Sejarah Romantisme

Sejarah Romantisme

 

            Oh ya, kita sering mendengar kata “Romantis” setiap hari. Romantisme umumnya diasosisasikan dengan kepedulian, pujian manis, atau hadiah kejutan. Bagi cowok, romantisme lebih kepada ritual ketimbang stimulan perasaan. Padahal romansa adalah suatu gaya hidup yang mencakup keintiman, gairah, dan Cinta. Romantisme menyatu bersama kepribadian para pria terhormat. Cewek menganggap cowok romantis pasti siap memenuhi semua kebutuhan psikologisnya.

 

Pengantar

            Saya pernah bertanya pada seorang cewek apa ia suka dengan cowok romantis atau tidak. Ia menjawab tidak. Lalu saya bertanya lagi, “Romantis itu yang seperti apa memang?” menurutnya romantis itu artinya sering SMS, telpon, kirim puisi-puisi Cinta, atau kata-kata gombal. Saya mengangguk pelan. Tapi, hari ini saya meragukanya. Saya mencari tahu asal-usulnya dan jadilah artikel ini.

 

“Anugerah terbesar Cinta adalah kemampuanya untuk menyucikan apapun yang ia sentuh.”

Barbara De Angelis

 

Romantisme Feodal

Setelah keruntuhan kekaisaran Romawi Barat di akhir tahun 400-an. Terjadi kekacauan besar yang disebut sebagai abad kegelapan atau abad pertengahan (abad III-XIII). Suku-suku Barbar yang tadinya berada di bawah kekuasaan Romawi mulai berperang satu sama lain—memperebutkan wilayah dan kekuasaan. Kemudian beberapa dari mereka yang menang mendirikan kerajaan. Komandan militer mereka—tentu saja—diangkat menjadi raja.

Untuk menghargai jasa dari para jenderal yang dulu pernah membantu sang raja—memenangkan perang. Diberilah hak sementara atas sebidang tanah yang sekaligus menandai penobatan mereka sebagai bangsawan. Tuan tanah ini pada prakteknya juga memiliki beberapa bawahan bangsawan rendah. Para bangsawan rendah inilah yang disebut sebagai kesatria (knight).

Seseorang tidak bisa begitu saja jadi kesatria. Pertama ia harus menjadi pesuruh dalam rumah tangga seorang tuan tanah. Lambat laun meningkat jadi pengawal tuanya yang juga bertugas merawat kuda dan pakai-pakaianya. Baru setelah itu ia boleh mengikuti tes kemahiran menggunakan senjata dan berkelahi. Jika lulus, ia bisa diterima dalam jajaran kesatria.

Kesatria identik dengan prajurit berkuda—karena kuda adalah lambang aristokratik (kebangsawanan). Kesatria amat dibutuhkan oleh tuan tanah—dan kerajaan—untuk menjaga kawasanya dari rongrongan bangsa Barbar. Guna menciptakan kesolidan prajurit maka dibuatlah suatu kode etik. Di sana berisi beberapa hal seperti sumpah untuk setia mengabdi pada kerajaan, sumpah untuk bertempur hingga darah penghabisan, domnei, dan ketaatan pada agama yang dipeluk.

Domnei atau donnoi adalah pengabdian seorang kesatria pada bangsawan perempuanya. Dalam beberapa kesempatan, kesatria juga ditugaskan pada bangsawan perempuan yang sudah dipilihkan—kerajaan. Sekalipun majikanya adalah seorang yang membuatnya tergila-gila. Kesatria harus tetap menjaga profesionalisme. Mereka dididik untuk melayani dan mengabdi pada tuanya dengan kesetiaan, serta kejernihan hati, dan pikiran. Sebagaimana kode etik kavaleri (chivalry code).

Inilah cikal bakal lahirnya dongeng-dongeng romantis yang berasal dari kisah petualangan para kesatria. Ide romantisme sendiri terarsipkan berkat peran para Troubadour (grup musik abad pertengahan) yang menulis mereka ke dalam prosa dan lirik lagu. Romantisme tidak bercampur dengan ide-ide Cinta hingga abad ketujuh belas. Romantisme merupakan ungkapan kedekatan emosional, persahabatan, pengabdian, dan kesetiaan. Sikap romantis juga ditunjukan lewat sikap sopan dan perhatian pada wanita—terlepas dari segala atribut sosialnya.

Seorang kesatria hanya akan bersikap kasar dan brutal pada musuh. Namun lembut, santun, dan relijius terhadap tuanya. Kesatria juga harus mendahulukan kepentingan sang majikan perempuan (ladies first). Ini dilakukan tulus dengan penuh kesadaran dan inisiatif. Romantisme tidak sama sekali mengandung nilai-nilai cabul—seperti kontak fisik dsbg. Kesalahpahaman ini, mulai, terjadi ketika De Amore ditulis pada abad kedua belas. Romantisme diartikan sebagai hubungan luar nikah yang diperbolehkan.

 

Feodal ke Kapitalis

Bersamaan dengan revolusi industri I dan II (1760-1850). Terjadi pergeseran besar dalam struktur sosial, ekonomi, dan politik keluarga. Masyarakat yang tadinya agraris kini berubah jadi industrialis. Dari penggarap lahan jadi buruh pabrik. Keuangan keluarga tidak lagi bergantung pada hasil garapan lahan dan barang produksi rumahan, melainkan dari gaji bulanan.

Dahulu anak dipandang sebagai miniatur orang dewasa. Karena sedari kecil mereka sudah dilibatkan dalam kegiatan mencari nafkah. Tidak ada pemisahan antara tugas orang dewasa dan anak-anak. Anak sulung akan membantu keluarga di ladang. Sedangkan anak nomor dua mengasuh adik-adiknya. Lekas setelah anak kedua cukup besar, ia pun akan ikut berladang. Tugas mengasuh akan digantikan anak ketiga dan begitu seterusnya.

Jumlah anak yang besar juga memungkinkan suatu rumah tangga untuk menggarap lahan dan menjalankan produksi rumahan (i. e membuat kue untuk dijual) sekaligus. Dengan terbatasnya sumber pendapatan keluarga. Anak dianggap sebagai jaminan hari tua. Pada awal masa revolusi industri buruh anak-anak berbagi tugas—yang sama—dengan orang dewasa. Lalu, kemudian pasar juga menyerap perempuan ke dalam industri.

Lambat laun, seiring berkembangnya pasar, besaran gaji pun naik. Para suami mulai menarik anak dan istri mereka dari kegiatan ekonomi. Peralihan dari masyarakat agraris menuju industrial berdampak pada makin sedikitnya anak—yang secara ekonomi dibutuhkan—oleh keluarga. Peran anak dalam keluarga pun berubah, dari produsen jadi konsumen. Dengan demikian bertambah pula biaya dan turunlah keuntungan (ekonomi) memiliki anak.

Revolusi industri juga mendorong permintaan tenaga kerja spesialis (i. e insinyur, montir, atau tenaga pemasaran). Ini membuat kebutuhan akan pendidikan terus tumbuh. Untuk pertama kalinya pemisahan tugas dan kewajiban antara anak dan orang dewasa terjadi. Orang tua cari duit, anak tugasnya belajar. Lewat pendidikan, diharapkan gaji yang bisa didapatkan seorang anak (kelak) akan bertambah. Membesarkan anak bukan lagi didasarkan pada tuntutan jaminan hari tua. Tapi, lebih pada kepuasaan psikologis.

Setelah perang dunia II, konsep tentang keluarga tradisional mulai populer di Amerika. Suami pencari nafkah (male-breadwinner) dan ibu keluarga (female-homemaker) menjadi umum. Bentuk keluarga ini merupakan aspirasi dari jutaan orang karena memiliki fungsi yang tinggi. Tapi, wanita ternyata merasa tidak sebahagia partner mereka. Ini yang membuat mereka masuk ke dunia ketenagakerjaan pada 1960-an. Tren ini rupanya berlanjut hingga sekarang.

Bersamaan dengan terjunya wanita ke dalam dunia kerja laki-laki, ketidaksetaraan terlihat makin kentara. Ini yang memicu menggelegaknya gelombang perubahan. Pertumbuhan ekonomi selama beberapa dekade terakhir juga membawa dua konsekuensi penting: 1. Biaya pengganti buruh rumah tangga menurun, 2. Gaji wanita dan laki-laki terus meningkat. Kombinasinya keduanya menyusutkan jumlah penganut “Keluarga tradisional”.

Pekerjaan rumah tangga tidak lagi harus melibatkan ibu. Karena sudah ada mie instan, makanan siap saji, mesin cuci, penanak nasi, dan alat rumah tangga lain. Semua jadi makin mudah dan murah, sehingga keluarga bisa lebih sering liburan, menyekolahkan anak ke tempat mahal, atau bahkan menyewa pembantu. Mode pengasuhan anak sekarang diserahkan pada Babysitter atau keluarga batih (nenek, tante, atau om). Setelah masuk usia sekolah anak juga disibukan dengan banyak pelajaran tambahan.

Semua dilakukan guna menjamin keberhasilan si anak di bidang akademis. Sehingga masa depan yang diidamkan tercapai. Namun, keluarga modern ternyata terlalu terobsesi akan hal ini. Orang tua mulai terlalu mendramatisir kerapuhan jiwa anak dan makin memproteksi mereka dari kegagalan. Akibatnya anak jadi sulit mandiri dalam menghadapi rintangan.

 

Remaja-Remaja Labil

            Setelah masa industri mulailah dikenal adanya konsep remaja. Dahulu hanya ada anak-anak dan dewasa dalam istilah perkembangan. Remaja adalah proses peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Anak-anak yang dulu kerjanya hanya main. Kini disibukan dengan perubahan fisik, psikologis, dan seksual.

Remaja mulai mengembangkan identitas pribadi dan individuasi—termasuk percintaan. Waktu kini lebih banyak dihabiskan untuk teman sebaya. Remaja berhadapan dengan banyak tuntutan sosial, seperti: Mencapai kemandirian emosional dari orang tua, mapan dalam hal ekonomi, mempersiapkan diri untuk menikah, menerima peran seksual masing-masing, dan mempersiapkan perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial.

Tuntutan sosial untuk mempersiapkan diri menikah, diwujudkan remaja dalam bentuk pacaran. Hampir semua tata-acaranya sama dengan pernikahan. Cewek datang dengan segala kebutuhan yang sudah dipenuhi orang tuanya. Sementara tuntutan sosial cowok sebagai pencari nafkah (male-breadwinner). Berusaha dibuktikan dengan kemampuanya untuk menanggung semua biaya kencan—yang diumpamakan sebagai biaya rumah tangga.

Pergeseran fungsi keluarga—dari institusi ekonomi dan politik—menjadi tempat pemenuhan kebutuhan psikologis. Telah membawa idealisme baru dalam memilih pasangan. Pernikahan tidak lagi diatur atas dasar kesintasan dan keningratan—melainkan Cinta dan romantisme. Kapitalisme juga menarik wanita ke dalamnya. Wanita sekarang banyak yang mandiri dan tidak lagi bergantung pada suami. Maka, perceraian yang dulunya berarti mati kelaparan. Telah berubah jadi kesedihan karena berakhirnya romansa.

Pernikahan yang dilandasi romantisme sangat rentan akan perceraian. Ini terlihat dari tren statistik cerai di Indonesia dari 2005-2011 yang mengalami kenaikan rata-rata 70% per tahun. Pada 2005 hanya ada 55. 509 perceraian sedangkan, 2011 berlipat menjadi 320.000 perkara. Angka perceraian 80% disumbang oleh pasangan muda. Dengan 70% gugatan diajukan oleh istri yang dilatarbelakangi bermacam alasan.

Dari 285.184 perceraian pada 2010, 91.841 (32%) dipicu oleh ketidakharmonisan rumah tangga (perselingkuhan, komunikasi, seks, dsbg), 78.407 (27%) karena ketidakbertanggungjawaban, dan 67.891 (24%) karena masalah ekonomi. Dengan keberhasilan pacaran, remaja menganggap dirinya cukup siap untuk menikah. Deskripsi ideal seorang kesatria: Sopan, bisa diandalkan, relijius, dan setia. Sama sekali sulit dibuktikan selama pacaran.

Percintaan di dunia nyata jauh berbeda dengan cerita novel. Maka, satu-satunya cara untuk meyakinkan bahwa itu seperti yang diharapkan. Remaja mengembangkan banyak sekali mekanisme pertahanan (defense mechanism). Cewek yang sering pacaran selama masa remaja awal. Cenderung memiliki pencapaian masa depan yang rendah dan mengalami banyak stres.

Romantisme abad pertengahan terlalu muluk menggambarkan sosok cowok idaman. Kenyataanya, cowok akan memperlakukan cewek bagai putri hanya ketika sedang PDKT, baru jadian, atau takut kehilangan—itu mungkin karena cowok jarang baca novel. Pada abad pertengahan, kesatria terikat dengan domnei. Begitu juga dengan bangsawan lainya. Romantisme abad pertengahan menyublimasi hasrat seksual namun, romantisme modern justru sebaliknya.

Konsep tentang Cinta romantis konon berakar dari budaya Perancis pada akhir abad sembilan belas. Romansa yang tadinya hanya berupa narasi menjelma ke dalam kehidupan individu. Kemunculan Cinta romantis kurang lebih bersamaan dengan berkembangnya sastra novel. Sejak saat itulah, romantisme diasosiasikan dengan kebebasan. Dalam perkembanganya, ide romantisme membentuk ikatan kuat antara kebebasan dan realisasi konsep diri.

Remaja pada era agraris dan awal revolusi industri, mempunyai tanggung jawab yang setara orang dewasa: Berladang, mengurus adik, berdagang, dll. Ini yang memperkenalkan mereka pada tanggung jawab sedini mungkin. Berbeda dengan remaja di era modern yang baru akan menghadapi dunia nyata lekas setelah lulus sekolah/kuliah. Mereka belum terbiasa dengan dunia yang penuh konsekuensi—termasuk percintaan.

Remaja sulit memikirkan konsekuensi. Dikarenakan—sirkuit emosi mereka—amigdala yang belum secara sempurna terhubung dengan—pusat pertimbangan baik—pre frontal cortex (PFC). Segala tindakan remaja akan bermotif emosi sesaat (impulsif). Tapi, manusia bukan hanya makhluk yang dikendalikan oleh faktor biologis.

Manusia juga dipengaruhi oleh lingkungan. Remaja yang punya penghargaan diri tinggi tidak mudah dipengaruhi tekanan teman sebaya. Kontak dengan teman sebaya makin intens dan ekstensif akhir-akhir ini. Keseharian di sekolah yang dilanjutkan dengan pelajaran tambahan. Telah membuat interaksi orang tua-anak berkurang ketimbang dengan teman sebaya. Tentu saja, nilai yang akan remaja serap adalah nilai-nilai dari teman sebaya.

Mereka akan melakukan beberapa hal—yang bahkan tidak disukai—sebagai konsekuensi penerimaan teman sebaya. Seperti: Ikut main bilyard, futsal, bolos, dsbg. Kontrol orang tua adalah konflik utama yang berlawanan dengan konsep romantisme. Orang tua membekali anak-anaknya HP untuk memudahkan kontrol. Tapi seperti bumerang, alat ini justru membuat remaja makin bebas. Mereka bisa mengkoordinir kencan dengan lebih efektif dan membentuk kelekatan (attachment) dengan sang pacar. Walaupun romantisme menjurus pada individualisme. Tetap saja kita harus melindungi remaja-remaja kita dari kesalahan dalam menelaah konsep romantisme.

 

*Artikel ini mengutip rujukan dari e-book “The Development of Romantic Relationships and Adaptations in the System of Peer Relationships” dan artikel Peradaban dan Masyarakat Feodal Eropa Abad Pertengahan, Romance (Love), Domnei, Revolusi Industri, Capitalism and The Family: The Market Economy Is Responsible for Ever-Changing Family Structures, Menyelamatkan Keluarga Indonesia, Alasan Cewek Menyukai Keromantisan, serta banyak artikel lainya.

 

Daftar Pustaka:

Sarwono, Sarlito (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Brizendine, Louann (2010). The Male Brain. Jakarta: Ufuk Publishing.

Geldard, Kathryn., Geldard, David (2011). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kerrigan, Michael (2011). Sejarah Gelap Para Kaisar Romawi. Jakarta: Elex Media Komputindo.

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 88 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: