Mengalirkan Energi Cinta ke Dalam Pengejaran Akademik

Mengalirkan Energi Cinta

ke Dalam Pengejaran Akademik

 

            Pembentukan konsep diri selama masa remaja tidak terlepas dari tugas perkembangan romansa. Konsep diri merupakan sumbangan besar dari pergaulan dengan teman sebaya, didikan orang tua, dan pemikiran konstruktivis remaja. Diketahui bahwa remaja yang memulai pacaran terlalu dini akan menghabiskan lebih sedikit waktu dengan teman sebayanya. Hal ini memicu kristalisasi yang terlalu cepat terhadap konsep diri dan identitas seseorang (precocious). Sehingga akan menimbulkan kecenderungan untuk sulit menghadapi stres, kesepian, dan masalah dalam bidang akademik.

 

Pengantar

Hidup penuh dengan tantangan—baik eksternal, maupun, internal. Sebagai individu di awal masa dewasa, pendidikan adalah hal yang wajib diraih. Namun, dalam perjalan, sedikitnya dukungan emosional dari lingkungan, konsep diri, serta strategi coping yang belum berkembang sering menghadang kelanjutan studi. Artikel ini akan coba menunjukan anda cara memanfaatkan berbagai pengetahuan Cinta guna meningkatkan fokus akademik.

 

“Suatu hari, setelah menguasai angin, ombak, gelombang, dan gravitasi manusia harus mengekang energi Cinta; dan untuk kedua kalinya dalam sejarah kita akan menemukan gejolak.”

Pierre Teilhard de Chardin

 

Lembah Hitam

Beberapa waktu yang lalu saat berkumpul bersama teman-teman semasa SMA. Saya mendengarkan sebuah kisah legendaris yang amat menginspirasi. Begini ceritanya:

Janji Lama

Dikisahkan pada zaman dahulu di fakultas hukum universitas Lampung hidup seorang mahasiswa berantakan yang sudah dua tahun sama sekali tidak kuliah. Kenapa ia belum di-DO? Karena walau tidak pernah kuliah ia masih tetap membayar. Suatu hari saat sedang setengah mabuk karena ganja. Seorang cewek yang baru keluar dari masjid menghampirinya dan meminta diantarkan ke kost. Ia menyangka pemuda ini adalah tukang ojek.

Sesampainya di tempat tujuan, sang pemuda meminang si cewek, “Mbak, mau tidak menikah dengan abang?” ia mengatakan ini dengan sadar. Lalu, si cewek menjawab, “Iya bang, tapi saya selesaikan kuliah dulu.” hari berlalu begitu saja semenjak itu. Hingga dua tahun kemudian si ukhti tiba-tiba datang ke kost dan menagih janjinya. Sepulangnya si ukhti dari kostnya, sang pemuda menangis tersedu-sedu.

Semenjak itulah ukhti ini selalu mendorong si abang untuk melanjutkan kuliahnya yang sudah empat tahun terbengkalai. Si ukhti begitu setia menunggui abangnya kuliah. Ini dilakukan agar si abang tidak kabur dan mengulang kesalahan yang sama. Ukhti ini menghidupi dirinya dengan mengajar ngaji pada anak-anak di sekitar Kampung Baru. Empat tahun kemudian studi si abang selesai dan ia pun siap menikah.

Setelah menikah, tentu saja sang pemuda wajib menafkahi istrinya. Ia mengawali kerja sebagai penjaga minimarket. Dari mulai tukang menyusun barang di rak, naik jadi kasir, lalu pindah ke gudang, dan jabatanya terus naik. Hingga sekarang ia sudah memiliki jabatan tinggi di bagian advokasi hukum retailer tersebut. Ia kini berjanggut, bergamis, dan sering mengunjungi UNILA untuk menginspirasi semua mahasiswa yang dulu sama sepertinya.

 

Sudah jadi rahasia umum kalau pemakai juga memiliki teman sesama pemakai. Hal ini biasanya disebabkan oleh dua hal: (1) Kebutuhan pergaulan dan (2) akses yang mudah untuk mendapatkan barang tersebut. Keluar dari lingkaran ini bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan dukungan moril yang besar dan ajek serta rasa penerimaan yang pasti. Pada kasus di atas, calon istrilah yang amat mendukung untuk sembuh dan kembali ke jalan yang benar.

Konsistensi si ukhti membimbing abangnya terbukti dapat menyukseskan studi calon suaminya. Ini berawal ketika individu percaya bahwa tuntutan dan situasi dapat diubah. Sehingga mereka mampu mempelajari banyak keahlian baru dalam mengatasi stres. Hubungan romansa yang mengurangi waktu bersama teman sepergaulan rupanya jadi kunci sukses ukhti ini menyelamatkan abangnya. Selain itu juga iman yang disemai si ukhti merupakan senjata utama untuk menghalau godaan dari benda-benda terlarang.

Anehnya, sudah tahu calon suaminya kacau, kenapa ukhti ini tetap berkeras ingin menikahinya? Sebab dalam jiwa manusia terdapat rasa kepahlawanan ketika mampu mengatasi masalah orang lain. Mungkin ini yang memicu si ukhti kecanduan untuk tetap membantu si abang. Ada kemungkinan juga kenapa sang pemuda tidak lari adalah karena ia merasa sudah saatnya bersikap dewasa.

 

Perbedaan Individu

Terdapat empat karakter gaya berpikir seseorang: Konkret berurutan, konkret acak, abstrak berurutan, dan abstrak acak. Tiap individu memiliki salah satu gaya berpikir yang dominan di antara keempat karakter tersebut. Ketidaksadaran tentang gaya berpikir yang dimiliki, kadang membuat studi terganggu karena Cinta. Konsentrasi kuliah yang buyar, kesepian, stres, dan cemas merupakan efek samping Cinta yang sulit ditangani. Salah satu cara menyelsaikanya adalah dengan mengajak dialog sisi-sisi berlawanan dalam diri dan membangun pemahaman kognitif yang jelas. Berikut beberapa saran bagi keempat karakter agar dapat menyelaraskan antara studi, romansa, dan kehidupan sosial:

  • Konret Berurutan (Conrete Sequential)

Orang dengan tipe ini cenderung, teratur, dan rapi. Mereka selalu mengerjakan tugas tepat waktu, terencana, dan tidak suka hal-hal yang mendadak. Selain itu, para concrete sequential tidak senang menumpuk-numpuk tugas. Mereka orang yang perfeksionis sehingga ingin segala sesuatu dikerjakan dengan sempurna dan terencana. Orang concrete sequential menyenangi hal yang terjadwal dan rutin. Watak keras kepala mereka sering menghalangi dalam bekerja kelompok.

Saat jatuh Cinta tipe ini cenderung sentimental dan sensitif terhadap kritik. Kegalauan itulah yang kadang menghambat concrete sequential dalam mengerjakan tugas. Sehingga sering terseok-seok mengejar jadwal belajar yang sudah ditetapkan. Individu ini disarankan untuk sering berintrospeksi agar lebih memahami emosinya. Jangan terlalu reaktif terhadap kesalahan orang lain! Ketahuilah bahwa tidak semua orang punya prinsip sekeras anda! Berusahalah untuk selalu melihat motif di balik suatu perilaku! Tidak semua orang senang berkencan dengan pergi ke acara sosial. Luangkan lebih banyak waktu berdua! Serta, cobalah untuk sedikit mengungkapkan perasaan!

 

  • Konkret  Acak (Concrete Random)

Sering dianggap orang yang kreatif karena gemar mencoba menyelesaikan sesuatu dengan cara sendiri. Mereka cenderung tidak peduli waktu. Terkenal sebagai “Deadliner” sebab, sering mengerjakan sesuatu di batas akhir. Mereka sanggup mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Spontan dan impulsif menjadi ciri khas tipe ini. Mereka tidak suka adanya larangan dan batasan. Benci laporan-laporan formal serta rutinitas. Namun, sikap benci jadwal menjadikan mereka sulit diandalkan. Sifat ingin tahu sering mengalahkan rasa tanggung jawab. Kurangnya introspeksi membuat tipe ini terlalu banyak meilhat ke luar.

Belajar bukanlah hal yang menarik—kecuali bila itu sudah dekat ujian atau memancing rasa penasaran. Rasa ingin tahu yang besar serta dorongan untuk terus bergonta-ganti pasangan. Mendorong mereka untuk lebih aktif di media sosial ketimbang di meja belajar. Demi kelancaran studi, anda bisa menantang diri sendiri untuk memenuhi beberapa target akademik! Temukan sisi menarik dari studi tersebut! Berkumpulah dengan teman yang bertanggung jawab! Jangan terlalu sering lari dari masalah! Jangan pula mudah mendekati sesuatu (misalnya cewek) hanya karena itu menarik! Pikirkan juga resikonya!

 

  • Abstrak Berurutan (Abstract Sequential)

Biasanya merupakan pemikir yang cerdas dan punya ide-ide brilian. Mereka senang mengetahui dan berpikir tentang apa yang tidak dipikirkan orang lain. Hobi membaca membuat individu ini gemar berdiskusi, bahkan berdebat. Kadang mereka lupa bahwa orang di sekitarnya tidak paham dengan ide-idenya yang terlalu tinggi. Lebih menyukai belajar sendiri ketimbang berkelompok. Tipe ini adalah “Konseptor ulung” dan jago menganalisa informasi. Mereka logis, ketat, skeptis, dan belajar dengan cara mengamati ketimbang melakukan.

Mereka memiliki sedikit sekali pengalaman pacaran dan cenderung ingin cepat meresmikan hubungan agar lekas mengalihkan fokus pada hal lain. Orang abstract sequential mendekati cewek dengan analisa komprehensif. Tapi, jangan berpikir mereka lambat! Justru merekalah yang paling nekat dibanding tiga karakter lainya. Namun, sikap yang terlalu tulus dan selalu ingin membantu pasangan. Menjadikan mereka sering merasa dimanfaatkan, rentan depresi, dan larut menyalahkan diri sendiri.

Demi hidup yang lebih baik, perbaikilah keterampilan sosial anda! Tidak semua orang suka analisa. Jadi persingkatlah waktu ketika membuat keputusan! Jangan terlalu berterus terang! Jagalah perasaan orang lain! Tipe ini mungkin yang paling sukses dalam studi. Tapi, cewek tidak akan mudah takluk dengan logika akademis anda. Belajarlah untuk realistis dalam melihat kemungkinan lain! Karena tidak mudah berubah pikiran (misalnya soal cewek) belum tentu berakibat baik.

 

  • Abstrak Acak (Abstract Random)

Mereka terkenal sangat sensitif karena sering menghubungkan segala hal dengan perasaan. Tipe ini terlalu bergantung pada suasana hati. Mudah kehilangan konsentrasi, banyak pertimbangan, dan suka mencoret-coret tanpa arti di buku. Mereka sangat menjaga hubungan dengan orang lain, tidak senang berkonflik, dan dikenal perhatian dengan indivdu di sekitarnya. Selain itu, mereka juga sangat mudah tersentuh. Ekspresi ini mungkin disebabkan kesulitan mereka dalam memverbalisasi sesuatu kepada orang lain.

Mereka mencari hubungan yang bermakna, intim, spiritual, dan inspiratif. Keterampilan sosial mereka tinggi dan mudah akrab dengan orang. Tipe ini bosan dengan percakapan yang tidak saling mengungkapkan perasaan. Mereka adalah yang paling romantis di antara gaya berpikir lainya. Tapi, saking ingin menjaga hubungan mereka malah jadi sering mengalah. Orang abstract random juga kurang tegas.

Saat jatuh Cinta disarankan agar anda tidak berharap muluk pada pasangan! Karena begitu sadar itu keliru, emosi-emosi negatif akan mudah terlepaskan. Ketahuilah bahwa tidak semua individu sesensitif anda soal hubungan. Katakan persisnya apa yang anda maksud! Carilah orang yang cukup rasional dan dewasa sebagai tempat bersandar! Jangan membahayakan studi cuma karena solidaritas persahabatan! Utamakan masa depan anda!

 

Manfaat yang Tersirat

Artikel ini tentu juga merupakan nasihat bagi diri saya sendiri yang selama ini lebih banyak membaca materi psikologi ketimbang buku teknik. Tapi, dari sanalah saya paham mau diapakan hidup ini. Saya belajar untuk berpikir kritis dan mendasar. Semua itu karena saya menerapkan ilmu Cinta dalam kehidupan sosial dan intrapersonal. Semenjak itu pula spektrum emosi yang bisa saya tangkap makin luas. Saya belajar untuk tidak sembarangan membenci dan mejauhi orang. Ilmu Cinta juga meningkatkan wawasan tentang diri sendiri (self insight). Pada akhirnya membuahkan ketahanan mental dalam menghadapi tekanan.

Ilmu Cinta mendorong kita untuk berpikir sebagai orang lain. Kemampuan untuk menganggap orang lain sebagai bagian dari diri sendiri (extension of the self) adalah ciri pribadi dewasa. Ciri kedewasaan lainya adalah kemampuan untuk melihat diri secara objektif (self objectivication). Pada masa remaja, individu melihat dunia dan sekitar sesuai dengan keinginanya. Ini yang menjadikan mereka mudah kecewa dan tersinggung ketika dikritik. Beberapa orang menanggapi kritik dengan langsung memperbaiki diri (problem focused coping). Tapi, beberapa lainya justru menghindar, menyangkal, atau malah menyalahkan diri sendiri (emotional focused coping).

Ilmu Cinta memicu seseorang untuk lebih peka terhadap pengalaman. Cinta membuat kita paham makna di balik bedak tipis cewek, jabat tangan, gaya pakaian, perilaku berkendara, pilihan kata, atau warna kesukaan. Dari situlah akan timbul falsafah hidup (philosophy of life) yang ditandai kesadaran berperilaku sesuai dengan kedudukan di masyarakat. Kepekaan terhadap pengalaman membimbing manusia pada sikap realistis. Jika sudah begini orang tidak akan lagi mudah untuk dipengaruhi. Ilmu Cinta juga membimbing manusia membedakan antara emosi sesaat dan akal sehat. Cinta menghubungkan kita dengan insan lain sampai pada tataran spiritual. Ini yang membuat manusia mampu melihat diri dari sudut pandang orang lain.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Strategi Coping”, “The Development of Romantic Relationships and Adaptations in the System of Peer Relationships”, dan artikel Kenalilah Tipe Gaya Belajar Kita (Learning Style), serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Geldard, Kathryn., Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Fisher, Helen (2011). Why Him, Why Her? Jakarta: Ufuk Publishing.

 

 

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: