakit jomblo biasanya terjadi akibat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan standar ideal pribadi (diskrepansi diri). Kebanyakan lajang yang sakit menganggap pengobatan datang dari luar diri. Lebih parah lagi, tidak sedikit mereka yang justru melakukan hal kontraproduktif guna meredakan gejala penyakit. Posting kali ini akan membahas seluk-beluk gangguan psikologis yang acap diidap jomblo.

 

“Cinta adalah api. Namun, apakah itu akan menghangatkan hati atau membakar habis rumahmu, kau tak akan pernah bisa mengungkapkanya.”

Joan Crawford

 

Klasifikasi Penyakit

            Artikel ini tentu bukanlah cara untuk menstigma atau menakut-nakuti orang berstatus lajang. Justru artikel ini bermaksud mencerahkan wawasan—khususnya remaja—perihal keadaan jiwa mereka sendiri. Anda akan diajak sadar perilaku, pikiran, keyakinan, dan standar evaluatif pribadi masing-masing. Sehingga diharapkan pengetahuan ini berguna dalam pencegahan dan mitigasi penyakit lajang. Gangguan pada jomblo kadang halus (subtle) dan tak terdeteksi. Orang baru akan mengeluh ketika sudah mengalami kegagalan romansa beruntun. Tanpa panjang lebar lagi berikut, adalah identifikasi penyakit jomblo dan gejalanya:

 

 1.     Nocte Diei Anxietas

Dikenal juga sebagai “Obsesi kompulsif malam minggu”. Nocte Diei Anxietas mempunyai ciri pikiran berulang tentang ide kegiatan malam minggu yang disertai dorongan kuat untuk melaksanakanya. Nocte Diei Anxietas adakalanya disertai pula penilaian tak logis terkait malam-mingguan. Sekali saja malam minggu di rumah akan membuat mereka merasa berdosa dan hina. Tak jarang mereka juga berkeyakinan bahwa masa remaja memang ditakdirkan untuk bebas keluar malam.

 

2.     Minabantur Scopum

Gangguan ini biasanya diikuti dengan penilaian yang cenderung negatif pada diri sendiri, dunia, dan masa depan. Minabantur Scopum atau “Pesimisme romansa” termanifestasi sebagai keyakinan bahwa diri tidak pantas mendapatkan pasangan yang cantik/tampan. Orang dengan gejala di atas selalu meyakinkan dirinya sendiri untuk puas dengan pencapaian minimal dan apa adanya. Pengidapnya sesekali mengalami konflik batin antara harapan ideal dan kenyataan. Sebagian dari penderita yang sudah memiliki pasangan acap memaksa/menuntut kekasihnya untuk mengikuti idealisme mereka.

Minabantur scopum sering pula menampakan diri sebagai sensitivitas tinggi terhadap penolakan. Orang yang mengalami ini selalu cemas dan curiga pada hubungan asmara mereka—bahkan bila itu baik-baik saja. Sedikit saja usikan—seperti keterlambatan SMS—akan mengaktifkan sikap permusuhan mereka pada pasangan. Penderita minabantur scopum dengan sensitivitas terhadap penolakan mengalami ketegangan hebat selama menjalin hubungan romansa. Kebanyakan dari romansa mereka kurang memuaskan dan berumur pendek.

 

3.     Temere Capto

Penyakit ini ditandai dengan ketiadaan standar konkret romansa dalam seleksi pasangan. Penderitanya adalah mereka yang amat mudah jadian dengan sembarang orang. Mudah dimengerti jika kita gampang jatuh Cinta pada orang yang baru ditemui. Tapi, amat sulit dipahami kenapa pengidap temere capto asal menawarkan komitmen pada orang. Kemungkinan besar mereka begini karena hambatan pengendalian diri. Mereka cenderung oportunis pada godaan kecil dan susah menahan diri untuk hadiah besar.

 

4.     Ex Amicam Obsessi

Dalam bahasa Indonesia berarti “Terobsesi mantan pacar”. Penderitanya mengalami kesalahan fokus pada perpisahan yang dialaminya. Mereka tidak pernah mengingat sifat buruk pasangan—melainkan hanya mengenang momen bahagianya saja. Mereka cenderung konyol dengan menganggap segala keindahan dan kemesraan dahulu dapat diulang kembali.

Pengidap ex amicam obsessi akan merasa tersakiti bila mengetahui mantanya memadu kasih dengan orang lain. Mereka merasa terkhianati karena mantan dengan mudah bangkit (move on) melupakan masa lalu. Beberapa orang juga mengaku melihat mantan jadi lebih cantik setelah tidak bersama lagi. Pada tahap ekstrem, penderita akan menggoda mantanya siang-malam untuk rujuk. Kelakuan mereka layaknya pecandu yang sakau.

 

5.     Convenit Openiobus

Penyakit ini diidap banyak orang di dunia. Convenit openiobus berarti “Keyakinan yang tak logis”. Standar evaluasi pribadi mengenai apa yang benar dan seharusnya dilakukan membuat mereka picik. Salah satu contoh gejalanya adalah dipertahankanya ide bahwa kebaikan akan selalu dibalas kebaikan—oleh manusia. Para dogmatis juga kerap mengidap gangguan ini. Mereka menelan begitu saja paham bahwa orang baik akan berjodoh dengan orang baik. Kekurang-skeptisan menjerumuskan mereka pada pandangan dangkal bahwa baik/buruk seseorang ditentukan perbuatan.

Convenit openiobus kerap menjadikan penderitanya terobsesi pada instanisme penghormatan. Pengidapnya kadang gila atribut dan dikuasai dendam. Sebagian mereka mengira bahwa dengan mengenakan aksesoris tertentu akan mendongkrak derajat. Mereka juga kadang secara sadar membangga-banggakan diri guna meraih penghormatan. Penderita convenit openiobus tak jarang mengandalkan pinjaman uang/barang sebagai cara memikat lawan jenis. Indvidu dengan convenit openiobus senantiasa menempatkan dirinya sebagai pelayan ketimbang tantangan bagi lawan jenisnya.

 

Konstruk Kepribadian

            Gangguan di atas terlihat seperti fenomena gunung es. Ketika ditelusuri, asal tiap gejala yang muncul kerap tidak ada hubunganya dengan romansa. Gejala seperti kecemasan dan kesulitan adaptasi bisa saja didapat dari pengasuhan yang salah atau penganiayaan. Ketidakmampuan mengendalikan diri boleh jadi dikarenakan kekurangdewasaan individu. Keyakinan keliru mengenai instanitas mungkin juga dipelajari dari media dan masyarakat. Semua yang diserap dari lingkungan bersama dengan bawaan biologis kita membentuk suatu konstruk yang unik. Konstruk itulah yang membuat reaksi tiap orang berbeda sekalipun kondisi yang dihadapi sama.

Albert Ellis seorang terapis kepribadian mengajukan dua tesis unik mengenai distress psikologis: (a) Manusia tidak merespon terhadap kejadian, melainkan pada keyakinan mereka mengenai peristiwa tersebut. (b) Keyakinan yang menyebabkan distress bersifat irasional. Tesis pertama secara sederhana dirumuskan Ellis sebagai ABC. Suatu kejadian pengaktif (ativating-A) mengakibatkan reaksi emosional/konsekuensi (consequence-C). Manusia meletakan keyakinan (belief-B) di antara pengaktif (A) dan konsekuensi (C). Keyakinan tadilah yang memvariasi respon individu terhadap kejadian.

Tesis kedua Ellis juga menyatakan bahwa keyakinan irasional sesungguhnya diciptakan sendiri oleh manusia. Keyakinan ini misalnya berupa paham bahwa kita harus menanggapi peristiwa dengan cara tertentu, orang lain harus memperlakukan kita dengan sikap tertentu, dsbg. Seperti keyakinan, “Jika orang tidak memberi pujian pada karyaku itu tandanya aku pecundang.” atau, “Saya berhasil murni karena keberuntungan; jika kalah memang itulah keadaan semestinya” dsbg. Ellis mengajak klienya untuk membuat daftar kecil mengenai pikiran-pikiran negatif. Terapi Ellis memaksa klien untuk merenungkan keyakinan-keyakinan irasional mereka. Tujuanya supaya klien mengganti keyakinan tersebut dengan pikiran yang menenangkan dan rasional.

 

Pencegahan

Gangguan-gangguan di atas sedikit-banyak akan menyentuh aspek lain hidup anda. Cara kita berinteraksi sosial akan memengaruhi lingkungan secara kontekstual. Manusia tidak pasif menerima pengaruh lingkungan. Mereka bisa membentuk, memilih, atau menghindarinya sesuai kata hati. Maka, bodoh jika kita menyalahkan suatu penderitaan sepenuhnya karena faktor luar. Individu harus mampu berdiri atas prinsipnya sendiri dan menjauhi ketergantungan konformis. Menilik pernyataan tadi maka sikap haus pengakuan sosial sudah semestinya dihindari. Sebab selain karena kurang dewasa, ini pulalah yang akan membuat anda digiring perubahan dan bukan sebaliknya.

Optimisme terhadap masa depan dan diri sendiri harus ditumbuhkan oleh masing-masing individu. Namun, optimisme ini sebaiknya bukanlah pengingkaran kecemasan. Individu seyogianya menganggap kegagalan sebagai pembelajaran—ketimbang pencapaian buruk. Karena bila hanya berusaha demi mencapai sesuatu, begitu hal tesebut digapai pengembangan diri akan terhenti. Ini jelas berisiko bagi strategi coping dan proses pendewasaan anda. Pemahaman kontekstual seperti dia atas merupakan bekal bagi pencegahan penyakit jomblo.

 

Daftar Pustaka:

Cervone, D. & L. Pervin (2012). Kepribadian: Teori dan Penelitian. Jakarta: Salemba Humanika.

 

  1. bahasa yunani semua. ini beneran studi ilmiah ya?

  2. Bukan dong.. :)

    Lagian kalo yg namanya patologi mah kriteria sama diagnosanya gk sembarangan gan. Ni ane sendiri yg nyebutnya pake bahasa Latin.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: