Kecanduan Emosi

Kecanduan Emosi

 

            Kenapa ada orang yang hobinya mengomentari hal-hal kecil dan memanipulasinya menjadi pemicu kemarahan? Kenapa ada orang yang suka sekali menonton film horor? Banyak kejadian seperti ini kita temukan di kehidupan sehari-hari. Tapi tahukah anda kenapa hal itu bisa terjadi? Posting kali ini akan mengambil kasus asmara sebagai bahasan utamanya. Tapi bukan berarti posting ini tidak relevan dengan kejadian lainya. Jadi, silahkan menyimak!

 

Pengantar

Kegagalan demi kegagalan yang menimpa kehidupan percintaan anda selama ini semata bukanlah kesalahan objek yang bersangkutan melainkan, kesalahan daripada sang subjek itu sendiri. Kegagalan ini terjadi karena memang diri anda yang masih tenggelam dalam kualitas diri yang tidak maksimal, Kecanduan emosi tertentu, terjebak pemahaman yang salah atau malah sesat tentang wanita, dan kurangnya kemauan untuk berinovasi serta belajar dari kesalahan.

 

“Jangan mengharapkan hasil yang berbeda jika anda terus melakukan sesuatu dengan cara yang sama.”

Mario Teguh

Jelas dari kalimat bijak diatas bahwa jika anda menginginkan hasil yang lebih baik maka anda harus melakukan semuanya dengan cara yang baru atau jika tidak maka, hasilnya akan tetap sama dan terus berulang.

 

Kecanduan Emosi

Lalu apa yang dimaksud dengan cara baru yang lebih baik itu? Mendapatkan wanita pada umumnya adalah dengan cara mencoba melakukan pendekatan lantas, menembaknya (purpose). Lalu menjadikanya terbiasa dengan anda seraya membuat sebuah komitmen yang kedua belah pihak harus mengerti dan sepakati untuk dijalankan. Di sinilah letak kehancuran dalam sebuah paradigma kita semua baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan, memiliki adalah memacari. (Pembahasan lebih lanjut mengenai pacaran, akan ada di postingan berikutnya)

Lalu, jika tidak ada yang menginginkan anda menjadi pacar apakah anda akan langsung berpikir bahwa anda tidak mampu dan tidak diinginkan? Dan inilah kenapa seseorang bisa merasa segalanya tidak adil, kecewa, seperti perihal tampang yang menurut Standar Nasional Indonesia tidak layak. Lantas, dijadikan legitimasi untuk menentukan kelas dirinya di hadapan manusia lain termasuk para lawan jenisnya. Pula ada sekawanan besar orang Ganteng yang bertanya-tanya dalam dirinya “kenapa orang lebih tertarik pada dia yang jelas-jelas di bawah standar?”

Karena kegagalan dalam mengarungi kehidupan romansa yang terus berulang dikarenakan paradigma tampang, penampilan, dan kekayaan yang tidak sesuai untuk level wanita tertentu (logika) inilah. Kita akan merasa sedih, kecewa, pedih, dan merasa ditinggalkan. Jika anda terus membiarkan diri anda tenggelam, larut, atau bahkan hanyut di dalam emosi-emosi tersebut maka anda akan kecanduan. Rasa sakit hati, perih, kesepian, bosan, ketakutan, ataupun jatuh cinta adalah bentuk konkret dari hal yang diterjemahkan sebagai emosi.

Emosi sendiri memiliki definisi sebagai proses fisiologis (melibatkan proses-proses biokimia di otak) yang terjadi di dalam tubuh ketika kita mendapat stimulasi-stimulasi tertentu. Sedangkan kecanduan, sendiri, menurut ICD (International Classification of diseases) adalah sebuah fenomena yang terdiri dari aspek perilaku, kognitif/empiris, dan psikologis/kejiwaan setelah penggunaan suatu zat secara berulang. Sedangkan, DSM-IV mengartikan kecanduan sebagai kumpulan gejala yang mengindikasikan bahwa seseorang memiliki kesulitan untuk mengontrol penggunaan suatu zat dan meneruskan penggunaan tanpa memperdulikan akibatnya.

Bowman membagi kecanduan menjadi dua substansi yaitu, kecanduan terhadap suatu subtansi (Substance Addiction = SA) dan kecanduan akan proses (Process Addiction = PA). Kecanduan terhadap substansi adalah kecanduan langsung terhadap barang atau hal-nya. Contoh: Rokok, Alkohol, Coklat, dll. Sedangkan kecanduan akan proses merupakan kecanduan terhadap suatu aktivitas tertentu seperti main game, olah raga, berjudi, mendengarkan musik, dll.

Mari kita bangun korelasi antara kedua substansi itu dengan merujuk pada definisi kecanduan. Kita ganti zat itu dengan perasaan/rasa/emosi tertentu yang sering menimpa cowok. Pertama, cowok pasti kecanduan dengan rasanya jatuh Cinta (SA). Lalu, cowok juga pasti kecanduan dengan aktivitas pacaran (PA). Nah, inilah bentuk simulasi kecil dari pendapat Bowman itu.

Tapi, dalam proses pacaran, cowok yang sudah pernah gagal dan kecewa juga mengalami kecanduan rasa/emosi lainya. Seperti, kecanduan rasa sakit hati (SA) yang dimanifestasikan juga dengan kecanduan untuk mencemburui (PA). Jadi, untuk terus-menerus merasakan rasa sakit hati, si cowok juga akan terus mencemburui.

Ada juga kasus di mana seorang cowok kecanduan rasa tidak diinginkan oleh orang lain. Sang cowok pasti akan selalu mengeksploitasi fakta (PA) guna mendukung tercapainya rasa tersebut. Contoh nyatanya seperti ini, saat sang kekasih atau target PDKT kita terlambat atau bahkan tidak membalas SMS kita. Maka, itu akan memicu kecanduan akan proses (PA) pada diri si cowok.

Setelah terpicu maka si cowok akan melanjutkanya dengan mengirim si cewek dengan SMS, “Kok tidak dibalas?” Bisa ditebak ketika si cewek membalas, “Aku sudah mengantuk?” Si cowok akan berpikir bahwa semua SMS-nya membosankan. Akan semakin menggila lagi, ketika SMS si cowok itu bahkan tidak dibalas sama sekali selama berhari-hari.

Alhasil, anda akan menjadi pribadi yang rapuh dan itu akan menjadi sangat menyebalkan ketika anda harus bersosialisasi. Emosi membawa pengaruh yang besar terhadap diri seorang manusia. Jadi, jika anda tidak menyadari atau bahkan memelihara kecanduan itu. Bisa dibayangkan dampaknya bagi jiwa, fisik, serta karir anda.

 

Jalan Keluar

Timbul pertanyaan, apakah kecanduan ini bisa disembuhkan? Dan jawabanya cukup menggembirakan. Ya! Kecanduan Emosi amatlah absurd dan sangat sulit untuk dianalisa secara akurat dalam waktu yang singkat, maka salah satu caranya adalah dengan mengetahui kecanduan jenis emosi apa yang dirasakan. Jika sudah diketahui maka perlu diteliti sedalam apa jurang kecanduan itu, seperti analogi tentang kedalaman dasar sebuah lubang atau celah, dua tahun perjalanan, enam bulan perjalanan, atau hanya satu bulan perjalanan. Dengan mengetahui sedalam apa lubang itu maka kita dapat memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan dari dasar untuk dapat sampai kembali ke permukaan. Dengan mengetahui hal-hal tersebut maka kemungkinan akan timbul optimisme untuk sembuh.

Setelah informasi dikumpulkan maka langkah pertama dalam terapi penyembuhan ini adalah anda harus mengambil tindakan untuk mengakhiri kecanduan tersebut,bersungguh-sunguhlah, karena keberhasilan hanya datang pada mereka yang mau bersungguh-sungguh.

Langkah kedua adalah menjauhkan diri dari segala pemicu kecanduan anda. Baik itu perasaan negatif yang dimaksud film-film melankolis, lagu-lagu patah hati dan sebagainya.

Ketiga adalah merubah kebiasaan kebiasaan negatif tersebut, dari yang penyedih dan penyendiri menjadi pribadi yang suka menghibur diri dan bergaul bersama teman-teman sebaya, seperjuangan, seangkatan ataupun sejenis.

 

*Artikel ini mengambil rujukan dari e-book “Buat Wanita Terpikat Pada Anda” dan artikel Ragam Definisi Kecanduan.

    • tipsbisnisuang
    • Juli 11th, 2011

    setiap manusia punya sisi terang da gelap.. dua-duanya butuh untuk diakui..jadi, butuh proses panjang untuk memahaminya.

    salam kenal..ada buku yang membahas masalah emosi dalam relasi pria dan wanita, silakan klik http://tipsbisnisuang.wordpress.com/buku-saya/rahasia-surat-hati/

  1. @tipsbisnisuang

    Prosesnya memang panjang mas, tapi jika kita sudah tahu/sudah pernah dengar…

    itu akan menghindarkan kita dari terlalu banyak melakukan try & error :D

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: