Aku Pacar Bukan Kacung

Aku Pacar Bukan Kacung

 

            Cinta itu perasaan atau naluri? Cinta tumpang tindih di antara keduanya. Pada saat berada pada tahap jatuh Cinta (attraction). Naluri kitalah yang mengendalikan perasaan. Sedangkan, pada tahap sayang (attachment) perasaanlah yang mengendalikan naluri. Namun, ketidakmampuan mengoordinasi emosi dan dorongan naluriah. Telah menggiring cowok ke dalam lembah perbudakan perasaan. Posting ini diharapkan mampu membuka pandangan anda mengenai Cinta dari sudut pandang emosi.

 

Pengantar

Naas rasanya ketika melihat seorang cowok yang dibentak-bentak ceweknya. Berkali-kali, sepertinya ia direndahkan entah kenapa. Inilah yang terjadi bila anda menyerahkan kendali pada wanita. Emosi yang naik-turun membuat mereka impulsif yang—kadang—secara otomatis menunjukan ciri terdalam otak mereka yaitu suka memerintah. Artikel ini akan membahas beberapa hal mendasar seperti status dan keefektifanya.

 

“Setelah kau sadar perasaan bahagia yang kalian miliki bersama maka, tidak perlu lagi membuktikan bahwa kau Cinta dia.”

Marguirete Duras

 

Arti Pacaran

            Seperangkat norma yang mengatur interaksi antara dua individu yang sedang jatuh Cinta. Menurut saya itulah definisi pacaran dari segi sosial. Sedangkan dari segi interaksi psikobiologisnya, pacaran adalah proses untuk menghabiskan reaksi kimia (Cinta) di otak hingga berujung pada beberapa pilihan. Berbicara tentang norma maka, kita harus tahu terlebih dahulu maknanya. Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat kelompok warga dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai serta diterima.

Pacaran diawali dengan PDKT, disahkan dengan jadian, dirayakan dengan makan-makan, diisi dengan jalan-jalan, dan diakhiri dengan kegalauan. Tentu saja saya memandang ini sebagai norma karena tiadanya variasi yang fundamental di mana individu mempunyai kemampuan untuk mengubah komposisi kegiatan di dalamnya. Si cowok harus terus menjaga komunikasi dengan si cewek. Serta harus terlihat semanis mungkin, semua harus ada ciri mencoloknya. Terlalu naïf apabila kita mengatakan bahwa pacaran adalah acara untuk saling mendalami pribadi masing-masing.

Kenapa? Karena jarang ada orang yang mau menunjukan sifat aslinya di depan pasangan. Berusaha menganggap si dia sesempurna seperti deskripsi dalam otak kita. Pasangan sering terjebak dalam kebohongan ganda—di satu sisi mereka bohong pada dirinya sendiri dan di sisi lain mereka membohongi kekasihnya. Mereka tahu bahwa mereka tahu. Jika mereka memang ingin mengenal pasanganya. Mereka pasti berusaha mendatangi psikolog atau setidaknya orang yang cukup objektif dalam menilai watak si pasangan.

Bagi cowok, Cinta dianggap sebagai kehadiran fisik sedangkan bagi cewek, Cinta dianggap sebagai kehadiran perasaan. Sudah tipikial cowok untuk berpikir konkret dan tipikal cewek untuk berpikir abstrak. Si cowok bersikap manis dan si cewek setia duduk disampingnya, lengkaplah ilusi ini. Jika si cewek digonceng atau setidaknya akrab dengan teman lawan jenisnya. Maka, cowok menganggap itu sebagai perselingkuhan. Lalu, jika si cowok melihat ke arah wanita lain dan si cewek menangkap adanya perubahan emosi lewat bahasa tubuh si cowok. Maka, itu bisa dikatakan selingkuh. Padahal sudah sifat alamiah cowok untuk memperhatikan wanita subur di sekitarnya. Memperhatikan sekedar mengagumi tanpa ada niat untuk menindaklanjuti.

Di mana letak saling mengenalnya? Si cowok tidak tahu sifat alami cewek yang selalu ingin memelihara ikatan sosial. Sedangkan si cewek tidak tahu bahwa cowok adalah makhluk yang sangat visual. Apakah saya terlalu skeptis dan pesimis? Harus ada orang yang cukup waras untuk menyadari penilaian kita akan pasangan telah terdistorsi oleh gelombang dopamin.

Lalu, apakah pacaran merupakan simbol keberhasilan cowok dalam mendekati cewek? Lihatlah apa yang terjadi dalam kencan mereka! Si cewek menunggu si cowok bicara dan si cowok bingung mau bicara apa. Jadi, apa bedanya mereka dengan jomblo yang duduk di dekat cewek yang disenanginya? Bedanya adalah mereka “Jadian”. Saya mendalami ilmu PDKT lebih dari setahun dan hampir gila ketika harus memikirkan, “Apa yang tidak bisa dilakukan sebelum jadian namun, bisa dilakukan setelah jadi pacar?”. Bahkan sentuh menyentuh pun dapat anda lakukan jika pendekatanya benar.

Selalu ada usaha lebih untuk mendapatkan jawaban “Iya” dalam penembakan saat PDKT. Namun, jarang ada daya untuk memikirkan kegiatan di dalamnya. Si cowok mengajak jalan lalu, si cewek bertanya, “Mau jalan ke mana memangnya?” jawab si cowok, “Ya, terserah kamu.”. Jangan ditertawakan karena ini bukan lelucon! Bila sudah selesai dengan definisi dari segi sosial maka, kita akan bergerak ke definisi dari segi psikobiologis. Di mana saya memandang pacaran sebagai proses konsumsi hormonal.

Apa maksudnya? Beberapa neurotransmitter seperti Dopamin dan Adrenalin membuat Cinta menjadi sensasi yang menggelora. Seperti halnya reaksi kimia pada umumnya. Cinta juga mempunyai masa reaksi yang terbatas. Jika hanya berada pada tahap suka (lust) maka, itu hanya akan berlangsung beberapa minggu sampai tiga bulan saja. Sedangkan jika sampai tahap jatuh Cinta (attraction) maka, bisa bertahan lebih lama sekitar 1,5 – 3 tahun. Selebihnya akan terasa hambar dan harus ada keputusan untuk lanjut atau selesai sampai di sini. Ini alami dan bukan salah anda jika kalian berdua merasa bosan.

 

Pengejar atau Kacung

            Bagaimana cara membuat wanita tergila-gila dengan anda? Apakah dengan mengantar jemputnya setiap hari? Atau dengan merespon secara cepat segala permintaanya? Sebenarnya anda tidak perlu mengeluarkan uang dan tenaga besar untuk melakukanya. Cukup dengan bahasa tubuh. Semua gerakan dan mimik merupakan manifestasi keadaan dalam jiwa manusia. Begitu juga dengan cara mengetahui apakah si cewek juga suka dengan anda.

Pertanyaan kedua, bagaimana cara mempertahankan wanita tetap di sisi anda? Apakah dengan terus-menerus menghujaninya dengan hadiah dan rayuan? Apakah dengan menyediakan sebagian besar waktu untuk menemaninya mondar-mandir? Jawabanya hanya dengan memiliki dunia yang menarik cewek pasti akan tetap bersama anda. Bayangkan seorang artis yang sampai acara potong rambutnya saja disorot infotainment! Apa yang menarik dari mereka kalau bukan dunianya.

Anggap saja anda sekarang tengah menjalani suatu hubungan dengan seorang wanita cantik idola kampus! Harus terlihat seperti apakah anda? Dominator, supir, supplier, atau kacung? Pasti jawabanya dominator. Lalu, bagaimana cara mendominasi cewek jika anda saja tidak mampu mengendalikan emosi sendiri? Terlalu mudah meng-iya-kan, terlalu cepat merespon semua permintaan, dan terlalu takut kehilangan.

Jadi, apakah mengejar wanita itu salah? Bayangkan anda sekarang sedang berdiri di trotoar menunggu angkot. Lalu, tiba-tiba ada orang yang lari tepat ke arah anda. Apakah kejadian ini membuat anda waswas dan takut? Begitu pula apa yang dirasakan oleh cewek yang anda kejar. Apa anda sekarang berargumen, “Saya tidak pernah berbuat begitu. Saya hanya memberinya hadiah-hadiah manis dan sedikit pujian indah. Apakah itu salah?” ya, memberi itu hal yang baik. Tapi, kita juga harus melihat konteksnya!

Sekali memberi akan terlihat manis, dua kali akan menimbulkan kecurigaan, dan ketiga kali anda akan ketahuan mengejar. Ini seperti berkata, “Ingat aku ayo ingat aku!” lain cerita jika si cewek memang sudah suka dengan anda. Maka, untuk menghindari kata mengejar, cewek harus terlebih dahulu dibuat suka dengan anda! Permasalahan pertama teratasi lalu, bagaimana dengan cowok yang berstatus sebagai kacung? Pernahkah anda merasa cewek hanya mau bertemu ketika butuh? Merasa marah apabila keinginanya ditolak? Serta hanya peduli ketika menanyakan apakah tugas darinya anda selesaikan atau tidak.

Ini tidak jadi masalah saat anda dengan senang hati melakukanya. Lalu jika menjadi kacung itu buruk, apakah tidak mungkin ada cowok tipe ini yang sampai menikahi pacarnya? Tentu ada tapi, hidup mereka pasti akan penuh dengan drama. Si istri selalu berusaha merongrong kewibawaan suaminya. Bagaimana jika cewek yang anda pacari ternyata bukan seorang idola kampus? Atau mungkin hanya wanita biasa. Kenapa anda harus takut kehilangan?

Mungkin ini karena anda berpikir, “Cewek biasa saja bisa lepas apalagi cewek yang cantik.” ini logis tapi tidak akan kompatibel pada cewek. Bisa dipastikan, anda akan mulai melayani si cewek layaknya cewek tercantik. Lalu, jika anda tidak bisa mendapatkan cewek tercantik kenapa anda tetap memperlakukan mereka sama? Apakah logika anda sakit? Atau emosi anda yang tidak stabil? Kita balik caranya dengan pertanyaan, “Bagaimana anda melayani diri anda sendiri?” sudahkah anda mengisi otak anda dengan hal bermanfaat? sudahkah anda sadar akan bahasa tubuh dan penampilan?

Kebanyakan cowok itu cuek (bahkan pada dirinya sendiri). Nah, sekarang kenapa mereka bisa begitu perhatian dengan menawarkan banyak pertolongan dan rajin SMS? Cowok merasa dicintai ketika ia merasa dibutuhkan. Semakin sering dibutuhkan maka akan semakin sering pula merasa dicintai. Sadarkah anda bahwa pengabaian terjadi karena pembiasaan? Saat pertama kali mendengar jeritan di taman bermain maka perhatian kita sesaat akan tertuju pada sumbernya. Namun, makin sering didengar maka kita akan makin mengabaikanya dan menganggap itu biasa.

Ini juga yang terjadi pada anda yang terlalu sering memberi dan menolong. Jangankan berterima kasih bahkan menengok ke arah anda pun mungkin tidak. Anda jadi terlihat tidak menantang dan secara tidak sadar cewek akan menggeser posisi anda di hatinya menjadi “Kacung”. Waspadai juga jika ada wanita yang hanya ingin memeras anda! Karena secara antropologis wanita sadar bahwa setiap pemberian akan berbalas seks. Namun, jika wanitalah yang justru menuntut hadiah dari anda. Bisa dipastikan bahwa anda dicap sebagai orang yang tidak akan menuntut seks darinya (inferior).

 

*Catatan: Menuntut seks dalam konteks ini dimaknai sebagai dominasi cowok atas emosi cewek.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Cara Memikat Wanita Idaman Anda”, “Cara Memikat Wanita Idaman Anda v2.0”, “Make Every Women Love You” dan artikel Why Does Love Feel So good, Love, Penampilan Fisik Dalam Hubungan, Pentingkah?, Memulai Cinta, Tidak Perlu Berkorban!, serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Buckley, Susan (2008): Buku Pintar Bahasa Tubuh. Jakarta: Cerdas Pustaka.

Brizendine, Louann (2010): The Male Brain. Jakarta. Ufuk Publishing.

Fisher, Helen (2011): Why Him, Why Her? Jakarta: Ufuk Publishing.

Brizendine, Louann (2006). The Female Brain. Jakarta: Ufuk Press.

Komara, Endang (2011). Filsafat Ilmi dan Metodologi Penelitian. Bandung: Refika Aditama.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: