Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Pola Pikir Remaja

Pengaruh Tayangan Televisi

Terhadap Pola Pikir Remaja

 

            Hidup di zaman cyber memang penuh dengan tantangan—terutama bagi remaja. Gempuran gelombang kebudayaan asing yang masuk lewat TV dan internet. Menimbulkan banyak dampak spesifik terhadap perkembangan pola pikir. Hal ini bisa jelas terlihat pada tingkah laku, model pakaian, dan gaya hidup. Remaja—yang gelisah dan selalu menginginkan hasil instan—akan jauh lebih mudah menyerap nilai-nilai yang ia tonton. Remaja yang sedang berkembang tentunya akan terus menantang dan memperbaharui pola pikir mereka. Salah satu informasi yang bisa jadi rujukan adalah tayangan media massa.

 

Pengantar

            Televisi memiliki tiga fungsi: Informasi, hiburan, dan pendidikan. Namun, fungsi hiburanlah yang kini paling menonjol. Tayangan hiburan dibuat semudah mungkin untuk dipahami oleh masyarakat. Sehingga diharapkan jumlah pemirsa dan waktu yang dihabiskan untuk menonton acara tersebut meningkat. Ada tiga faktor yang dapat merubah seseorang: Perilaku, pikiran, dan emosi. Ketiga hal ini saling terkait satu sama lain. Sehingga jika salah satunya dirubah maka dua lainya pun akan ikut berubah. Tayangan TV amat memengaruhi emosi penontonya. Maka wajar bila masyarakat ikut meniru atau merubah perilaku. Artikel ini membahas perubahan pada remaja terkait tayangan televisi.

 

“Cinta adalah label bagi kegembiraan seksual pada anak muda, kebiasaan pada manusia paruh baya, dan ketergantungan untuk terus bersama pada orang tua.”

John Ciardi

 

Acara TV

            Televisi menawarkan bermacam tayangan pada para pemirsanya. Mulai dari acara anak-anak, berita, acara musik, komedi, infotainment, reality show, sinetron, siaran olah raga, ceramah agama, iklan, sampai film layar lebar. Semua punya tujuan masing-masing. Tapi satu kesamaan di antara mereka, yaitu berlomba merebut hati penonton. Salah satu ciri khas tayangan TV Indonesia adalah “Overekspos”. Seperti OVJ dan sinetron Putih Abu Abu di SCTV yang terus-menerus tayang selagi ratingnya tinggi. Hal ini juga pernah terjadi pada reality show Termehek Mehek.

            Sinetron dan beberapa reality show Indonesia memiliki cacat logis. Seperti Termehek Mehek yang jumlah hari dalam satu episode bisa lebih dari tujuh. Di mana jika dihitung kasar, dua episodenya seminggu akan sama dengan 14 hari. Lalu, jika jumlah hari dalam setahun (365) dibagi 14. Maka akan didapat angka 26 minggu—yang sama dengan 6,5 bulan. Pertanyaanya, kapan mereka shooting? Acara ini makin kelihatan janggal dengan tidak terteranya tanggal kejadian. Melainkan hanya menuliskan hari 1, 2, 3, dst.

Banyaknya pengakuan memalukan—terang-terangan—para klien dan targetnya menambah konyol acara ini. Ada yang mengaku hamil, punya istri lagi, bangga jadi anak durhaka di depan kamera, ketahuan gay—tanpa mukanya disensor, dll. Tidak mungkin orang tidak menuntut jika aibnya diumbar. Keganjilan tidak berhenti sampai di situ. Bila dicermati maka, kita akan sadar bahwa volume suara seseorang dalam acara ini saat jauh dan dekat sama/konsisten. Ini tidak mungkin terjadi bila mereka memang langsung menangkap suara dari sumbernya. Kecuali kalau mereka sudah memasang microphone sebelumnya.

Lanjut ke reality show kedua Marry Me yang juga tidak mendidik. Jika penekananya pada kata menikah (Marry). Kenapa justru yang jadi tontonan adalah cara melamarnya? Di sini tidak ditayangkan pandangan dari sudut kedua pihak orang tua. Tidak juga ditunjukan tata cara bicara pada wali si perempuan. Tidak ada konseling pernikahan. Tidak ada musyawarah keluarga. Juga tidak diketahui kapan pastinya mereka akan menikah. Pernikahan dalam budaya timur merupakan urusan keluarga (family matter) dan bukan urusan pribadi seperti di barat.

Tontonan ini malah lebih seperti remake reality show Katakan Cinta. Dalam acara ini juga terdapat beberapa kejanggalan. Seperti saat kru sudah tahu bahwa si cewek sedang jalan dengan cowok lain. Tapi, mereka tidak menginformasikanya pada si cowok. Alhasil keributan kecil terjadi ketika ia sampai di sana. Tidak masuk akal juga jika si cewek tidak menuntut Marry Me karena perselingkuhanya diliput. Apakah ia tidak malu pada keluarga atau tetangganya?

Sinetron Indonesia dari masa ke masa selalu menyuguhkan tokoh super baik yang tertindas beserta bumbu kaya-miskinya. Pola ini terus diulang dan tetap sukses sampai sekarang. Ini sudah jadi bagian kebudayaan kita bangsa Indonesia. Seperti yang ditulis Prof. Ng Aik Kwang dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners”. Orang Asia (termasuk Indonesia) lebih menghargai banyaknya kekayaan ketimbang cara mendapatkanya.

Tidak heran bila banyak masyarakat kita menyukai cerita-cerita orang miskin mendadak jutawan—karena dapat harta karun atau menikah dengan orang kaya. Sinetron juga identik dengan gaya hidup konsumtif dan perilaku bullying. Sinetron remaja Putih Abu Abu sempat mengernyitkan dahi saya. Acara yang penuh dengan romantisme yang agak menjurus. Mendadak berubah jadi tayangan relijius di bulan puasa. Di mana konsistensinya?

Berbeda jauh dengan drama seri Korea. Sekalipun mereka adalah negara berteknologi tinggi. Tapi, dramanya tidak sama sekali menonjolkan pola hidup konsumtif dan gila gadget. Sebaliknya, cerita Korea penuh dengan pesan produktifitas. Semua orang berkerja keras, ada yang jadi editor majalah, koki, pembuat roti, sekretaris, pramusaji, penjaga kedai sayuran, loper koran, atau fotografer. Alur cerita dinamis yang diimbuhi perwatakan yang kuat. Sudah cukup membuat mereka mampu menguras emosi penontonya. Drama Indonesia sebenarnya punya latar belakang pekerjaan juga. Tapi itu cuma di awal—sebagai perkenalan—selanjutnya konfliklah yang lebih ditonjolkan.

 

Dunia Nyata

            Masyarakat tentu sudah tahu bahwa sinetron hanya fiksi belaka. Tapi, apa yang tidak disadari adalah efek imitasi/peniruan yang bisa ditimbulkanya. Sekalipun memang kepribadian tiap individu berbeda. Tapi, pada kenyataanya reaksi yang ditimbulkan media cenderung seragam. Serupa dengan sinetron yang mempertontonkan murid SMA yang pergi ke sekolah dengan mobil mewah. Beberapa kakak kelas saya sewaktu SMA pun melakukanya. Ada yang bawa BMW merah, putih, Mitsubishi Lancer Evolution, Nissan Terrano, termasuk juga beberapa jenis sedan lainya.

Saya tidak tahu tujuan pasti mereka membawa mobil mewah ke sekolah. Namun selain mobil mewah, fenomena lain yang persis sama dengan yang ada di sinetron adalah westernisasi. Di mana hal berbau barat seperti bahasa, kuliner, dan pakainya jadi tren di kalangan remaja. Sinetron juga memberi model di mana setiap pemainya punya kelebihan tertentu. Ada yang ganteng blasteran, jago olah raga, pintar bermusik, nilai akademisnya tinggi, atau disukai banyak wanita.

Bandingkan dengan dunia nyata! Pernahkah anda merasa tidak mungkin jadi MVP basket, jago break dance, punya nilai tinggi, atau dikerumuni cewek cantik? Desakan yang makin besar pada anak untuk mengungguli teman sebayanya, menyulut eskalasi kasus bullying. Murid yang merasa tidak punya kelebihan berusaha mendominasi anak lain lewat kekerasan. Mereka memukuli para kutu buku, memalak murid-murid kaya, mengeroyok jagoan basket, dsbg.

 

Percobaan Semasa Sekolah

            Perilaku khas remaja ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal. Emosi tinggi, dorongan seksual yang kuat, tuntutan untuk memenuhi tugas perkembangan, kebutuhan untuk diterima teman sebaya, pengaruh pergaulan, dan hasil pola asuhan. Semua berpadu membentuk pribadi dan pola pikir remaja. Pada awalnya anak muda memandang dunia sesuai kebutuhan dan keinginanya. Lalu sejalan dengan kedewasaan, persepsi itu makin realistis.

Pola asuhan adalah modal awal individu untuk menapaki dunia. Orang yang di masa kecilnya selalu dimanjakan, akan sering frustasi karena ternyata dunia tidak bisa dirubah seenaknya. Contohnya seperti teman SMA saya sudah tiga kali pindah sekolah. Dia tidak pindah karena ada kasus. Tapi, karena ingin mencari tempat di mana ia bebas berbuat sesuka hati. Ternyata, tidak ada satupun tempat yang tidak punya aturan—seperti yang ia harapkan.

Pada masa remaja, individu menolak campur tangan orang lain dalam penyelsaian masalah. Mereka hanya butuh masukan—seperti yang dilakukan teman sebaya—dan bukan intervensi. Anak muda tidak memiliki pengalaman dalam menyelsaikan masalah. Sebab sewaktu kecil semua masalah mereka diatasi oleh orang tua. Remaja cenderung mengandalkan emosi yang labil dan pendapat lingkungan dalam menyelsaikan masalah.

Anak kecil akan berani mengeksplorasi sekitar hanya bila diawasi orang tua. Sering terlihat pada anak yang dibawa orang tuanya ke suatu tempat baru. Mereka hanya berani main di sekitar atau tidak jauh dari pengawasnya. Inilah yang (kemungkinan) menyebabkan banyak ABG membawa teman saat mereka pacaran. Karena secara tidak sadar sebenarnya mereka masih bergantung pada orang tua. Tapi, tidak ingin melibatkan mereka karena takut diintervensi.

Menurut pengamatan saya terdapat perbedaan tingkah laku antara cewek yang sudah pacaran dan yang belum. Cewek yang sudah pacaran cenderung lebih menjaga penampilan dan seperti selalu melakukan seleksi terhadap cowok. Cewek yang sudah pernah pacaran juga terbiasa untuk memberikan tanda pada cowok yang ia suka. Sementara cewek yang belum pernah pacaran cenderung lebih pasif dan sepenuhnya menunggu tanda dari cowok.

Pernah dibuktikan saat saya coba minta nomor cewek yang masih lugu. Karena kebetulan setelah itu HP saya dipinjam teman. Ia langsung saja merebutnya dan menghapus nomor tersebut—tanpa sepengetahuan saya. Saat ditanya, “Kenapa nomornya dihapus?” ia jawab “Tidak tahu”. Semenjak itulah ia mulai terdengar punya pacar dan terus menjaga penampilan. Saya jadi menyadari bahwa cewek membutuhkan pengakuan sosial sebelum percaya diri memulai pacaran.

Sinetron menunjukan bahwa punya pacar itu gampang. Tiap hari bisa jalan, sering ketemu di sekolah, obrolanya hidup, dan kisahnya pun mengasyikan. Bandingkan dengan dunia nyata! Ketimbang jalan tiap malam dan ketemu tiap hari. Kita lebih banyak berkubang di SMS dan telepon. Tapi jika memang sudah tahu begitu, kenapa cara pacaran masih saja meniru sinetron? Ada beberapa kemungkinan: (1) Kurangnya pengetahuan tentang lawan jenis sudah dianggap tercukupi oleh tayangan sinetron. Ini dikuatkan oleh penelitian yang mengatakan bahwa televisi menguasai 94% masuknya informasi ke otak. Secara umum manusia akan ingat 85% apa yang ditonton setelah tiga jam dan seterusnya jadi 65% setelah tiga hari kemudian. Lalu bagaimana jika sinetron tayang tiap hari? Berapa banyak hal yang diingat oleh masyarakat? Ditambah lagi banyak sinetron yang tidak melalui sensor dengan alasan kejar tayang; (2) Karena cowok tidak mau dicap pengecut. Butuh keberanian untuk mendekati cewek apalagi menjadikanya pacar. Namun, desakan tadi tidak diikuti oleh pengetahuan yang memadai. Ketimbang tanya teman dan ditertawakan. Cowok lebih sudi meniru sinetron.

 

Isi Kepala Anak Muda

Bayangkan sekarang rumah anda dan seisinya hancur terbawa banjir, yang tersisa hanya baju yang melekat di badan. Apa yang pertama kali anda cari? Cewek? Secara tidak sadar sebenarnya remaja selalu berpikir bahwa mereka sudah punya segalanya: rumah, kendaraan, HP, uang jajan, dst. Apa yang belum mereka punya? Pasti tidak akan dijawab “Masa depan”. Karena filsafatnya yang berbunyi “Hari ini untuk hari ini”. Maka, apapun yang bersifat kesenangan sesaat akan senantiasa jadi prioritas.

Fenomena ini bukanya diredam malah dikuatkan oleh tayangan media. Albert Bandura menyebut efek ini sebagai Inhibitory dan Disinhibitory Effects. Di mana Inhibitory berarti perilaku tertentu yang dinilai memalukan sehingga enggan diulangi oleh yang melihatnya. Sedangkan Disinhibitory merupakan efek yang menyebabkan orang tidak malu melakukan perbuatan yang dilihatnya. Sinetron menggambarkan keluar malam dengan cewek sebagai hal romantis—dan tidak melanggar adat. Maka, tentu saja perlahan akan terjadi pergeseran norma di masyarakat. Dari yang tadinya hanya boleh mengobrol di teras. Menjadi boleh keluar malam asalkan pulang sebelum jam sembilan.

Sinetron juga mengampanyekan bahwa hidup susah itu memalukan. Akibatnya anak muda pun terdorong untuk bermewah-mewahan. Ada yang coba jadi sosialita, menuntut minta dibelikan motor sport, selalu gonta-ganti gadget, serta ada pula yang gila barang bermerk. Semua dilakukan demi status sosial. Mereka tidak sadar bahwa selepas SMA teman-teman mereka akan bubar. Semua citra yang dibangun akan hilang. Inilah yang tidak dijelaskan dalam episode sinetron.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “Kebiasaan Menonton Sinetron Remaja Di Televisi Dengan Perilaku Seksual Remaja” dan artikel Teori Belajar Bandura, Teori Peneguhan Imitasi, Teori Peniruan atau Imitasi, Teori Perbedaan Individual, Mengapa Orang Asia Kurang Kreatif Ketimbang Orang Barat, serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Geldard, Kathryn., Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Faridl, Miftah (1986). Keluarga Bahagia: Peraturan Menikah dan Pembinaan Keluarga. Bandung: Penerbit Pustaka

About these ads
  1. nice post.
    saya setuju dengan kata penutupnya, selepas sma saya merasa menjadi individu yg berbeda. begitu pula dengan teman-teman sma yg lain, saya merasa mereka telah menjadi sosok yg berbeda karena menyesuaikan dengan bidang yg mereka tempuh setelahnya.
    people life, people die, and people change.

  2. Yup gan..
    ABG sering gegabah ngambil keputusan cuma karena pengaruh teman dan tontonan. Musti ada banyak penyuluhan soal kaya ginian di sekolah Indonesia

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: