Korelasi Filosofi Hidup dan Metode PDKT

Korelasi Filosofi Hidup dan Metode PDKT

 

Anda belum pernah jadian? Selalu punya hubungan hambar sarat basa-basi? Dibayangi rasa takut kehilangan setiap saat? Kebelet ingin punya pacar tapi cewek di sekitar di bawah standar? Malu menjawabnya? Semua orang punya hal tertentu yang membuat kisah percintaan mereka unik—setidaknya bagi mereka sendiri. Saya sempat mempelajari ini lewat sebuah diary seorang cewek yang hidup di era 80-an. Terungkap jelas bahwa segala detail romansa yang kita alami kini tidak jauh beda dengan zaman dahulu. Maka, bisa dikatakan bahwa contoh-contoh pertanyaan di atas juga pernah muncul di benak remaja masa silam.

 

Pengantar

            Sebelum lanjut ke bawah ada baiknya kita membahas maksud judul di atas. Dimulai dengan definisi filosofi yang bermakna pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi (rasio) mengenai hakikat segala yang ada (being), sebab, asal, dan hukumnya. Filosofi ialah spekulasi akal manusia yang dapat dipertanggungjawabkan. Filosofi merupakan cikal bakal lahirnya ilmu-ilmu alam dan sosial. Sedangkan metode adalah cara kerja sistematik yang memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan tertentu. Penyusunan metode sosial khususnya PDKT didasarkan pada teori-teori pribadi yang bermula dari filosofi diri. Filosofi dan teori pribadi sebagian besar disusun atas tafsiran mengenai pengalaman yang dialami. Akumulasi pengalaman tersebut saking kompleksnya kadang bisa terendap di alam bawah sadar. Itulah yang sering membuat metode PDKT seseorang konsisten lintas waktu—selama ia belum mengubah filosofi hidupnya. Artikel ini akan coba mengupas beberapa dugaan di balik fenomena PDKT yang ada di sekeliling anda.

 

“Ketika masing-masing pria dan wanita memiliki hasrat yang tak terbendung, bagiku itu seperti, walaupun banyak rintangan memisahkan mereka baik sebagai orang tua atau suami, tapi keduanya tetap saling memiliki atas nama kodrat, dan kekasih atas kuasa Tuhan, sekalipun konvensi manusia atau hukum.”

Sebastian Roch Nicolas Chamfort

 

Cewek dan Kehidupan Percintaan

Banyak cowok yang melit perihal paradigma romansa cewek. Saya akan beri tahu anda bahwa pola asmara cewek amat sederhana. Mereka sangat intuitif dan punya segudang fantasi soal kebahagiaan. Jika suka, umumnya cewek akan memberi kode. Bila cowok menanggapinya diiringi pendekatan berarti ada kemungkinan jodoh. Kalau cuek atau menjauh tandanya ia tidak suka. Makin berumur cewek, kian spesifiklah kriterianya. Saat ABG mungkin cukup ganteng saja sudah diterima namun sekarang musti ada kelebihan lain. Cewek seperti juga cowok, amat peka terhadap pendapat teman di sekitarnya. Punya pacar walaupun LDR itu lebih baik ketimbang jomblo—karena jomblo artinya tidak laku. Pacaran harus ada statusnya, mesti ada bukti autentik, wajib menimbulkan kesenangan, dan hubungan yang tidak menyenangkan adalah tanda ketidakcocokan, sederhana bukan.

Saya beberapa kali mengobrol dengan cewek dan mereka terperangah oleh pengetahuan ini—menit selanjutnya pembicaraan terdengar seperti kuliah psikologi. Saya dulu bahkan dengan naifny percaya bahwa cewek sulit dimengerti. Mungkin yang sebenarnya lebih tepat adalah cewek susah diikuti suasana hatinya. Tapi, pengalaman saya justru menunjukan bahwa di luar sana ada banyak sekali cowok yang mood-nya lebih bergelombang dibanding cewek. Hal ini sama dengan paradoks “Cowok itu tidak sensitif”. Sebenarnya tidak sedikit cowok di sekitar kita yang jiwanya lembut dan mudah tersakiti. Namun, entah karena sebab apa mereka jadi acuh pada sekitar.

Cewek sering menjalani peran sebagai korban dalam suatu percintaan. Cewek selalu mencari celah—dalam hubungan—sehingga mereka mampu membuktikan diri terzalimi. Saya rasa itu bagian dari mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Cewek menganggap cowok baal hatinya. Mereka yakin cowok akan baik-baik saja bila ada masalah percintaan. Selama sesi kencan, cewek sering mengutarakan butir-butir perbincangan yang intinya unjuk keunikan. Mereka kelewat percaya bahwa keyakinan/prinsip mereka berbeda dari kebanyakan orang. Alhasil sepanjang hubungan yang ada hanya adu argumen. Ini tidak akan terjadi bila hanya satu pihak yang dominan—entah itu cewek atau cowok. Cewek yang sangat dominan dan keras cenderung mencari cowok yang tak banyak cakap dan penurut. Alasan mereka, “Tidak cocok suka bicara dengan sesama suka bicara.” Terdengar agak personal dan unik?

 

Eksistensialisme

Menurut eksistensialis, satu-satunya cara manusia untuk memaknai keberadaanya di dunia ialah lewat pengalaman pribadi. Filsafat eksistensialisme amat sesuai dengan pribadi remaja yang ingin menemukan arti hidup melalui pengalaman pribadi—bukan kata orang. Pendekatan eksistensialis menekankan bahwa manusia bebas memilih, oleh karenanya, harus bertanggung jawab atas hal tersebut. Anak muda memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dalam hidup namun tetap tak terlepas dari (inheren) lingkungan sosialnya. Filsafat eksistensial menitikberatkan pada kebebasan dan tanggung jawab, penciptaan identitas diri, serta terjalinya hubungan yang lebih berarti dengan orang lain. Sadar tak sadar inilah landasan bagi beberapa metode PDKT berikut:

 

1.     Prinsip Kodratiah

Manusia dengan prinsip ini biasanya berpikir bahwa jadian adalah “Happy ending”. Jadian merupakan satu-satunya gerbang pernikahan, itulah filosofi mereka. Maka, jangan heran bila selama PDKT harta, nyawa, dan kehormatan rela dipertaruhkan. Tujuanya supaya si calon terkesima dan menganggap mereka kandidat pasangan yang ideal. Merekalah tipe tergalau dalam percintaan. Mereka mendewakan cewek dan melakukan semua ritual Ayah-Bunda selama pacaran. Individu ini memformalkan Cinta layaknya kodrat lahir-tumbuh-wafat. Ciri lain tipe ini adalah, keengganan untuk lepas dari zona nyaman PDKT. Mereka terbiasa memprospek cewek yang sehari-hari ditemui atau kenalan-kenalan yang diberikan teman.

 

2.     Prinsip Alamiah

Tipe ini menganalogikan PDKT dengan seleksi alam. Tidak buru-buru mengikat hubungan dan terbiasa jujur-sabar menunggu simpal balik tiap sinyal romansa yang ia kirim. Ia amat percaya bahwa waktu akan menunjukan sisi natural seseorang. Mereka sering dicap sebagai pemberi harapan/Cinta palsu. Sebab acap meninggalkan seorang yang telah ia dekati sekian lama tanpa penjelasan. Mereka amat paham bahwa euforia Cinta hanya sementara sedangkan tanggung jawabnya selamanya. Ia jelas menganalisa semua aspek sebelum akhirnya menetapkan pilihan. Mereka memiliki seperangkat gagasan koheren yang senantiasa diterapkan dalam percintaan. Sebagai manusia, mereka kelewat banyak mengenang sesal kegagalan menjajaki hubungan. Namun, bagi mereka itulah harga untuk sebuah kebahagiaan.

 

3.     Prinsip Islamiah

Sepertinya tidak perlu dijelaskan lagi. Mereka punya alasan dogmatis yang terlalu kuat dan saintifik dalam asmara. Segala jargon mereka memang terbukti amat prediktif. Tapi bagi remaja kebanyakan, gambaran mengenai kebahagiaan-ketentraman romansa sebenarnya terlalu muluk. Dosen saya yang alim tulen, berkelakar bahwa istri dalam realitasnya tidak seperti yang diimpikan. Itu jelas karena isi kepala dan cara pandang manusia tak sepenuhnya sama—meski panduanya tunggal. Terlepas dari itu semua, filosofi islamiah sangat memadai dalam memberi solusi untuk segala problema romansa.

 

4.     Prinsip Manipulasi

Bahkan cewek yang kurang menarik sekalipun tidak akan kesulitan untuk mendapatkan pasangan. Berbeda jauh dengan cowok yang setampan apapun tapi harus tetap berjuang menggebet cewek. Adil? Jelas sangat adil. Cowok berupaya sejujur dan setulus mungkin sewaktu PDKT tapi manipulatif setelah jadian sedangkan cewek sebaliknya. Cewek hobi main tarik-ulur, tebar pesona, kucing-kucingan, tes berantai, dan lain-lain selama PDKT tapi (seolah) mengabdi serta pengertian setelah jadian. Hubungan yang didasari filosofi ini misinya kadang absurd dan penuh muslihat. Tapi, prinsip manipulasi tak selamanya berujung buruk. Kadang setelah lama menikah, pasangan bisa terkekeh mengingat kisah manipulatif mereka sendiri.

 

 5.     Prinsip Iseng-Berhadiah

Deskripsi filosofi ini mirip umpan jamak. Mereka mendekati beberapa cewek sekaligus. Siapa yang paling merespon itulah yang diproses. Karena kurang kerjaan, kadang di media sosial mereka mengeluh “Kotak masuk sepi SMS”. Tipe ini masih bingung dengan gambaran ril dunia. Sehingga begitu diterjunkan di medan kehidupan mereka mudah frustasi. Rutinitas yang monoton akibat tiadanya kewajiban dari orang tua membuat golongan ini banyak memikirkan hal yang tidak penting. Alhasil romansalah yang digarap sebagai media penggugah adrenalin. Lingkungan yang salah kadang membuat waktu mereka terbuang percuma. Bukanya berkumpul belajar bongkar motor/mobil atau mengerjakan tugas sekolah malah menongkrong tiada juntrungan. Mereka sulit untuk diajak berkembang kecuali lingkaran sosialnya berubah.

Kadang terjadi perumitan di antara kelima prinsip PDKT di atas. Seseorang yang bermazhab kodratiah bisa saja sesekali menjajaki permainan iseng-berhadiah. Mungkin juga individu yang berhaluan islamiah berpikir kodratiah. Mampu menempatkan sesuatu dalam konteks yang jelas akan lekas membuat anda paham prinsip PDKT seseorang. Berpikirlah seterbuka dan sekritis mungkin! Dijamin anda tak akan lagi banyak mengeluhkan lika-liku PDKT dengan individu baru.

 

Metode Dalam Pandangan Pribadi

            Selama menulis Ucihasantoso saya menuai banyak komentar miring dari orang-orang terdekat. Tapi, alih-alih menebalkan telinga saya justru makin lebar membukanya. Saya kian tertarik dengan mereka yang menilai tulisan saya. Hari ke hari nalar dan kepekaan saya terasah sehingga memudahkan dalam penulisan blog ini. Semua berkat keinginan kuat menempa diri dan kebiasaan tidak menempatkan pribadi sebagai korban. Saya cukup kenyang mendengar detail cerita romansa seseorang dan membandingkanya dengan pengalaman sendiri. Walaupun belum mencapai teori yang komprehensif namun, saya bervisi Ucihasantoso bisa memperkenalkan sudut pandang romansa yang revolusioner.

Semasa menjaring ide artikel, saya juga akrab dengan cerita cowok yang meniduri banyak perawan. Tapi, apa faktanya? Jiwanya ternyata labil, rapuh, dan terguncang. Ia kehilangan pegangan, terlalu kecewa pada kenyataan, dan tak memiliki teman yang bisa diandalkan. Bila anda korek, metode romansa mereka bisa dibilang ampuh. Namun, keahlian mereka berhenti di situ saja. Tidak ada hal lebih yang bisa dibanggakan selain rayuan dan omong kosong. Ironisnya tak sedikit cowok lugu yang ingin mencapai level ini. Maka, tidak heran bila dilihat dari jauh hanya akan ada dua prinsip: Mengejar syahwat atau memegang syariat. Kedua kutub inilah yang kelak menspesifikan spektrum-spektrum metode PDKT seseorang.

 

Daftar Pustaka:

Cervone, D. & L. Pervin (2012). Kepribadian: Teori dan Penelitian. Jakarta: Salemba Humanika.

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Geldard, Kathryn., & Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    • buburasem
    • Februari 5th, 2013

    Gan, ane ada award nih buat ente gan. :D
    http://buburasem.wordpress.com/2013/02/05/dapet-very-inspiring-awards/

  1. Akibat prinsip Islamiyah tadi, saya masih jomblo elegen hingga hari ini. :D

  2. Kalo ke kalangan ababil agan dipanggil jomblo, kalo gaul ama bapak-bapak dianggep bujangan, nah kalo ama orang yg lebih dewasa dikit dicap lajang, terakhir kalo gaul ama orang beriman bakal dpt status “Menunggu jodoh”..

    Tergantung dr mn ngeliatnya :)

  3. Maacih gan..

    Eh! Ada info lomba blog gk?

    • buburasem
    • Februari 8th, 2013

    kayaknya sih banyak gan, biasanya di detik, vivanews, dan semacamnya ada tuh gan. tapi belum pernah ikutan hehe

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: