Konsepsi Dasar Ilmu Cinta

Konsepsi Dasar Ilmu Cinta

        

Cinta adalah sains yang ditunjang oleh beberapa konsep interdisiplin ilmu. Kebanyakan orang sependapat bahwa Cinta cuma tersedia dalam dua bentuk: Romansa dan filosofi. Romansa merupakan interaksi antara pola pikir (kognisi) dengan kondisi sosial—khususnya dalam modus pencarian pasangan. Manusia sepenuhnya menyadari tiap detail perjalanan asmaranya. Hanya saja tidak semua hal tersebut diartikulasikan kembali sebagai tindakan. Sebagian mengendap dan menjadi hipotesis yang tak teruji. Eksperimen kadang cuma terjadi dalam angan dan membuahkan asumsi-asumsi pribadi yang picik. Pengetahuan romansa sejatinya mendesak bagi manusia guna menata kehidupanya.

 

Pengantar

Cinta bukan ilmu yang semata bergelut dengan romansa. Cakupanya melingkupi banyak aspek lain kehidupan. Cinta tidak bisa disimpulkan dengan hanya mencermati pengalaman pribadi. Kita harus pula merunut testimoni banyak orang secara seksama dan melihatnya dari berbagai sudut. Tapi, untuk apa berpikir sejauh itu? Bukankah Cinta sesungguhnya hanyalah sensasi sensori yang diolah afeksi (perasaan)? Kenapa harus repot merasionalisasinya? Manusia (selalu) berusaha memecahkan kasus-kasus Cinta semata demi menyingkirkan segala perintang hasratnya, tidak lebih. Posting ini akan berusaha menjelaskan anda apa saja lingkup dan seluk-beluk ilmu Cinta.

 

Cinta sejati adalah induk dari kerendahan hati.”

G. K. Chesterton

 

Bidang Praktis

Cinta bisa ditandai dengan hadirnya perasaan terikat atau tergantung pada seseorang. Orang yang mengalami hambatan (i. e jarak atau larangan) hubungan dengan figur lekatnya, biasanya akan gelisah. Namun, sedikit stimulus (i. e suara atau gambar pihak yang dimaksud) akan mampu meredakan gejala tersebut. Individu yang merasa diabaikan juga umumnya akan marah dan menolak figur lekatnya (i. e pengasuh, ibu, atau pacar). Interaksi antara sepasang kekasih sarat pula akan atribusi dan persepsi personal. Tapi, berdasarkan pengalaman saya, Cinta itu laksana permen. Seorang akan senantiasa menagih gratifikasi tersebut dari pasanganya—kapanpun ia mau. Celakanya, kedua pihak sama-sama berpikir begitu. Alhasil, ketika kehendak tak dipenuhi akan terjadi gesekan. Hal ini merujuk pada paradigma bahwa hubungan seyogianya saling menyenangkan.

Mengacu paragraf di atas kita akan membuat beberapa percobaan. (1) Selama sebulan sebelum mengaku sibuk, tunjukanlah kasih-sayang, aura positif, dan intensitas hubungan yang baik pada dia! Skenarionya adalah melihat seberapa lama ia akan tahan menunggu umpan balik anda. (2) Bawalah ia ke suatu acara teman dekat anda! Upayakan ada beberapa cewek juga di sana! Lalu tinggalkan ia sekitar 10-15 menit! Amati—secara sembunyi-sembunyi dari jauh—apa saja yang ia kerjakan! Cari tahu kesan serta pendapat teman anda mengenai dia! (3) Umpamakan anda sekarang sedang berlomba mendekati seorang cewek. Tunjukanlah bahwa anda lebih berani melihatnya mata ke mata lalu, amati! Catatlah mimik wajah, gerakan tubuh, serta perbedaan responya pada tiap-tiap kontestan!

Percobaan (1) diambil dari “Paradigma Penundaan Kepuasan Walter Mischel” yang menyelidiki tentang strategi mental penundaan kesenangan. Segala hal baik yang anda tunjukan merupakan jaminan hadiah jika mampu lama menunggu. Dalam percobaan ini ajakan putus (secara langsung) ialah bel tanda eskperimen dihentikan. Hitung berapa lama waktu ia sanggup menanti! Tanyakan bagaimana keadaan dan perasaanya selama menjalani tes! Anggaplah anda sebagai hadiah (gratifikasi) besar sedangkan cowok-cowok di sekitarnya sebagai hadiah kecil! Hadiah besar cuma diberikan ketika ia lulus tes. Sedangkan, hadiah kecil dapat dinikmati kapan saja. Kita akan lihat—selama tes—apakah dia hobi menggoda cowok lain, needy, lancang, egois, tak punya kesibukan lain di samping pacaran, dsbg. Asumsinya adalah hadiah besar tidak terlihat sedangkan hadiah kecil selalu tersaji. Diharapkan cewek akan mempertimbangkan hadiah-hadiah kecil di sekelilingnya. Percobaan ini mampu menguji pengendalian diri, watak, dan kesetiaan sekaligus.

Percobaan (2) adalah cara untuk menjelaskan hipotesis “Seseorang pacaran bukan untuk mengenal/dekat dengan lingkaran sosial pasanganya”. Jawaban hipotesis di atas akan bervariasi tergantung kecakapan sosial dan kedewasaan. Kedua faktor ini bisa anda analisis secara sederhana lewat diskusi dengan sahabat. Tetap buka pikiran anda untuk tiap pendapat mereka!

Percobaan (3) ialah pengujian terhadap hipotesis “Cewek lebih menyukai cowok yang penuh percaya diri”. Percobaan ini dilakukan dengan mengabaikan faktor tampang dan kemampuan berbincang. Di sini bisa dibuktikan bahwa cewek selalu melit perihal alasan cowok menatap mereka. Pancinglah rasa penasaranya! Hal ini pula akan membuktikan kalau hal yang jauh/sulit didapat akan selalu lebih menarik.

 

Filosofi Ilmu Pengetahuan

Sub judul di atas terdiri dari tiga unsur yang sarat maksud. Filosofi ialah perenungan kritis dan radikal manusia demi mencapai suatu hakikat. Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman manusia yang membanjiri alam sadar. Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang sudah disistematisasi—atau dengan kata lain sifatnya ilmiah. Bisa dikatakan filosofi ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mempelajari tentang ilmu. filosofi ilmu pengetahuan membicarakan bagaimana menyusun batang tubuh sains beserta metode dan validasinya.

Pertanyaanya, apakah Cinta termasuk ke dalam ranah pengetahuan atau sains? Cinta dapat digolongkan sebagai sains karena, sifatnya yang kental akan pengujian induktif (khusus menuju umum). Sifat ini senada dengan banyak ilmu sosial lain—seperti antropologi, komunikasi, dan ekonomi. Mereka menarik suatu kejadian tertentu sebagai bahan kajian lalu, membandingkan korelasinya terhadap populasi—dengan bantuan statistik. Inilah yang akan memunculkan profil keadaan sebenarnya di masyarakat.

Salah satu contoh induksi ilmu sosial adalah penelitian mengenai hubungan antara unjuk rasa rusuh dengan maraknya pemberitaan yang mengekspos anarkisme. Ternyata jelas ditemui—korelasi statistik—legitimasi individu untuk berbuat onar setelah bertubi-tubi dihujani pemberitaan berbau anarkis. Penelitian tadi membuahkan kesimpulan bahwa orang akan meniru apa yang mereka lihat (people do what they see)—bila itu diniliai baik/keren dan tidak berisiko dihukum.

Temuan di atas juga membuktikan efek media yang mempropagandakan hidup serba mudah serta permisifisme seks. Ini pulalah yang diyakini psikolog dan sosiolog sebagai akar konsumerisme dan hedonisme. Hebatnya metode ilmiah adalah ketika penelitian (pengaruh tontonan) di atas diuji berkali-kali hasilnya akan sama. Bilapun tidak, atau kesimpulan barusan ditolak, gagasan baru ini harus mampu dipertanggungjawabkan dengan data yang rinci, sah, dan komprehensif.

Di lain sisi, ilmu Cinta juga bisa dikonsepkan sebagai bagian dari bidang praktis/kerekayasaan. Hal ini serta-merta menjadikan ilmu Cinta tidak mengenal kebenaran tetap—verifikasinya tergantung pada manfaat. Contoh: Apa yang harus dilakukan untuk menggaet cewek putih-mulus, keibuan, dan bersuara melengking? Tentu saja dengan menonjolkan sisi maskulin, kecerdasan, dan optimasi pesona warna cokelat kulit anda. Kasus dua, apa yang harus dilakukan untuk memikat janda muda yang putih-mulus, lemah-lembut, dan bersikap dewasa? Tunjukan tanggung jawab, pemikiran visionaris, kegigihan, penerimaan keluarga, dan tak lupa pekerjaan tetap! Sisi praktis tidak mengenal kata “Jadi diri sendiri” melainkan lebih pada “Menjadi individu yang lebih baik dan adaptif”. Semboyan “Jadi diri sendiri” di dunia romansa lebih cocok untuk orang bengal, lambat berkembang, dan idealis-dogmatis kronis.

 

Jawaban Lain

Banyak sekali pertanyaan mendasar yang akan muncul ketika orang mulai sadar bahwa Cinta itu ilmiah. Berikut, beberapa pertanyaan itu beserta jawabanya:

  1. Apakah pengetahuan Cinta menjamin seseorang tidak akan menjomblo?”

 

Tanpa pengetahuan ini sekalipun anda tetap akan punya pacar. Pengetahuan Cinta umumnya hanya dibutuhkan ketika individu mengalami hambatan romansa. Pengetahuan Cinta hanyalah omong kosong bagi mereka yang terbiasa jadian dengan sembarang orang. Namun, bila anda adalah makhluk idealis, yang setia, dan tidak suka buang waktu, pengetahuan ini jelas berguna.

 

  1. Apa manfaat ilmu Cinta selain dalam urusan asmara?”

 

Ilmu Cinta dapat dideduksikan (umum menuju khusus) kembali ke ranah kehidupan sehari-hari. Contoh abstraknya: Orang yang gugup/pencemas cenderung mengulang-ulang sesuatu untuk menenangkan diri. Anda bisa gunakan ini pada rekan bisnis atau individu yang baru dikenal dengan melihat pengulangan-pengulangan gerakan mereka. Apakah mereka tiba-tiba bolak-balik ke toilet, menggaruk-garuk badan, mengetuk-ngetukan kaki, dsbg? Contoh lain diambil dari teori psikoanalisis: Kata-kata yang tidak sengaja terucap (parapraksis) adalah gambaran dari isi hati sebenarnya. Anda bisa menggunakan hukum ini untuk menganalisis kondisi pikiran teman, keluarga, atau tetangga.

 

  1. Ada begitu banyak lembaga yang mengklaim sanggup menjadikan saya cowok idaman. Manakah yang paling bisa dipercaya?”

 

Harus diakui bahwa penjelasan dan model romansa yang mereka ajukan begitu inspiratif. Namun, bila kita bertanya bermacam masalah, mereka akan cenderung menggiring jawabanya pada teori yang itu-itu saja. Solusi yang ditawarkan juga umumnya tidak menyentuh akar persoalan. Tiap orang diarahkan melakukan kegiatan sama sebagai jalan menuju status cowok idaman. Padahal masing-masing insan memiliki komposisi potensi yang unik. Mereka kurang menekankan pada komprehensi pengenalan terhadap diri sendiri. Mereka memang jagonya membuat orang mampu menggaet cewek. Tapi, bila ada masalah lebih lanjut baiknya anda pergi ke psikolog atau psikiater!

 

  1. Apakah ilmu Cinta akan membuat saya jadi pacar yang baik?”

 

Pertama perlu diluruskan dulu apa yang dimaksudkan dengan “Baik” tersebut. Apa itu berarti menyenangkan, mampu mengayomi, disayang dan dicinta, atau tidak pernah melakukan kesalahan? Semua definisi di atas dapat difasilitasi oleh ilmu Cinta kecuali yang terakhir. Syaratnya, anda harus benar-benar mengenal diri sendiri dan tentu saja si dia.

 

  1. Sumber mana yang bisa saya jadikan pedoman pemecahan kasus romansa?”

 

Secara spesifik saya akan menyarankan buku-buku dan artikel psikologi pada anda. Namun, bila anda tidak suka/tak punya banyak waktu untuk membaca begitu banyak referensi, blog ini bisa dijadikan acuan. Guna diskusi lebih dalam, saya sarankan untuk gabung di grup Ucihasantoso!

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Gaya Kelekatan, Atribusi, Respon Emosi dan Perilaku Marah” serta dokumen “Bab I: Pengetahuan Dengan Ilmu Pengetahuan Telaah Filosofis”.

     

Daftar Pustaka:

Cervone, D. & L. Pervin (2012). Kepribadian: Teori dan Penelitian. Jakarta: Salemba Humanika.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: