Pengaruh Kekerasan Dalam Kehidupan Percintaan

Pengaruh Kekerasan Dalam

Kehidupan Percintaan

 

Sebagian orang semasa kecil pernah mengalami kekerasan—baik fisik, emosional, psikis, verbal, maupun seksual. Efek traumatis yang menerpa acap menciptakan stres yang berujung pada depresi, penarikan diri, atau gangguan kecemasan. Kekerasan yang disertai ancaman juga sesekali terjadi selama pacaran. Umumnya korban mengalami ketakutan dan stres pasca kejadian. Semua peristiwa tadi tentu memengaruhi konstruk seseorang yang turut berpotensi mengubah pola interaksi antarindividu.

 

Pengantar

            Pernahkah bertanya kenapa pasangan atau teman anda sulit mengatasi stres? Apa anda pernah mengorek cerita keadaan keluarganya? Apa korelasi antara mengatasi stres dan riwayat keluarga? Suasana rumah selama usia perkembangan dan pembentukan jati diri memiliki hubungan penting. Seperti yang diketahui, keluarga merupakan media sosialisasi pertama bagi anak. Di sini fungsi kognisi mereka mengaktualisasi banyak nilai termasuk strategi coping dan mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang menjadi bekal sebelum terjun ke masyarakat luas. Artikel ini akan membahas secara abstrak respon korban kekerasan terhadap kehidupan asmara.

 

“Kasihilah seluruh dunia seperti Ibu mencintai anak satu-satunya!”

Buddha

 

Definisi

            Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penganiayaan, penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, perlakuan salah, dan lain-lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain—hingga batas tertentu tindakan menyakiti binatang dapat dianggap sebagai kekerasan, tergantung pada situasi serta nilai sosial yang terkait dengan kekejaman terhadap binatang. Istilah kekerasan juga mengandung kecenderungan agresif untuk melakukan tindakan destruktif.

Kekerasan paling umum yang diterima individu berasal dari rumah (domestik). Mungkin juga di dalam keluarga, seseorang tidak pernah mengalami penganiayaan sebelumnya. Tapi, begitu duduk di bangku sekolah hal tersebut terjadi. Kekerasan tidak hanya diserap lewat pengalaman langsung. Namun, juga bisa masuk dari tayangan media dan internet.

 

Menurut Terry E. Lawson, terdapat empat macam penganiayaan: Emosional, verbal, psikis, fisik, dan seksual.

  • Kekerasan emosional (emotional abuse)
    Kekerasan ini terjadi ketika orang tua atau pengasuh mengetahui anak meminta perhatian namun mengabaikanya. Ia membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin diganggu. Ia boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk atau dilindungi. Jika ini berlangsung konsisten, anak akan mengingat semua kekerasan tersebut. Orang tua yang secara emosional berbuat keji cenderung akan terus melakukan hal sama sepanjang hidup si anak.

 

  • Kekerasan verbal (verbal abuse)
    Biasanya berupa tindak verbal di mana pelaku melancarkan pola komunikasi yang bersifat menghina, ataupun melecehkan anak. Pelaku umumnya melakukan mental abuse, menyalahkan, melabeli, atau juga mengkambinghitamkan anak.

 

  • Kekerasan fisik (physical abuse)
    Kekerasan ini terjadi bila orang tua atau pengasuh memukul anak (ketika sebenarnya mereka sedang memerlukan perhatian). Bagi anak, pukulan itu kelak meninggalkan luka batin yang akan senantiasa diingat.

 

  • Kekerasan seksual (sexual abuse)
    Meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga (seperti istri, anak dan pekerja rumah tangga). Pemaksaan tersebut dilakukan dengan cara yang tak wajar atau tidak disukai dan dapat pula demi tujuan komersil.

 

Penganiayaan di antaranya disebabkan oleh pewarisan kekerasan lintas generasi. Studi menunjukan 30% anak yang dianiaya semasa kecil akan menjadi figur orang tua yang bengis. Sementara itu, hanya ada 2-3 persen dari keseluruhan orang tua yang melakukan kekerasan pada anaknya. Sebagian besar (70%) anak korban kekerasan tidak menjadi orang dewasa yang kasar diduga karena mereka justru membenci kekerasan.

Masyarakat kalangan bawah amat rentan terpapar kekerasan domestik. Ini dipicu oleh stres/tekanan sosial yang besar. Sebagian masyarakat kelas bawah pula cenderung lemah dalam fungsi kontrol keluarga. Hal ini berpotensi mendorong remaja mudah terbawa pergaulan dan mengekspresikan kenakalan. Pada strata ini jamak ditemui kaum dewasa yang mengonsumsi miras dan ganja. Psikotropika dan alkohol merupakan beberapa penyebab lain orang melakukan KDRT.

Terkait dengan kekerasan di sekolah, hal ini biasanya disebabkan lemahnya pengawasan. Sehingga makin lama berinteraksi dengan lingkungan tersebut remaja justru terdorong untuk berbuat nakal. Penganiayaan bisa amat sistematis dan struktural seperti kasus penindasan berlatar senioritas. Sekolah kadang mengetahui namun sengaja mengabaikanya. Buntutnya, rantai kekerasan tidak terputus dan terus dilestarikan hingga angkatan selanjutnya.

 

Efek Menahun

            Pasti anda familiar dengan Andika eks vokalis Kangen Band. Ia terkenal suka bikin onar dan doyan gonta-ganti pasangan. Tapi terlepas dari itu, tahukah anda apa musabab ia jadi begini? Ia adalah korban KDRT sewaktu kecil. Bahkan hanya dengan menceritakanya saja ia bisa menangis. Anak yang masih mengalami kekerasan hingga remaja umumnya merespon dengan salah satu di antara dua cara: (a) Mereka bisa jadi berperilaku antisosial yang disertai keagresifan tinggi atau (b) memendam rasa sakit dengan konsekuensi depresi dan munculnya niat bunuh diri.

Saya juga korban kekerasan domestik. Saat umur 6-8 tahun sering terbesit pikiran untuk pergi jauh dan menabrakan diri di jalan raya. Ketika beranjak remaja kekerasan masih berlanjut dan memicu alam bawah sadar saya untuk berlaku agresif. Saya tidak agresif secara fisik melainkan lebih pada perkataan. Setelah lulus SMA, saya tergugah untuk menyembuhkan diri dan mengikis sifat agresif. Baru pada umur 20-lah saya mulai merasakan faedah luar biasa dari usaha ini.

Andika tidak seberuntung saya. Saat remaja ia terlibat kenakalan seperti mencuri ayam dan mabuk-mabukan. Kemungkinan besar ia pula menderita trauma yang menjadikan pengidapnya punya batasan emosi tertentu (i. e tidak mampu memiliki perasaan Cinta yang mendalam pada seseorang). Strategi copingnya juga barangkali tidak berkembang. Ini diperkuat fakta bahwa ia akrab dengan alkohol dan psikotropika.

Menyaksikan KDRT juga dapat memicu trauma dan stres. Nikita Mirzani mengalami hal ini. Ia melihat langsung Ibunya mendapatkan perlakuan kasar dari sang Ayah. Timbul perasaan gelisah, depresi, dan ingin melawan ketika itu. Perih yang terus membayangi dilampiaskanya dengan merajah tubuh. Ia bertutur bahwa rasa sakit mentato badan bisa membuat ia lupa sesaat depresi yang mendera. Tato juga merupakan simbol ketidakacuhan terhadap otoritas—yang dalam hal ini orang tua.

Nikita terkenal dengan tindakanya yang senang memancing konflik. Percaya atau tidak, hal ini wajar bagi mereka yang mengalami stres pasca-trauma (PTSD). Terdapat kekurangan dalam pengendalian diri dan agresi serta penguasaan impuls bagi pengidapnya. Kesedihan Nikita bertambah ketika Ibu tempat ia bergantung meninggal dunia. Reaksi ini akan lebih berat jika menimpa anak muda.

Kekerasan juga diketahui berisiko mendatangkan kelainan seksual. Ini ditemukan pada Verry Idham Henryansah, pemuda Jombang penjagal 11 nyawa yang diduga gay. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai orang alim yang taat beribadah. Sigmund Freud sempat mengemukakan bahwa sebagian orang berusaha alim untuk melawan kecenderungan negatifnya. Mungkin inilah cara Ryan dalam mencegah dirinya berbuat keji.

Terungkap bahwa Ryan juga tidak mampu mengingat pesan baik yang disampaikan keluarganya. Apa yang dikenang hanyalah bayangan buruk. Bahkan sewaktu berumur empat tahun pemandangan sehari-hari yang harus ia hadapi adalah perselingkuhan orang tuanya. Ryan beberapa kali melihat Ibu-Bapaknya bersenggama dengan selingkuhan masing-masing. Dampaknya, emosi Ryan jadi labil dan muncul keinginan memberontrak. Ketika SMP Ryan sempat protes. Akibatnya ia diikat di pohon lalu dipukuli.

Karena tidak tahan, Ryan lari ke kuburan dan tinggal di sana 2-3 hari. Ibu lebih kerap memukuli Ryan ketimbang Bapak—Inilah sebabnya ia benci wanita. Teman-teman dan masyarakat yang mengetahui kehidupan Ryan menaruh kasihan. Tetangga mengatakan bahwa Ibu Ryan layaknya wanita jalang. Keadaan keluarganyalah yang menghantam ia dari kecil sampai sekarang tutur Ryan. Kekerasan fisik dan emosional plus keadaan keluarga yang kacau—selama masa perkembangan—telah membuat Ryan terjangkit gangguan jiwa.

Cerita di atas bisa jadi terkesan ekstrem. Tapi, satu kesamaan dari semua kisah di atas adalah “Kondisi keluarga mereka kurang harmonis”. Penganiayaan mungkin biasa dilakukan oleh Ibu/Ayah namun, itu belum tentu diikuti kendornya kontrol pengasuhan. Maka, bisa dijamin bahwa kebanyakan korban KDRT masih bisa berperilaku adaptif. Walaupun begitu, kekerasan yang berlangsung selama periode tertentu akan menumbuhkan sikap agresif, keras kepala, introvert, dan cenderung menjaga jarak pada anak/remaja.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Pola Perilaku Anak”, “Kekerasan Seksual”, dan artikel Dampak Kekerasan Pada Anak, Fenomena Tindak Kekerasan di Lingkungan Anak, serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Geldard, Kathryn., Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

 

 

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: