Pengaruh Kelompok Terhadap Perilaku Percintaan

Pengaruh Kelompok Terhadap

Perilaku Percintaan

 

            Kelompok merupakan tempat kita mengaktualisasikan keterampilan sosial. Kelompok memiliki peran penting dalam pembentukan identitas seseorang. Lewat kelompok juga, kita belajar untuk berlaku dewasa dengan membandingkan pendapat. Dukungan dari teman berperan penting dalam penurunan efek depresi. Sebaliknya, kurangnya relasi dengan kelompok diasosikan dengan rendahnya kualitas hubungan (asmara), perasaan ditolak (oleh masyarakat), keagresifan, dan tanda-tanda penganiayaan.

 

Pengantar

            Demi mengurangi kegelisahan dan memenuhi kebutuhan berkomunikasi. Manusia biasanya membentuk atau mengikuti suatu kelompok. Dalam mengikuti suatu kelompok tentu saja ada konsekuensinya. Individu itu harus setuju dan mau mengikuti nilai-nilai yang dianut kelompok tersebut. Makin intens kontak antar anggota kelompok itu. Maka, makin luas pula nilai yang harus diikuti tiap anggotanya. Terkadang terdapat tekanan dari kelompok untuk menyeragamkan perilaku—termasuk soal percintaan.

 

“Cara Mencintai segalanya adalah dengan menyadari bahwa mungkin saja semua itu akan hilang.”

G. K. Chesterton

 

Awal Terbentuknya Kelompok

            Kelompok terbentuk dalam rangka mengalihkan perhatian dari diri sendiri ke orang lain. Sehingga secara langsung bisa mengurangi kesepian. Berkumpul dengan individu lain juga merupakan media untuk mengevaluasi diri. Keberadaan orang lain dapat memberikan informasi mengenai keadaan kita. Hal ini bermanfaat untuk memperjelas pemikiran-pemikiran (kognisi) pribadi. Suatu kelompok biasanya terbentuk karena sebab-sebab berikut:

 

  • Adanya kesamaan ciri kepribadian.
  • Adanya kebutuhan yang terpuaskan.
  • Adanya pandangan yang bisa disetujui.
  • Adanya balas-membalas kesukaan.
  • Adanya kedekatan atau kesamaan asal-usul.

 

Perbedaan Kelompok Cewek dan Cowok

            Sadarkah anda bahwa baik cewek dan cowok memiliki definisi sendiri mengenai suatu perilaku? Seperti “Berdandan” yang diartikan cewek sebagai “Kebutuhan”. Sedangkan cowok lebih senang mendefinisikanya sebagai “Cara agar terlihat lebih baik di depan orang”. Seperti kata “Berkumpul” yang juga didefinisikan cewek sebagai “Kebutuhan”. Sedangkan bagi cowok berkumpul adalah “Bersama-sama untuk suatu tujuan” contoh: Mengisi waktu luang, main bersama, dsbg.

Perbedaan inilah yang membedakan jenis kegiatan kelompok cewek dan cowok. Mau di manapun itu kegiatan cewek utamanya adalah mengobrol. Sedangkan kegiatan cowok lebih sering mengenai hal kalah-menang. Seperti: Main kartu, main futsal, balapan, dst. Cewek yang hidup dalam sistem yang didominasi cowok tidak punya banyak pilihan.

Bagi cowok diam artinya tidak ada yang harus dikatakan. Sedangkan bagi cewek diam berarti rasa sakit karena menahan cerita yang tak terungkapkan. Ini yang membuat cowok cenderung tidak akan bertanya mengapa teman-temanya hanya bungkam. Cewek cenderung mencari saluran-saluran belakang untuk mengekspresikan perasaan dan kebutuhanya, contoh: Novel, diary, atau puisi.

Berkelompok juga merupakan cara favorit cewek untuk mengungkapkan emosi. Sedangkan cowok dengan stereotip makhluk yang bisa mengatasi segala hal. Cenderung menghindari untuk mengungkapkan sisi terapuh dalam dirinya. Cewek tentu saja berani untuk berunding dengan kelompok secara mendalam soal cowok—sedangkan cowok sendiri sebaliknya. Ini karena mereka takut dianggap tidak tahu apa-apa soal cewek (padahal memang begitu).

 

Pergeseran Kebudayaan Kelompok

Pada masyarakat yang masih dalam masa transisi (dari tradisional menuju modern). Terjadi ketidakjelasan norma (aturan-aturan khusus dalam suatu masyarakat) dan nilai (tujuan umum suatu kebudayaan). Ini terlihat dari lahirnya banyak hal-hal baru. Seperti penundaan usia perkawinan, makin bebasnya interaksi antara pria-wanita, serta makin bersuaranya cewek di media sosial.

Remaja adalah orang-orang yang sering menolak norma namun, menerima nilai (inovasi). Mereka tahu bahwa Cinta bernilai sebagai pemersatu dua individu. Tapi, mereka menolak norma—dalam masyarakat—yang menyatakan bahwa penyatuan berarti pernikahan. Mereka menciptakan hal baru yang bernama “Pacaran”. Jejaring sosial menimbulkan gegar budaya yang luar biasa. Kita kini bisa tahu kehidupan (pribadi) seseorang baik visual, maupun, tekstual. Hanya dengan membuka time line.

Pergeseran juga terlihat dari remaja yang mulai memberikan definisi baru mengenai kata “Intim”. Anak cewek menciptakan budaya pop dengan mengusung Black Berry dan kawat gigi sebagai simbolnya. Cowok kini dihadapkan pada hal baru—yang membingungkan—mengenai pemikiran-pemikiran cewek yang dengan mudah bisa ditemui di media sosial. Cinta makin terlihat rumit dengan hadirnya status-status tanpa ikatan.

Kelompok dihadapkan pada perubahan-perubahan besar ini. Kendalanya adalah, tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengikuti perubahan. Khusus dalam hal percintaan, dengan makin merakyatnya jejaring sosial. Beberapa pola hubungan jadi berubah. Dari yang hanya melibatkan dua orang di SMS. Menjadi melibatkan penonton (audience) di dunia maya.

Seperti teori dynamogenesis yang diajukan Triplett. Kehadiran penonton akan meningkatkan penampilan seseorang. Apakah “Pacaran” merupakan sebuah panggung pertunjukan? Adanya penonton merupakan suatu cara untuk memeriahkan suatu hubungan. Lalu, jika dalam kelompok salah satu teman mendapatkan hal yang tidak didapatkan oleh individu lain—dari pacarnya. Maka, ada kemungkinan bagi anggota itu untuk menuntut hal itu dari pacarnya.

Kelompok juga bisa dianggap sebagai penonton interaktif. Namun, pendapat kelompok hanya akan sedikit memengaruhi hubungan asmara anggotanya. Ini dikarenakan seseorang mempunyai peran yang berbeda antara kelompok dan hubungan Cinta. Seseorang lebih (mungkin) rela untuk ditinggalkan kelompok ketimbang pacar. Maka itulah, seiring perkembangan kedewasaan kelompok akan makin menciut dan menyisakan mereka yang paling kohesif.

 

Peran Kelompok

            Cewek jauh lebih terbuka soal kehidupan asmara mereka ketimbang cowok. Anda bisa melakukan sedikit percobaan kecil di sini. Buatlah janji untuk bertemu seorang cewek dua hari lagi! Maka, hanya kurang dari sepuluh menit semua temanya sudah tahu cerita itu. Bandingkan dengan cowok! Kita bahkan sering tidak tahu kalau teman kita pergi tiba-tiba karena ada kencan.

Kurangnya “Tukar pengalaman” di kalangan cowok sering membuat kita mengulangi kesalahan yang sama dengan yang dilakukan teman kita. Gaya komunikasi cowok yang cenderung ingin memecahkan masalah. Membuat cowok takut digurui dan dievaluasi teman-temanya. Hal itulah yang membuat cowok tetap pada seting “Default” soal percintaan. Kelompok bagi cowok lebih sebagai ajang kompetisi percintaan. Adu sering bonceng cewek, adu cantik-cantikan pacar, adu berani mengajak mengobrol, dsbg.

Tunjukanlah inisiatif pada cewek! Maka, teman-temanya akan ikut menuntut inisiatif pacar masing-masing. Setiap orang ingin dianggap unik. Tapi, dengan kurangnya komunikasi—soal percintaan—dalam kelompok. Cowok hanya akan terus berputar di antara kata “Baik” dan “Perhatian”. Apakah cewek kekurangan kosa kata? Saya rasa mereka hanya bingung untuk untuk mendefinisikan keunikan tiap cowok. Karena mereka rata-rata menunjukan gejala yang seragam.

Ketergantungan cowok terhadap pasangan lebih besar ketimbang cewek. Inilah penyebab banyaknya jumlah pria yang bunuh diri setelah cerai. Sedangkan wanita hampir tidak mungkin melakukanya. Saat tengah menjalin hubungan, cowok cenderung meluangkan hampir seluruh waktunya untuk pasangan.

Peningkatan konsumsi waktu bersama pasangan juga ditemukan pada cewek yang sedang menjalin hubungan. Hal ini akan menyulut konflik individu dengan kelompok. Ketidakmampuan seseorang untuk mengikuti agenda kelompok—karena terhalang jadwal dengan pacar. Sering menyebabkan mereka dianggap tidak loyal. Ini ditemukan baik pada kelompok cowok, maupun, cewek.

Tiga alasan yang menyebabkan suatu kelompok bubar: Konflik, ketidakpercayaan, dan perubahan (radikal) individu akibat masuknya seorang kekasih dalam kehidupan mereka. Jelas sekali bahwa kita mengembangkan nilai yang berbeda antara hubungan kelompok dan percintaan. Pacaran sudah terbukti menurunkan interaksi dalam sebuah kelompok.

 

Perkembangan Selera

            Kepada siapa anda tertarik dan bagaimana cara mendekatinya sebenarnya sudah terprogram di dalam gen. Namun, seiring pendewasaan hal itu akan menguat atau melemah. Seperti ketertarikan pada teman sepermainan yang tidak bisa terwujud—karena kekhawatiran rusaknya persahabatan. Juga ada kasus cowok SMA yang mencari cewek anak kuliah. Ketertarikan pada cewek yang lebih tua dianggap keren. Padahal, masyarakat sering mencibir pria yang menyukai wanita yang lebih dewasa.

Perkembangan dan pertumbuhan selera dipengaruhi lingkungan. Pada masa remaja persetujuan temanlah yang menjadi tolok ukur keberhasilan pacaran. Lalu, setelah dewasa rujukan bergeser pada keluarga. Hubungan yang erat dengan lawan jenis akan mengikis Oedipus Complex pada cowok—begitupun Electra Complex cewek. Selain itu penemuan baru (individu) mengenai hal-hal yang disukai dari lawan jenis akan mendorong mereka untuk terus memperbaharui preferensi.

Seperti cowok yang menemukan bahwa cewek yang mampu berbicara seperti teman lama. Lebih menarik ketimbang cewek cantik yang hanya diam saat kencan. Cewek juga kadang sanggup memberi pengecualian pada beberapa tipe cowok brengsek. Hanya karena ia merasa mampu merubah mereka. Pada masa remaja awal dan pertengahan, selera lebih berorientasi pada rekreasi, keintiman, sosialisasi, dan status. Namun, ketika remaja beranjak dewasa aspek-aspek ini akan memudar.

 

*Artikel ini mengutip e-book “Handout Psikologi sosial”, “Teori Kelompok yang Terbungkam”, dan “The Development of Romantic Relationships and Adaptations in the System of Peer Relationships”.

 

Daftar Pustaka:

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: