Dua Tipe Cinta

Dua Tipe Cinta

 

            Beberapa waktu lalu saya tertarik kembali untuk membuka halaman-halaman web tersimpan (saved pages) karena penasaran mengenai proses jatuh Cinta. Seperti halnya Robert J. Sternberg yang melakukan penelitian untuk mengklasifikasi Cinta. Saya juga melihat penting untuk membagi Cinta ke dalam tipe ledakan dan tungku—berdasarkan sifat energinya.

 

Pengantar

            Satu hal yang mungkin harus anda percayai bahwa tidak ada yang namanya Cinta sejati—yang ada hanyalah komitmen yang teguh. Berdasarkan hitung-hitungan biokimia, level suatu neurohormon pasti akan surut (subside) dalam jangka waktu tertentu. Jika dipandang dari sudut energi maka, Cinta bisa diartikan sebagai tenaga untuk menunjang kesintasan (kemampuan bertahan hidup). Karena sifat energinya, Cinta juga menjadi slogan utama untuk membangkitkan nasionalisme. Kenapa kita harus mencintai Negara? Karena jika suatu Negara diserang dan dikuasai musuh maka terancamlah kesintasan rakyatnya.

 

“Cinta tercipta dari satu jiwa yang bersemayam dalam dua raga”

Aristoteles

 

Fisik dan Metafisik

            Semua ahli sepakat bahwa Cinta tidak hanya soal yang kelihatan (fisik) namun juga menyangkut yang tidak kelihatan (metafisik). Menurut Prof. Helen Fisher, Ph. D, ketika ia ditanya, “Cinta itu naluri atau perasaan?” maka ia menjawab, “Cinta tumpang tindih di antara keduanya.” karena pada saat anda jatuh Cinta bukan hanya naluri anda yang bergerak. Tapi, perasaan anda juga ikut berubah. Sama seperti definisi Cinta sebagai rekasi kimia yang menyebabkan rasa senang dan ketagihan.

Kita bisa membagi Cinta ke dalam dua kelompok: Pertama reaksi kimia sebagai hal fisik serta rasa senang dan ketagihan sebagai hal metafisik. Hanya dengan mengetahui ini anda bisa memutuskan metode apa yang dapat digunakan untuk membuat seseorang jatuh Cinta. Contoh: Jika kita berbicara fisik maka kita akan berbicara tentang bagaimana cara membuat seseorang melepaskan zat kimia tertentu dalam otaknya. Seperti Oxytocin yang akan terlepas saat kulit bersentuhan dan mengobrol (pada cewek). Atau tentang terlepasnya testosterone ketika melihat lekuk tubuh seperti biola dan wajah yang ramah (pada cowok).

Bila berbicara hal metafisik maka kita akan berurusan dengan jiwa seseorang. Dalam proses terjadinya suatu emosi terdapat aspek sadar dan bawah sadar. Seperti pujian yang merupakan bagian dari proses sadar. Lalu, intonasi dan bahasa tubuh sebagai bagian dari proses bawah sadar. Bayangkan saat anda mengatakan, “kamu cantik.” tapi dengan ekspresi sangar dan intonasi setengah membentak! Maka, pesan yang akan diterima adalah anda sedang marah—bukanya memuji. Dalam teori Sigmund Freud, alam sadar memang hanya seperti puncak gunung es di lautan. Di mana yang terbenam di bawah (alam bawah sadar) jauh lebih besar. Jadi bisa disimpulkan bahwa manusia akan lebih banyak dipengaruhi oleh impuls-impuls alam bawah sadarnya.

 

Sifat-Sifat Neurohormon

Kita tidak akan memperluas pembahasan neurotransmitter seperti yang ada dalam diktat medis. Kita hanya akan membahasnya dari sisi respon psikis pada orang yang sedang jatuh Cinta.

  • Pheromone

Pheromone adalah suatu zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin makhluk hidup untuk mengenali individu lain di luar dirinya. Pheromone bersifat tak kasat mata, tidak dapat dirasakan oleh indra manusia dan mudah menguap. Ketika terhirup pheromone akan diteruskan ke hipotalamus—bagian otak yang mengatur emosi.

 

  • Norepinephrine

Hormon ini memicu adrenaline yang secara otomatis mempercepat aliran darah, mengobarkan semangat, dan membuat anda lebih energik serta gembira. Di samping memberikan rasa gembira, norepinephrine juga dapat memberikan perasaan tenang dan nyaman saat berada dekat dengan orang yang anda Cintai.

 

  • Dopamin

Pada saat jatuh Cinta, Ventral Tegmental Area (VTA) mengeluarkan zat ini dalam jumlah kecil. Biarpun hanya sedikit, itu saja sudah cukup untuk memberi rasa melayang-layang, tergila-gila, dan susah tidur karena memikirkan hal-hal romantis. Gara-gara dopamin juga anda mulai lupa makan karena dopamin memberi rasa enteng pada tubuh. Dopamin membuat anda bersemangat, seakan dapat melakukan hal apapun yang anda mau. Dopaminlah yang membuat anda tidak bisa melepaskan perhatian dari si dia.

 

  • Serotonin

Serotonin mempunyai peran yang sangat luas dalam tubuh manusia. Serotonin berperan besar dalam proses tidur, orientasi seksual, dan reaksi psikis lainya. Serotonin merupakan neurotransmitter yang menimbulkan perasaan tenang dan Cinta keteraturan. Reaksi dopamin saat jatuh Cinta membuat kadar neurotransmitter ini turun. Dampaknya kita akan merasa gelisah dan jadi inkonvensional.

 

  • Oxytocin

Oxytocin merupakan neurotransmitter yang menimbulkan ikatan batin dan bisa menurunkan stres. Pada saat menyusui otak seorang ibu melepaskan banyak oxytocin sehingga ia akan merasa lebih tenang. Oxytocin juga memicu perasaan memercayai. Serotonin mampu memicu oxytocin dan estrogen. Bersama-sama mereka membuat perilaku seseorang menjadi lebih ramah dan bersahabat.

 

  • Phenylethylamine (PEA)

PEA mempunyai stimulasi yang sama seperti amphetamine. PEA juga ikut memicu dopamin dan norepinephrine yang meningkatkan detak jantung, keluarnya keringat di tangan, peningkatan suhu tubuh, dan tekanan darah. PEA bisa terpicu karena beberapa peristiwa kecil seperti kontak mata atau saling bersentuhan. Neurotransmitter inilah yang membuat seseorang jatuh Cinta. Anda juga bisa mendapatkan dosis PEA non-romantis lewat aktivitas berintensitas tinggi seperti skydiving.

 

  • Testosterone

Hormon ini menghidupkan sirkuit seksual dan agresi. Pada laki-laki, hormon ini mengaktifkan kelenjar keringat yang menghasilkan bau khas cowok, androstenedion—yang selanjutnya menghasilkan pheromone. Hormon ini pula yang memicu sifat ingin mendominasi, maskulin, kompetitif, berani, dan fokus pada tujuan.

 

  • Vasopressin

Vasopressin ialah hormon yang membuat cowok menjadi monogami dan sopan terhadap perempuan. Hormon ini juga secara aktif merangsang seseorang untuk mempertahankan wilayahnya, pasangan, dan anak-anak. Bersama testosterone, ia menjalankan sirkuit otak cowok dan meningkatkan maskulinitas.

 

Proses Jatuh Cinta

Dave teman saya pernah berkata, “Science deromenticize love.” saya pikir itu benar. Saat kita mempelajari Cinta secara saintifik, bayangan tentang kisah romantis akan berganti dengan bayangan neurotransmitter yang berpindah antar sinaps. Sangat tidak romantis. Tapi, untungnya dengan mempelajari ini manusia mampu membuat ramuan Cinta. Di mana ramuan ini mampu membuat seseorang jatuh Cinta pada lawan jenis pertama yang dilihat setelah ia menenggaknya. Namun, para ilmuwan sadar akan kekacauan yang bisa ditimbulkan obat ini. Maka itu, ramuan ini jauh lebih banyak digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit saraf seperti Parkinson.

Jatuh Cinta itu tergantung pada selera dan selera tergantung pada kebutuhan. Seperti cewek yang membutuhkan cowok yang mapan secara emosional, sosial, dan finansial. Juga seperti cowok yang membutuhkan cewek yang terlihat tidak berbahaya dan subur. Selera seseorang terbentuk dari kebutuhan biologis, sosial, budaya, dan pengaruh pengasuhan. Mata memang memainkan peran utama saat proses jatuh Cinta karena 92% informasi masuk lewat sini.

Tapi, selain kesan pertama, Cinta juga bisa terjadi karena terbiasa. Di mana otak manusia membentuk analisa dari kepingan-kepingan fakta. Lalu mem-pertimbangkanya sebagai pilihan jodoh. Tapi, terlalu terbiasa juga justru akan membunuh ketertarikan seksual. Seperti yang terjadi di Kibbutz sebuah perkampungan petani di Israel. Pada masa jayanya, anak-anak di sini tumbuh, main, mandi, makan, dan tidur bersama di sebuah “Balai anak-anak”. Tapi, pada usia dua belas tahun anak laki-laki dan perempuan mulai bersikap kaku dan menghindari segala jenis kontak fisik dengan anggota kelompok mereka.

Proses jatuh Cinta dimulai ketika testosterone, pada cowok, dan estrogen, pada cewek, mempersiapkan mereka untuk mencari pasangan (Lust). Mereka mulai memaparkan diri pada lawan jenis dan berharap sang pujaan hati menemukan mereka. Sampai akhirnya sebuah kontak mata, senyuman, atau sentuhan memicu reaksi berantai PEA yang diikuti dopamin, norepinephrine, dan adrenaline (Attraction). Ini akan terasa seperti ledakan rasa senang yang tiba-tiba. Reaksi berantai ini disebut Helen Fisher sebagai tahap Jatuh Cinta.

Ketika reaksi berantai ini surut maka yang tertinggal hanya rasa bosan. Ini terjadi sekitar 1,5-3 tahun dalam sebuah hubungan. PEA mampu bertahan hingga 4 tahun. Selebihnya semua akan bergeser ke tahap saling menyayangi (attachment) di mana neurohormon yang lebih tenang seperti vasopressin, oxytocin, dan endorphin mengambil alih. Tahap ini biasanya ditempuh oleh orang yang sudah berumah tangga dan mempunyai setidaknya dua anak.

 

Ledakan dan Tungku

            Mari kita bercerita sedikit tentang bahan peledak! Berdasarkan kepekaanya bahan peledak dibagi menjadi peledak inisiasi dan peledak non-inisiasi. Peledak inisiasi yaitu bahan peledak yang mudah meledak karena benturan, gesekan, api, dan semacamnya. Bahan ini biasanya merupakan muatan primer dalam pemicu. Kedua adalah peledak non-inisiasi yaitu bahan peledak yang hanya meledak bila telah dipicu peledak yang pertama.

Dalam hal ini testosterone dan PEA bertindak sebagai peledak inisiasi. Testosterone meningkatkan kepekaan sensori seperti mata terhadap kontak visual. Lalu otak akan menyaring informasi tersebut dalam konteks seksual. Setelah objek dirasa cocok dengan kebutuhan, PEA akan terpicu dan terjadilah ledakan neurohormon. Energi ledakan ini sanggup menghancurkan infrastruktur logis dalam otak anda. Melumerkan kerasnya logam toleransi prinsip dan merubah keadaan jadi abnormal.

Seperti yang saya bilang bahwa PEA mampu bertahan selama 4 tahun. Selama itu pula ia akan terus memicu bahan peledak komposit yang terdiri dari Dopamin, norepinephrine, ketertarikan emosional, dan adrenaline. Lalu, jika objek yang memicu ledakan itu jauh dari anda. Bagaimana ledakan tetap bisa terjadi? Saat kita jatuh Cinta otak akan memusatkan perhatian pada objek yang menyebabkanya. Menyimpan tiap detail dan mempersiapkan memori itu untuk tetap memicu ledakan.

Pernahkah anda tetap merasa dekat dengan si dia walaupun raganya jauh? Itu karena Ventral Tegmental Area (VTA) menghasilkan dopamin yang selanjut-nya memicu aktifnya Nucleus Accumbens (NAc) yang membuat Dopamin ter-campur dengan testosterone dan vasopressin. Saat Caudate Nukleus (CN) pula ikut terpicu aktif. Maka, detail bayangan orang yang anda Cintai akan terus berputar-putar di dalam otak. Dalam psikologi kita bisa menyebutnya sebagai obsesi.

 Diagram Alir Proses Jatuh Cinta

Catatan: Pada cewek, bagan obsesi yang terdidri dari hormon testosterone dan vasopressin digantikan oleh oxytocin dan estrogen.

Reaksi berantai ini yang menyebabkan anda tidak ingin jauh dari si dia (keep in touch)—dan saya kira dari sinilah ide untuk berpacaran tercetus. Walaupun kencan tidak lebih dari momen-momen kikuk (awkward moments) tanpa kata-kata (silent). Tapi, itu sudah cukup membuat senang karena bisa melihat wajah dan mendengar suaranya. Mungkin tidak ada yang namanya manusia sempurna. Tapi, ledakan hormon ketika jatuh Cinta telah membuat kita menoleransi kekurangan pasangan dan berfokus pada kelebihanya.

Sayangnya itu hanya akan bertahan sesaat dan realitas akan pulih. Perbedaan sekecil apapun ditambah rasa bosan, akan menggiring sebuah hubungan mendekati kata “Bubar”. Semua cuma akan berlanjut jika keduanya membuat komitmen dan menyadari bahwa yang tersisa hanya sensasi yang lebih tenang. Jika tidak, maka reaksi akan berbalik kembali ke tahap inisiasi. Di mana anda harus mencari calon pasangan yang baru.

Namun, ketika anda berniat untuk lanjut. Tentunya kita akan berpikir bagaimana memerangkap panas dan energi akibat ledakan bertahun-tahun tersebut dengan membangun sebuah tungku. Ditenagai oleh Oxytocin, vasopressin, dan endorphin sebagai bahan bakar. Tungku akan terus menyala dan siap untuk menempa in put-nya (dalam hal ini anak-anak). Beberapa tungku (komitmen) memang kuat terhadap suhu tinggi, mampu menghemat energi, dan tahan terhadap gaya abrasi. Tapi, tungku yang panasnya kurang stabil apalagi kekurangan bahan bakar. Hanya akan mengeluarkan out put yang kurang optimal.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Tungku dan Refraktori”, “Nitrogliserin Dapat Digunakan Sebagai Bahan Peledak”, “Modul 13: Bahasa Tubuh dan Intonasi”, “Psikologi Umum”, “Why We Love”, dan artikel The Chemistry of Love, Hormon Jatuh Cinta, The Physics and Chemistry of Love, Hormon Penyebab Jatuh Cinta, Reaksi Kimia Saat Jatuh Cinta, Penampilan Fisik Dalam Hubungan, Pentingkah?, Love, Manfaat Hormon Cinta Oksitosin, Neurotransmitter, serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Fisher, Helen (2006). Why Him, Why Her? Jakarta: Ufuk Press.

Brizendine, Louann (2010). The Male Brain.  Jakarta: Ufuk Press.

Brizendine, Louann (2006). The Female Brain. Jakarta: Ufuk Press.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: