Saat Tepat Untuk Mengakhiri Hubungan

Saat Tepat Untuk Mengakhiri Hubungan

 

Mungkin sesekali anda bertemu lagi dengan sang mantan. Melihat wajahnya yang dulu biasa kini jadi lebih bercahaya—setelah ia bersama yang lain. Tersirat penyesalan ketika mengenang musabab perpisahan tersebut. Apakah sesudah berpisah anda baru sadar bahwa dialah cewek yang tepat? Apa keputusan yang anda buat kemarin terlalu emosional? Ada yang tidak beres jika hal ini terus berulang.

 

Pengantar

            Pernahkah anda merasakan stagnasi dalam hubungan? Tidak maju-tidak mundur dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Lalu, jika orang tuanya menjodohkan dia, apa yang akan anda lakukan? Banyak juga hubungan di mana hanya ada satu pihak yang aktif. Pihak kedua jarang mau menanggapi, menjauh, dingin, cuek, tapi tidak pernah tercetus ingin putus. Ingin bubar-terlanjur sayang tapi, ingin menikah juga belum siap. Alhasil anda bertahan dengan hubungan semu nan membuang waktu ini. Artikel berikut akan berusaha menjawab pertanyaan tentang momen yang cocok untuk mengakhiri hubungan.

 

“Lawanya Cinta bukanlah benci, tapi perpisahan. Jika Cinta dan benci memiliki kesamaan itu karena, dalam kasus keduanya, merekalah yang membawa (individu) dan membuatnya bersama-sama.”

John Berger                                             

 

Tak Selamanya Terang

            Setidaknya terdapat dua tipe cara putus: Hilang kontak dan bicara langsung. Tidak ada cara terbaik—semuanya tergantung situasi. Tipe hilang kontak cukup cocok untuk pacar yang masabodoh. Kenapa? Karena memang itulah kemauanya. Tipe bicara langsung selama ini dinilai sebagai yang paling resmi. Namun, beberapa orang yang egois lebih suka melakukanya lewat HP.

Sebagian menuturkanya dengan intro yang indah: “Aku ingin kamu dapat yang lebih baik.”, “Kamu terlalu baik untukku.”, dsbg. Tapi, ujungnya tetap sama. Umumnya alasan putus seputar ketidakcocokan, bosan, atau faktor siuman. (a) PDKT yang hanya 1-3 minggu serta bias deskripsi kerap menyebabkan masalah di hari depan. Segalanya semata dilihat dari luar dan ini mustahil mampu mengidentifikasi tingkat keserasian. (b) Kebosanan merupakan hal utama yang sulit dipertanggungjawabkan remaja. Perspektif mereka masih terlalu sempit untuk melihat manfaat suatu hubungan. (c) Faktor siuman ialah alasan populer penyebab bubar selanjutnya. Baru setelah jadianlah anda sadar bahwa dia tidak sempurna, kasar, manipulatif, munafik, atau materialistis. Tentu saja dia dari dulu sudah begini, andalah yang salah sudah memilihnya.

 

Momentum

Barangkali kita sering menganggap diri tegas, berwibawa, lugas, atau cerdas. Tapi, kenyataanya semua itu akan luntur begitu bertemu cewek. Kelakuan kita kadang konyol, gelisah, plinplan, dan mudah tidak terus terang. Jangan khawatir kepribadian berubah! Ini hanya respon emosional sesaat. Sayangnya itu baru normal setelah anda putus. Lalu, bagaimana dengan normalisasi semasa hubungan? Berikut, adalah titik kritis di mana hubungan sebaiknya diakhiri:

 

 1.     Saat memasuki tahap logika

Logikanya, seusai PDKT jadian. Lalu, apa yang akan dilakukan setelahnya? Dipertahankan? Sampai kapan? Apakah menikah adalah tujuan akhir anda? Berapa usia anda sekarang? Tahukah anda menurut cewek berapa usia ideal untuk menikah? Apa pada umur tersebut anda siap meminangnya? Gamblang bahwa hubungan ini sekedar hiburan jika dijawab dengan ragu-ragu. Anda boleh mengakhirinya kalau bosan.

2.     Saat merasa tidak enak dengan keluarga

Sudah lama mau bubar tapi, tidak pernah kejadian sebab segan dengan mamanya. Beberapa juga belum putus karena keluarga terlanjur setuju dengan si dia. Andalah yang paham isi hubungan tersebut. Jangan buat keputusan hanya demi menyenangkan orang lain!

3.     Saat takut tidak bisa mendapat yang lebih baik

Mungkin ia adalah cewek cantik, manis, semok, atau lucu. Tapi, itu bukan alasan masuk akal untuk tetap mempertahankanya. Penampilan hanya awet dalam bingkai gambar. Watak dan karakterlah yang akan membahagiakan anda.

4.     Saat perkelahian cenderung makin destruktif

Pertengkaran sudah mulai main banting, teriak-teriak, fitnah di sana-sini, dan itu kian lazim dipublikasi. Berhentilah! Dia sudah tidak lagi menghargai anda sebagai individu—lebih-lebih selaku pacar. Ia menggunakan semua kekurangan anda sebagai bahan ejekan begitupun sebaliknya. Pertarungan ini jauh dari kata dewasa. Berpisahlah ketika masih punya akal sehat!

5.     Saat usaha untuk bersama surut

Saat PDKT dan pertama jadian ada saja ide muncul untuk pergi bersama. Anda ingin mengantar-jemputnya walau rumah tak searah. Apel kalau bisa tidak cuma malam minggu. Saat ini yang ada malah saling menghindari kontak. Telepon dan SMS yang dulunya rutin dinanti kini berubah jadi teror. Inilah pertanda hubungan anda di ambang bubar.

6.     Saat anda lebih senang sendiri

Sedikit-sedikit jalan-jalan, makan-makan, karaoke, photo box, dsbg. Ke mana-mana inginya berdua—bahkan teman pun dinomorsekiankan. Tapi, sekarang tidak lagi. Anda tak ingin lagi melapor posisi dan kegiatan, diajak kencan, serta lebih senang keluar bersama kawan atau menonton anime sendiri di kamar seharian. Tidak perlu melakukan usaha lebih karena, hubungan ini memang sudah tamat.

 7.     Saat pertengkaran kian gampang terkobar

Candaanya dulu begitu lucu dan apapun cara ia menjuluki bisa langsung membuat anda tertawa. Tapi sekarang, sindiran ringan sekalipun akan memicu gesekan. Ini indikasi terdapatnya tumpukan bara dalam hubungan kalian. Kian dipertahankan justru akan memperburuk perselisihan. Berhentilah sebelum ini mengganggu produktivitas hidup!

Terlepas dari pernah tidaknya mengalami hal-hal di atas. Sebuah hubungan memang seyogianya ditinjau ulang segera setelah anda merasa ada yang salah. Jangan terlalu lama larut dalam emosi!

 

Pemulihan

Ada yang hilang setelah berpisah. Bagaimana cara mengisi kekosongan tersebut? (1) Perbarui rutinitas, (2) perbanyak waktu bersama teman, (3) jangan cari cewek dalam waktu dekat, (4) terima kenyataan, (5) jauhi mantan, (6) bersosialisailah, (7) tutupi kerapuhan, dan (8) biar waktu yang menyembuhkan. Kedelapan hal di atas hanya akan berhasil bila anda sanggup melawan kecemasan.

Memperbaharui rutinitas itu sulit. Anda yang terbiasa tiap hari menelpon dan mengantar-jemput dia kini harus berhenti melakukanya. Tapi, ingatlah sebelum ada dia anda sudah baik-baik saja! Rutinitas lama hanya akan memperapuh keadaan. Lihat sisi baiknya! Inilah kesempatan anda untuk menjelajahi indahnya masa lajang. Memperbanyak waktu bersama teman juga adalah suplemen selama kebangkitan (move on). Di sini anda bisa menertawakan banyak hal, menyalurkan hobi, merasa diterima, dan mendapatkan solusi.

Tidak lekas pacaran sehabis putus ialah langkah penting lainya. Ini guna mencegah lebih melukai diri dan pasangan baru anda. Beban psikis yang anda tanggung berisiko menghalangi hubungan yang tulus dan sejajar. Pada umumnya hubungan pelarian setelah putus berakhir dengan pertengkaran sengit dan kejam. Serupa halnya dengan menerima kenyataan yang merupakan jembatan antara pikiran dan tindakan. Menyangkal hubungan yang telah usai—tidak ada gunanya—hanya akan membuat anda menunjukan sisi labil dan kekanak-kanakan pada sang mantan.

Mengembalikan seluruh pemberian dan menjauhi mantan jadi langkah selajutnya. Ini demi menjaga akal sehat anda. Celaka bila di saat anda galau dan membutuhkan belaian ia tiba-tiba kangen mengajak balikan. Inikonsistensi tersebut mampu melekat dan jadi kebiasaan. Mengikuti acara sosial, bertemu dengan orang baru, atau mencoba memperbaiki hubungan dengan teman lama akan cukup ampuh memitigasi dampak ini. Selain itu pula silaturahmi yang baik merupakan jalan untuk masuknya rejeki. Jika semua hal di atas sudah benar-benar diamalkan, tinggal tunggu waktu hingga anda menyadari hikmah peristiwa ini.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari artikel ASKMEN.COM Top 10: Signs It’s Time to Break Up, Post-Breakup Maintenance, Recovering From Breakup, Ciri Pacaran Tidak Sehat, serta banyak artikel lainya.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: