Cara Mengakhiri Perselisihan Dengan Cewek

Cara Mengakhiri Perselisihan

Dengan Cewek

 

            Apakah anda terhubung dengan cewek hanya ketika pacaran? Bagaimana cara anda menjalin hubungan tersebut? Kebanyakan pertengkaran terbuka hanya terjadi di telepon. Namun jarang di dunia nyata—karena cewek keburu merajuk. Beberapa perselisihan dipicu oleh usaha salah satu pihak untuk mengubah pihak lainya. Ini diperburuk dengan kebiasaan pasangan mengaitkan suatu di luar topik ketika pertengkaran terjadi. Pertengkaran adalah bumbu hubungan. Tapi, bagaimana anda tahu jika komposisinya tepat?

 

Pengantar

            Ego besar, emosi tinggi, dan kepercayaan merusak diri bersatu membentuk jiwa remaja yang gemar membuat kebutusan emosional. Remaja haus kebebasan. Tapi, begitu dikenai tanggung jawab atas hal tersebut mereka malah bingung—sebab sewaktu kecil semua masalah diatasi oleh orang dewasa. Anak muda biasa menganggap kemarahan pantas dilepaskan bila diprovokasi. Itulah yang mendudukan mereka pada sifat keras kepala dan siklus model kekerasan. Artikel ini akan memperkenalkan anda berbagai metode untuk melalui badai sepanjang hubungan.

 

“Banyak lelaki jatuh Cinta pada gadis dalam remang-remang yang dipilih tak sesuai dengan keinginan.”

Maurice Chevalier

 

Impuls Komunikasi

            Lucu jika dipikir bagaimana bisa pasangan yang baru seminggu PDKT harus tiba-tiba mesra begitu jadian. Mesti tampak saling menyayangi, mengerti satu sama lain, dan akur. Risih pula rasanya melihat orang-orang yang senang mengumbar kemesraan di media sosial. Keingintahuan mengenai kabar masing-masing berubah jadi percakapan panjang. Tak jarang suatu status—yang sengaja dibuat untuk menguji respon pasangan—dikomentari tidak semestinya. Alhasil, Time line pun jadi ajang galau dan permintaan maaf.

Perselisihan biasa dilatarbelakangi kekecewaan atau kebosanan. Beda antara cekcok sebagai bumbu hubungan atau pemicu bubar terletak pada intensitas Cinta keduanya. Saat Cinta masih membara, segala kekhilafan akan termaafkan. Namun ketika fase itu terlewati, ritual SMS-an atau bahkan apel—yang biasanya dinanti—bisa jadi suatu yang meletihkan dan rawan konflik. Inilah akibat dari masa kecil yang tidak terbiasa mengelola perasaan—sehingga membuahkan kecemasan dan inkonsistensi.

Anak muda acap membawa sifat kekanak-kanakan dalam interaksi keseharian. Mereka mudah berperan sebagai korban dan mengekspresikan emosi berlebihan ketika terjadi gesekan. Tapi, ada juga yang memilih untuk merepresi emosi ketimbang mengekspresikanya. Umumnya amarah tersebut akan memicu kegelisahan dan menyublim dalam mimpi yang berulang. Baik strategi internalisasi maupun eksternalisasi emosi remaja masih pada tahap percobaan.

 

Jenis Pertikaian

            Riset menunjukan bahwa pasangan yang terbiasa ribut selama pacaran akan makin jadi setelah menikah. Tapi, ribut belum tentu buruk. Sebaliknya, tidak pernah ribut juga belum tentu bagus. Berikut, adalah tingkat konflik dari yang paling ringan hingga yang spesifik:

 

 1.     Ribut Tuntutan Dasar

Ketegangan ini dipicu oleh kurangnya perhatian, SMS yang tidak dibalas, sering ditolak kencan, sikap egois, inkonsistensi, dan banyak pernik pacaran lainya. Cowok berpikir bahwa dengan memenuhi semua tuntutan di atas cewek akan puas. Ternyata alih-alih berhenti, tuntutan tersebut malah makin tinggi hingga menyulut perlawanan.

 

2.     Ribut Simbolis

Hanya terjadi pada pasangan yang sudah memasuki fase bosan. Sejak pertama jadian hingga sekarang rutinitasnya hanya menelpon berjam-jam. Jelas saja jika tidak ada yang dibicarakan dan makin kebelakang malah berakhir dengan pertengkaran. Cewek ribut bukan karena apa yang anda katakan. Tapi, lebih pada keinginan mengungkapkan kegelisahan.

 

3.     Ribut Perselingkuhan

Berkhianat artinya tidak menghormati amanah. Kejadian macam ini memang pantas jadi sebab putus. Namun, ada kalanya selingkuh diampuni. Ini mungkin lantaran korban berusaha memahami bahwa selingkuh tidak murni kesalahan pelaku. Tapi, tetap saja kepercayaan tidak akan pulih seperti dulu.

Bila putus sekalipun, korban tetap akan membawa trauma dan luka batin. Hingga timbul kecenderungan untuk mencurigai tiap gerak pacar selanjutnya sebagai indikator penyelewengan. Sikap itulah yang kerap akan memantik bara dalam romansa.

 

4.     Ribut Ingin Mensabotase

Masih ingat kisah Roro Jonggrang? Hal ini juga terjadi di dunia nyata. Saat cowok mengemis cinta, beberapa cewek akan memberi syarat yang nyaris mustahil dipenuhi. Lalu, setelah cowok menerima tantangan tersebut, khawatirlah ia. Tiap hari mereka memantau dan berharap si cowok gagal. Jika anda bertanya kenapa mereka selalu menghasut. Tentu saja agar anda tidak betah dan pergi menjauh.

 

Solusi

            Orang baru mencari bantuan ketika masalah sudah benar-benar besar. Manusia merasa segala masalah kecil dapat diatasi sendiri—padahal mereka belum pernah dilatih untuk itu. Apa tujuan anda mengatasi masalah dalam pacaran? Agar hubungan langgeng? Kita bukan orang barat yang bisa pacaran 16 tahun dan tinggal serumah—lalu menikah ketika benar-benar siap. Riset menunjukan bahwa keberhasilan pacaran tidak sama sekali berhubungan dengan kebahagiaan pernikahan. Mereka adalah dua hal yang jauh berbeda.

Teman saya pernah tanya bagaimana cara supaya kesalahan fatalnya dimaafkan dan sang mantan mau kembali merajut hubungan. Etisnya saya tidak boleh memberikan tafsiran. Ia sendirilah yang harus menjawab, dengan perandaian, “Bagaimana jika teman baikmu—yang sudah amat dipercayai—membawa lari aset perusahaan? Lalu, kini ia datang lagi ingin mengembalikan apa yang dulu pernah dirampas—seraya mengajak berbisnis bersama seperti sediakala. Apa yang harus temanmu ini lakukan agar kau sudi menerimanya?” ia pun terdiam dan mulai memahami posisi sang mantan.

Cekcok tidak akan konstruktif bila anda terus menghindar. Namun, juga tidak bisa jernih bila saling mengungkit kesalahan. Jadi, bagaimana baiknya? Hindari menggunakan kata “Kamu” sebagai awal seruan! Ganti dengan kata “Aku”! Bukan, “Kamu membuatku kesal.” tapi, “Aku kesal melihat kelakuanmu.” dengan begini anda akan menjauhkan orang dari rasa tertuduh. Sebaliknya, mereka akan memiliki waktu untuk memikirkan kesalahanya. Namun, individu juga harus sadar bahwa kadang tidak semua harapan dapat terpenuhi. Mereka harus belajar menerima perbedaan dan menghentikan perdebatan lanjutan!

 

Mengelola Kemarahan

Apa penyebab perselisihan anda dengan pacar? Apa itu terjadi juga pada pacar sebelumnya? Bisa jadi kesalahanya tidak di mereka, melainkan pada anda. Remaja yang memiliki masalah pengendalian emosi perlu mengeksternalisasi hal tersebut—guna mencari tahu penyebabnya. Berikut, lima tahap dalam mengendalikan amarah: (1) Mengidentifikasi pola respon marah, (2) pemicu serta katalis pribadi, (3) mengeksternalisasi, (4) memfokuskan pada kekuatan pribadi, dan (5) memilih tipe pengendalian diri.

Identifikasi pola respon marah meliputi: Hal-hal yang mendahului kemarahan, perilaku yang ditunjukan, dan konsekuensi yang muncul. Hal yang mendahului kemarahan bisa berupa suasana hati sebelum marah dan perilaku sekitar yang memancingnya. Perilaku yang ditunjukan selama marah harus jelas apakah cenderung fisikal, verbal, atau keduanya. Terakhir adalah tinjauan mengenai konsekuensi yang muncul akibat tindakan tersebut—terasa nyaman atau tidak.

Identifikasi pemicu serta katalis pribadi dijelaskan sebagai berikut: Pemicu adalah peristiwa eksternal yang mendahului amarah. Katalis ialah kepercayaan dan pola pikir yang membiarkan pemicu untuk menyulut kemarahan. Contoh pemicu: Ejekan teman, hasutan, diserobot, atau disenggol. Contoh katalis: Kepercayaan bahwa semua orang harus berlaku adil, tidak melanggar aturan, rasa ingin selalu diutamakan, suudzon, dsbg.

Eksternalisasi adalah pemodelan amarah dengan deskripsi tertentu. Sehingga mengesankan “Respon marah” memiliki wujud dan kepribadian terpisah dari diri anak muda. Guna memahami model ini, anda harus menggambarkanya di kertas! Dengan komponen: Pemicu, diri, katalis, dan respon marah.

model respon marah

Setelah menggambarnya, buatlah tabel simulasi seperti berikut:

tabel pemicu, katalis, dan alternatif kepercayaan

Anda bisa memasukan kasus dengan pacar (pemicu), katalis pribadi, beserta kepercayaan alternatifnya di sini. Perlu disadari bahwa “Diri” bisa jadi komponen terkuat dalam model ini—jika anda menghendakinya. Hal itu dapat terwujud lewat pertanyaan, “Siapa yang lebih kuat, anda atau si amarah? Apa anda akan membiarkan pemicu dan katalis, begitu saja, mengecoh serta menimbulkan dampak buruk? Apa anda siap untuk menangkis pemicu dan menetralisir katalis?” tiap katalis harus ditantang dan digantikan oleh kepercayaan yang sehat.

Bersikap agresif membuat anak muda merasa kuat, berkuasa, dan dihargai. Memfokuskan pada kekuatan pribadi bertujuan untuk mencari cara lain mendominasi—selain dengan kekerasan. Individu harus paham bahwa orang kuat adalah mereka yang mengontrol kemarahan dan bukan sebaliknya. Pada tahap ini, anak muda dapat didorong untuk menyadari manfaat besar dari mengendalikan amarah.

Ada beberapa cara mengendalikan diri dan mengekspresikan amarah sewajarnya. Seperti: Menghindari pemicu, mengenali gejala eskalasi emosi, menggunakan penghentian pikiran, dan relaksasi. Dengan mengetahui pemicu kemarahan, anda akan mudah menghindari situasi-situasi yang memancingnya. Sebelum marah pula terjadi gejala fisiologis seperti otot menegang, mata merah, rahang mengunci, atau tangan mengepal. Pengetahuan tersebut berguna dalam penghentian pikiran. Metode ini bekerja dengan cara berkata “Stop” dalam hati ketika tubuh terasa akan marah. Cara terakhir adalah dengan relaksasi. Tarik nafas lewat hidung dan hembuskan dari mulut perlahan 2-3 kali—sambil menggerak-gerakan anggota tubuh! Ini bertujuan untuk meredakan ketegangan sebelum kemarahan.

 

Penutup

            Dalam suatu hubungan, individu datang sudah membawa sifatnya masing-masing. Mereka jadian tidak untuk merubah sikap, melainkan supaya punya pacar. Itulah kenapa bila cekcok, yang terjadi hanya saling mempertahankan pendapat. Mengurangi argumen yang menyerang mungkin akan meminimasi dendam. Tapi, menyadari bahwa kalian adalah tim akan menjadikan anda dewasa.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari artikel ASKMEN.COM 5 Tips For Arguing with women, Arguing in Relationship, Argument Techniques to Avoid, Rules in Relationship, Tips agar Tidak Sering Bertengkar Dengan Pacar, 7 Ciri Pria Tidak Dewasa/Kekanak-kanakan, serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Geldard, Kathryn., Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: