Rancangan Rumah Tangga Selama Masa Remaja

Rancangan Rumah Tangga Selama

Masa Remaja

 

Pernahkah anda melihat salah satu teman kuliah—yang sebaya—hamil atau bahkan sudah punya anak? Apa pendapat anda? Prasangka saya sontak bilang bahwa mereka menikah karena pergaulan bebas. Itu mungkin saja mendekati benar bila kasusnya mahasiswa. Namun, bagaimana dengan masyarakat miskin kota dan orang di desa? Saya bahkan tidak yakin mereka mengalami masa remaja. Karena yang sebenarnya terjadi adalah tiap anak dipandang sebagai manusia dewasa kecil di sana. Pertanyaan saya adalah apakah remaja benar memikirkan pernikahan secara abstrak dan konret?

 

Pengantar

            Saya hidup dalam keluarga biasa dan tumbuh secara normal layaknya individu pada umumnya. Saya tidak tinggal di zona perang, lingkungan penuh kriminal dan bromocora, atau rumah yang dekat dengan pusat kebisingan seperti pasar dan terminal. Namun ketika masuk kuliah serta memperdalam psikologi, saya sedikit demi sedikit menemukan banyak hal yang sulit dicerna dengan kata “Seharusnya”. Dalam lingkaran sosial saya pernah mendapati fenomena pernikahan dini dan cerita KDRT, alkoholik broken home, atau orang yang mengalami gangguan jiwa. Kesemua pengalaman tadi rupanya memiliki tautan erat dengan perilaku percintaan. Artikel ini akan berusaha membuka pikiran anda tentang Cinta dan idealisme pernikahan menurut remaja.

 

“Pria dan wanita tidak bebas mencintai secara baik sampai mereka selesai menganalisi diri sendiri seutuhnya dan menyingkap segala misteri mengenai percumbuan; dan ini bermakna peralihan besar teori filosofi berbasis antropologi yang dikenal luas serta praktek pencerahan.”

Aleister Crowley

 

Nilai dan Cita-Cita

            Jika ditanya seperti apa cowok idaman mereka, cewek akan menjawab, “Ganteng, tinggi, baik, pengertian, romantis, dan alim.” lalu, jika dicecar kriteria suami ideal mungkin akan ditanggapi normatif—semua ciri di atas plus kemampuan mengimami dan mapan. OK! Ganteng dan tinggi kasat mata. Bagaimana dengan sifat baik, pengertian, dan romantis yang agak abstrak dan terlalu luas serta relatif penilaianya? Bila pun benar, apakah hal itu akan (valid) konsisten lintas waktu dan situasi?

Semua kriteria di atas boleh jadi lebih cocok untuk cewek dari kalangan menengah. Sebab mereka punya akses pendidikan dan pergaulan yang lebih baik. Sehingga memiliki wawasan serta pilihan yang cenderung variatif. Bandingkan dengan cewek dari lapisan bawah yang selepas SMA harus membantu ibu di rumah atau kerja di minimarket! Bagi mereka inilah masa depan, tidak ada harapan yang muluk. Maka, kemungkinan besar kriteria pun akan dipangkas jadi cuma “Punya penghasilan tetap dan baik” saja.

Apalagi dengan tren wanita karir zaman sekarang. Menurut saya, makin berpendidikan perempuan harusnya kian sadarlah ia untuk diam di rumah supaya bisa menciptakan generasi penerus berkualitas. Bukanya justru pergi ke luar mencari uang yang tidak seberapa dan menenderkan pengasuhan pada baby sitter. Perempuan yang terjun dalam aktivitas ekonomi juga merupakan penyebab dari maraknya perceraian di negara maju. Pernikahan hanya didasari romansa maka bila bercerai pun tidak masalah. Karena wanita sudah mandiri dan tidak lagi harus bergantung pada suami.

Sama seperti kudapan siap saji, tren wanita karir pula sudah mulai ditinggalkan di barat. Ini terbukti dari suatu studi sosiolog dan psikolog Inggris mengenai impian wanita abad 21. Secara khusus survey nasional menemukan bahwa hampir 70% wanita Inggris ingin jadi ibu rumah tangga—ketimbang berkarir. Tentu saja kasusnya beda dengan Indonesia. Di sini orang masih beranggapan bahwa setara artinya sama. Kita ambil perumpamaan 1 Kg besi sama dengan 1 Kg emas. Bobot mereka memang sama tapi, apakah kualitasnya setara? Tugas Ayah dan Ibu memang berbeda namun jelas mutu dan manfaatnya setara.

Pembahasan tampaknya terlalu melebar ke mana-mana. Tapi seperti yang diketahui, pernikahan di Indonesia masih memiliki nilai sosial dan budaya yang kental. Hal itu pernah dibuktikan saat ada beberapa cewek menginap di rumah tepatnya di kamar saya. Karena salah seorang dari mereka memerlukan bantal untuk rebah sambil menonton TV. Saya pun berinisiatif untuk mengambilnya sendiri di kamar. Seorang di antara mereka tiba-tiba menyalak dan melarang—karena menurutnya tidak etis cowok masuk kamar cewek. Ya, untuk berbagi kamar dengan lawan jenis saja cewek singkuh apalagi berbagi ranjang.

Cewek adalah pihak yang mengalami cukup banyak kesulitan ketika harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan pasangan. Saya rasa mereka naïf dengan mengasosiasikan tampilan dan sifat dengan kebiasaan. Akibatnya, kadang suami menilai respon mereka tidak sama dengan ketika masih pacaran. Cowok sebagai makhluk yang kurang sensitif tentu saja bingung sekaligus kesal. Inilah kesulitan dalam komunikasi rumah tangga. Berbeda dengan pacaran di mana Cinta adalah perekat utamanya. Menikah bahkan cenderung melunturkan kemesraan era pacaran. Karena menikah memiliki masalah yang kompleks, mendalam, dan signifikan. Sehingga Cinta serta wajah rupawan saja tidak cukup untuk membuat anda bersabar mendengar ocehanya.

Satu hal yang terbukti ampuh meredakan konflik antara kenyataan dan harapan—dalam romansa—ialah toleransi. Jika dari kecil anak diajarkan untuk menerima suatu kurang dari semestinya. Maka, kelak ia akan menyadari bahwa dunia terlalu sulit untuk diotak-atik sesuai keinginan. Banyak hal yang ada jauh di luar kontrol kita—begitupun Cinta. Tak jarang nilai dan kriteria yang dicari dari pasangan di masa depan baru mampu terwujud apabila kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Keindahan pribadi dalam hubungan interpersonal juga bukan ditentukan kelihaian seseorang menempatkan diri sebagai korban. Tapi, lebih pada keahlian untuk bijaksana melihat suatu keadaan dalam gambaran besar secara rasional.

 

Sekilas dari Luar

            Umumnya jam tidur cowok tidak menentu. Ini karena mereka banyak begadang dan bermalas-malasan. Beda halnya dengan individu seumur namun sudah berkeluarga dan bekerja. Jangankan begadang, untuk tidur lewat jam sembilan saja sulit. Pulang kerja badan letih, pikiran stres, dan yang paling parah gaji sudah habis terpakai untuk kebutuhan rumah. Terlihat jelas bahwa orang yang telah mengenal tanggung jawab rupanya akan terkesan lebih dewasa dibanding teman sebanyanya.

Kepribadian adalah organisasi yang fleksibel dan terus diperbaharui sepanjang usia. Ini tidak berarti kepribadian bisa mudah diubah. Analogikan hal ini dengan antivirus di komputer anda! Demi menyesuaikan diri pada kebutuhan konsumen dan tantangan serta ancaman yang ada. Pengembang antivirus akan selalu menyediakan pembaruan berkala (update). Tampilan dan basis data antivirus tersebut jelas akan berubah termasuk beberapa sistem di dalamnya tapi tidak dengan nama, sifat dasar, serta jenis antivirusnya.

Begitu juga dengan kepribadian manusia ketika masuk dalam suatu lingkungan baru bernama rumah tangga. Identitas diri, tempramen, dan nama anda akan tetap namun kemampuan dalam menangani problema jelas meningkat. Bila disikapi dengan benar, masalah adalah salah satu cara untuk mengaktualisasi diri—layaknya update antivirus. Umpamakan manusia sebagai PC yang tidak pernah kontak dengan internet dan flash disk sejak 2011. Lalu tiba-tiba karena ia sekarang kuliah, mau tidak mau harus sering colok USB dan buka serta download dari internet. Apa yang terjadi? Tentu saja komputernya rentan rusak karena virus dan malware.

Itulah kejadian umum yang terjadi pada orang yang dari kecil hingga lulus S1 belum banyak bersentuhan dengan dinamika sosial yang ril. Sistem pertahanan dan konstruk mereka telat berkembang. Alhasil, banyak tantangan justru berbalik membahayakan diri mereka sendiri. Menikah muda menurut beberapa ahli dapat menyempurnakan aktualisasi diri bahkan cukup disarankan. Sayangnya tidak sedikit pasangan muda masih bergantung pada orang tua masing-masing dalam hal nafkah.

Pernikahan juga membuat jiwa manusia lebih tenteram. Seorang teman menuturkan bahwa salah satu manfaat menikah bagi cowok adalah memiliki orang yang mengurusi mereka. Memang kita tidak bisa lagi leluasa main ke sana-sini sampai lupa pulang. Tapi itu akan terbiasa dengan sendirinya. Bagi remaja, fakta seperti ini masih terlalu mengawang-awang dan terkesan berat. Karena menurut mereka, menikah adalah hal tertinggi dalam kehidupan seseorang—selain meraih kesuksesan.

 

Realisasi

            Seberapa dekat sebenarnya imajenasi remaja tentang rumah tangga dengan kenyataanya? Berikut uraianya:

 1.     Ekonomi

Uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang. Remaja (termasuk saya) berpikir bahwa untuk berkeluarga terlebih dahulu harus memiliki penghasilan. Itu adalah hal yang tidak sepenuhnya benar. Ini sudah dibuktikan sendiri oleh seorang keponakan yang beberapa tahun lebih muda dari saya. Mereka menikah saat sang suami belum punya pekerjaan. Tapi karena mental yang kadung terbentuk untuk bertanggung jawab, dapatlah ia pekerjaan sebagai pramuniaga di salah satu pasar swalayan. Sekarang mereka sudah memiliki satu anak dan jelas hal ini akan menjadi penyemangat.

Secara teoretis, kesejahteraan ditentukan oleh tingkat pendapatan per kapita. Saya punya pengalaman pribadi mengenai ini. Tetangga sebelah rumah saya dulu—sewaktu masih tinggal di asrama TNI—Ibu dan Bapaknya bekerja. Tentu pemasukan mereka jauh lebih besar ketimbang keluarga saya yang hanya mengandalkan pekerjaan Ayah. Tapi, lihat keadaanya sekarang! Ibu tetangga yang dulu badanya berisi sekarang kurus kering. Tragisnya sampai sekarang mereka belum punya rumah dan masih tinggal di asrama. Manajemen ketat ala Ibu saya terbukti membawa kami selamat dari berbagai krisis. Poinya adalah, sebesar apa pun atau sekecil apa pun penghasilan jika dikelola dengan benar akan mendatangkan manfaat baik.

 

2.     Romantisme

Jika saat pacaran berduaan di tempat gelap pihak ketiganya adalah setan. Maka setelah menikah, bila berduaan dan bercumbu akan dihitung sebagai ibadah dan dicatat langsung oleh malaikat. Kemesraan dalam rumah tangga tidak semenggebu orang pacaran karena memang umunya pasutri bertemu tiap hari. Cewek kadang egois menuntut kesempurnaan pasangan. Namun, tidak begitu dengan cowok. Mereka cenderung lebih toleran terhadap kekurangan pasangan. Itu mungkin karena cowok sadar bahwa dirinya juga tidak sempurna.

 

3.     Konflik

Selama pacaran yang diributkan hanya hal sepele dan pemicu bawah sadarnya adalah kebosanan serta kecemasan. Sanggup menanggulangi ini semua selama pacaran tidak menjamin anda kelak tangkas mengatasi konflik rumah tangga. Pacaran juga menurut banyak survey dan kesaksian bukanlah sarana latihan/simulasi berkeluarga. Konflik biasanya makin tajam setelah lahir anak pertama. Itu belum ditambah potensi gesekan dengan orang tua/mertua. Maka, bila remaja mengambil contoh kasus PDKT, kencan, dan galau sebagai tinjauan dilema perkawinan tentu saja akan telalu sempit lingkupnya.

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Masalah Remaja” dan artikel Capitalism and The Family: The Market Economy Is Responsible for Ever-Changing Family Structures, Ibu Rumah Tangga, Impian Zaman Ini, Dini dan Fenomenda di Kampungku, Pernikahan Dini: Tidak Diinginkan Tapi Kadang Diperlukan, Suka Duka Nikah Muda, serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Geldard, Kathryn., Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

About these ads
  1. Reblogged this on Afifah Afriana.

  2. woow brother inspiratif bngt ebook da

  3. Maacih gan.. :)

    • Monica
    • Desember 10th, 2012

    good article

  4. Thx mbak.. :)

    • Monica
    • Desember 12th, 2012

    sama-sama :)

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: